Banner Event

Antara Kata-kata dan Maki-maki

by, Effendy Asmara Zola

TIGA nama yang digadang-gadang berpeluang memimpin bangsa ini jadi diperbincangkan, ketiganya putera terbaik bangsa tentu saja.

Paling ramai jadi buah bibir adalah sosok yang satu ini,  siapa lagi kalau bukan Anies Rasyid Baswedan mantan Gubernur DKI dan mantan Mendikbud.

Cucu pahlawan nasional ini, tahu tak tahu diam-diam digaungkan orang banyak, untuk membuka kran kejujuran di Pilpres 2024.

Relawan pendukung pun tumbuh dan berkembang di sana-sini, solid lilahi taala tanpa bayaran. Nama Anies pun melejit tak terbendung, meninggalkan yang lain dalam berbagai survai.

Sosok Anies Baswedan melambung namanya di tanah air, sepanjang masa memimpin ibukota republik ini sebagai Gubernur DKI Jakarta, 2017-2022.

Adalah langkah awal Pemprov DKI Jakarta berani mengambil langkah tegas melakukan penutupan terhadap hotel dan griya pijat Alexis yang berazet miliyaran rupiah, di Jakarta Utara, pada Oktober 2017. Toh tak menggoyang APBD DKI.

Warga kota pun dibuat terkagum-kagum atas sikapnya yang tegas dan berani menutup koloni maksiat terbesar di Jakarta itu. Kala itu Anies Baswedan berpasangan dengan Sandiaga Uno yang berbelok di persimpangan jalan, nyapres dan gagal bersama Prabowo di Pilpres 2019.

Dalam pada itu, Anies menepati sumpah jabatannya jalan terus satu priode memimpin pembangunan DKI Jakarta bersama taysennya yang baru, Ahmad Riza Patria.

Anies melanjutkan gebrakannya, antara lain membangun kembali 3 kampung yang sebelumnya digusur Ahok; Kampung Susun Kunir Pinagsia, Kampung Susun Cakung, Kampung Susun Akuarium di Jakarta Utara.

Pembangunan terus berlanjut, tentu tak luput masalah banjir dan transportasi, serta penataan kota secara global termasuk pembangunan JIS yang sudah dijajal pembalap kelas dunia dan lain-lain, hingga akhir masa jabatannya, Oktober 2022.

Anies bukan intelektual kelas ecek-ecek, dunia sudah mengakui kridibitas dan kapabelitas dirinya sekelas akademisi Oxford dengan berbagai penghargaan yang diberikan kepadanya and so on and so on.

Namun begitu,, Anies tak putus dari gangguan kaum hypokrit sebangsa buzzerRP, disodok sana sini, termasuk oleh lembaga terhormat anti rasuah, Komisi Pemberantasan Korupsi alias KPK.  Dicari-cari kesalahannya bak mencari jarum di dalam jerami.

Penyidik KPK sendiri sudah menyampaikan tak ada temuan dalam kasus Formula E yang dapat menersangkakan mantan gubernur DKI Jakarta itu. Sampai-sampai ada komponen pimpinan KPK yang mengurut dada mengundurkan diri. Duuh, jangan sampai KPK beralih makna menjadi Komisi Pencari-cari Kesalahan.

Padahal Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) sudah menyatakan laporan keuangan Pemprov DKI Jakarta dibawah Gubernur Anies hasilnya WTP, wajar tanpa pengecualian.

Usai sidang paripurna DPRD DKI Jakarta, Selasa (31 Mei 2022), Anies Baswedan berharap, penghargaan Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) Pemprov DKI Jakarta 5 kali berturut-turut bisa menjadi sebuah kebiasaan dan budaya untuk tahun-tahun selanjutnya.

Raihan opini WTP juga menjadi indikator Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta dapat dimaksimalkan untuk pembangunan fisik dan nonfisik yang dirasakan manfaatnya oleh warga.

Beda dengan DKI Jakarta semasa Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok,  menilai investigasi yang dilakukan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tidak dapat dipercaya menyebut kerugian negara capai Rp.191 milliyar. Ahok pun ngamuk-ngamuk, lecehkan BPK ngaco. Diucapkannya di gedung KPK RI, Selasa (12 April 2016), terkait dugaan korupsi pada lahan RS Sumber Waras. Akan tetap tindak lanjutnya pun tenggelam antah berantah.

Soal ngamuk dan maki-maki menjadi polusi jagat raya DKI Jakarta dan jagat maya RI selama Ahok berkuasa. Kata-kata ‘lu’ dan ‘gua’ jadi makanannya sehari-hari.”

Masih ingat kala Ahok buat aturan penyembelihan hewan kurban mesti di RPH (rumah pemotongan hewan) yang dikelola pihak swasta? Dengan bahasa yang kasar dan menyinggung terkait syariat, Ahok menyebut kebiasaan ummat siapkan hewan kurban dan pemotongan hewan kurban di tempat-tempat terbuka menimbulkan penyakit.

Menimbulkan penyakit, apa menimbulkan keuntungan berkolaborasi dengan pihak swasta itu?

Kesongongan lain kala Ahok akan mengeluarkan aturan bagi anak-anak sekolah SMP/SLTA di Jakarta tak boleh pakai jilbab, tapi banyak dapat perlawanan.

Masih terngiang di telinga dari sebuah video firal, “Jilbab anak-anak sekolah tak lebih baik dari serbet di dapur rumahnya”, ujar Ahok.

Gaya vulgar dari tipologi seorang Ahok antara lain lagi, tatkala tak mengizinkan acara shalawat dan di zikir dilapangan Monas, alasannya bikin rusak lingkungan. Diarahkannya ke Masjid Istiglal, ini baik-baik saja, tapi menjadi tak baik ketika dia membuntuti dengan ujaran kasar; “Memang doa di masjid tidak didengar Tuhan?” sergahnya.

Dilarangnya pula malam takbiran keliling menyambut Idul Fitri dan Idul Adha, dengan dalih bikin macet lalu lintas.     

Ada pula maki-maki terhadap seorang ibu yang melapor di Balai Kota tak paham ikhwal dana BOS, “Ibu jadi maling kalau gitu”, ujarnya tanpa menjaga perasaan.

Akhirnya Ahok pun tersungkur di ayat 51 Surah Almaidah, mewisudanya menjadi narapidana.

Tak ada prestasi yang dapat dibanggakan dari Ahok, selain menyulap kawasan Kali Jodo jadi Ruang Terbuka Hijau (RTH), namun kondisinya balik kotor  tak terawat. Di sekitarnya kembali menjadi kawasan prostitusi malam hari.

Beda dengan Anis Baswedan dengan seabreg prestasi saat menata kota yang dipimpinnya, dapat dirinci dengan kalkulasi kasat mata. Polusi udara kota Jakarta pun bersih dari karut marut caci maki.

Caci maki beralih ke kelompok-kelompok hypokrit dan buzzerRP, sebut Anies kadrun, radikal dan terindikasi HTI, dan korupsi.

Soal banjir diutak-atik, bikin Pranajaya angkat bicara.

“Banjir di New York pun Anies yang disalahkan”, sindir Pranajaya.

Anies dikatai tak punya prestasi, cuma pandai bermain kata-kata yang sebaiknya jadi rektor saja. Lha, Anda Waras? Anies sudah pernah jadi Rektor Paramida 8 tahun kok. Kalau pandainya maki-maki, apa mungkin jadi rektor?

Anies nyata dihadang, dijegal, dan Formula E digodok-digodok terus. Pokoknya bakal Capres dari kekuatan politik Koalisi Perubahan ini mesti dibikin jadi tidak kuat, mesti KO  di perjalanan pencalonan Presiden 2024.

Apa kata Letkol (Purn) Mirwanto menanggapi hal itu semua baru-baru ini? Ketua DPW Relawan Anies Presiden-24 Kalbar ini mengutip pribahasa, biar anjing menggonggong – kafilah terus berlalu.

Anies yang cerdas dan santun sempat menanggapi sambil senyum. “Sesungguhnya orang yang suka menjelek-jelekan, dia itulah yang jelek”, ujarnya.

Ya, Khoirunnas Anfauhum Linnas. Jadilah Pribadi yang bermanfaat bagi orang lain sebagai makhluk ciptaan Allah SWT.

Pontianak, 17 Februari 2023, 04.15 WIB

Penulis Pimred AksiBorneo, eksponen ’66

Comments
Loading...