INILAH sebuah berita di balik cerita, ramainya sudah merata dari yang punya tahta dan harta hingga rakyat jelata. Cawe-cawe nama ceritanya, enam kekuatan politik diajak masuk istana, kongkow-kongkow begini begitu, wal ini wal itu, wal hantu.
NasDem tak tersentuh ajakan serta, karena dalihnya sudah punya koalisi sendiri. Padahal partai besutan Pak Wok mengaku tetap solid sampai akhir jabatan Presiden Jokowi di 2024 nanti.
Lantas apa bedanya, bukankah 6 partai yang diajak bergosip politik juga sudah punya koalisi sendiri-sendiri. PPP nyebur ke kolam PDIP, PKB boncengan sama Gerindra, dan PAN numpang sekoci Golkar.
Dengan PD (percaya diri), Presiden Joko Widodo (Jokowi) blak-blakan menyatakan tidak akan netral dalam perjalanan sampai ke tujuan, yaitu Pemilu 2024 alias tetap akan cawe-cawe. Hal yang resmi ‘diproklamirkan’ di hadapan sejumlah pemimpin redaksi dan content creator di Istana Negara, Senin (29/5-2023).
Menurut kaca mata Jokowi cawe-cawe tidak melanggar aturan, tidak akan melanggar undang-undang, dan tidak akan mengotori demokrasi, karena demi kemajuan bangsa dan negara. Demi kepentingan nasional, konon!!
Polemik pun bertebaran dengan berbagai sudut pandang, gara-gara gawe cawe-cawe. Sampai-sampai Deny Indrayana ada yang melaporkannya sesuai selera, karena mengungkap beberapa kebocoran, bahwa Intervensi Presiden Joko Widodo semakin nyata hingga Pemilu nanti.
Entah dari mana ilmunya kalau cawe-cawe itu disebut punya nilai positip, dari sudut mana pun diintip, yang nyata adanya gejala retak mencari belah. Konon pula demi kepentingan nasional yang makin genting, terus jatuh melorot tergulung utang pada si Aseng di balik tenaga kerja asing yang tak henti meluber bak air bah. Korupsi terus merajalela. Harun Masiku tetap dalam kenangan.
Ketimbang cawe-cawe, mestinya Presiden Jokowi menegur Moeldoko – Kepala Staf Kepresidenan RI untuk menghentikan giat main comot partai orang lain. Jangan sampai berlanjut Jendral Istana vs Jenderan partai politik, Partai Demokrat.
Ingat, tak etis dan tak elok pakai jalan yang belok-belok, malah jadi bahan olok-olok. Hentikan, ‘gitu aja kok repot’, kata bahasa mendiang Gus Dur, daripada mempromosikan cawe-cawe yang bikin gaduh dan meresahkan.
Ah, cawe-cawe mudah diterka ada udang di balik batu, mengawetkan Pak Uban dahi berkerut penggemar filem bokep di kulkas pemanas agar Anies kecele duduk manis di kursi RI-1.
Manalah mungkin burung tempua tak bersarang rendah. Setingan sudah dipersiapkan sejak jauh-jauh hari. Kalau berhasil bikin Partai Demokrat sekarat, maka Cawapres tiggal heat to heat, Ganjar vs Prabowo, yang bagi petugas partai itulah memang yang dimaui, dua sisi mata uang pada satu coin. Maka semua bisa diatur.
Tak sulit diterka apa sebenarnya yang ditakuti dari Anies yang punya prestasi seabreg. Bukan karena Anies oposan di dalam Partai Demokrat, dan PKS, bersama separuh napas NasDem yang kini sudah dianggap oposisi, sehingga terus diupayakan penjegalan. Tapi ditakuti karena pada diri Anies Rasyid Baswedan melekat sifat-sifat Rasululluh; yaitu siddiq, amanah, tablier dan fatonah. Ini dirasa oligarki bisa menyembunyikan ‘penyakit’.
Tak kalah mengerikan ketika lembaga terhormat KPK dibawa masuk ke ranah politik, guna memborgol Anies dengan rekayasa kasus Formula-E tatkala masih Gubernur DKI. Kesalahan terus dicari-cari hingga tiga unsur pimpinan lembaga anti rasuah ini hengkang karena tak bisa dibawa seiring dengan penegakan hukum yang berjalan miring.
Kredibilitas KPU dan Bawaslu pun tak kalah seru kedip-kedipan dengan oligarki bak Abu Nawas yang tak tertandingi berakal bulus. Sementara dari Ketua MK Cs dijamin bisa mengamankan yang diperkirakan tak aman, karena kalau pakai istilah populer orang Palembang ‘wong kito galo’, .
Tak ada terminologi lain dari pengertian cawe-cawe selain dari ikut campur urusan orang lain atau pihak lain yang bukan urusannya. Kepo, kata orang masa kini.
Dipandang dari sudut syari’at, cawe-cawe itu sama dengan Gibah alias Gunjing alias Gosip. Di dalam Gibah ada fitnah dan adu domba. Fakta pun bisa main akrobat. Padahal Gibah termasuk salah satu dosa besar yang setara dengan dosa syirik.
Manusia di kehidupan ini hanya terbagi ke dalam dua golongan dalam mengisi waktu dan menghabisi umurnya, yaitu menyibukan diri dengan hal-hal baik dan yang menyibukan diri dengan hal-hal buruk demi kepentingan pribadi dan kelompoknya.
“Diantara kebaikan Islam seseorang, adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat”, (HR At Tirmizi).
Oleh karena itu, hendaknya setiap orang mengamalkan wasiat Nabi di masa fitnah, dimana beliau bersabda, “Hendaknya engkau sibuk dengan urusan privasimu sendiri.” (HR. Ath-Thabrani).
Sesungguhnya setiap orang telah memiliki kesibukan masing-masing. Hendaknya ia memfokuskan dirinya untuk memperhatikan kewajiban-kewajibannya sebagai hamba Allah Ta’ala.
Orang yang baik keislamannya akan memiliki perhatian penuh terhadap kebaikan dan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya, tapi tidak terlalaikan dengan urusan-urusan orang lain yang bisa menjerumuskannya ke dalam dosa-dosa. Khoirunnas anfauhum linnas, sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat bagi orang lain.
Imam Abu Hatim bin Hibban Al-Busthi rahimahullah mengatakan, “Orang yang berakal, wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus (mencari-cari kesalahan orang lain) dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih, dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya.” (Raudhah al-‘Uqala wa Nuzhah al-Fudhala’)
Qur’an Surah Al-Hujarat ayat 12 mengingatkan: “”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.”
Seorang ulama mengatakan; “Barangsiapa yang sibuk dengan urusan orang lain yang tidak bermanfaat bagi dia, maka banyak perkara (urusan) yang bermanfaat luput dari dia.”
Olehkarena itu, wahai Yang Terhormat Pak Presiden Joko Widodo, hentikanlah manuver-manuver politik yang meresahkan dan tak bermanfaat bagi kemaslahatan ummat!! Berhentilah menabuh genderang perang!! Biarkan Pemilu dan Pilpres 2024 berlangsung sebagai kontestasi politik yang demokratis tanpa intervensi, tanpa kecurangan!!
Selesaikan saja tugas dan tanggungjawab Anda di sisa masa jabatan Anda dengan tenang dan damai. Jangan jadikan lawan politik sebagai musuh politik, agar ketika meninggalkan Istana Negara, Anda bisa menyandang predikat sebagai seorang Negarawan bukan pecundang. Pulang kampung ngemong cucu-cucu daripada bikin yang lucu-lucu jelang pemilu. Pilu!!
Mari kita bersama-sama membangun kebersamaan untuk mewujudkan sebuah negara baidatun thayyibah wa rabbun ghrafur, negeri yang baik dengan Tuhan yang maha pengampun!! Khoirunnas anfauhum linnas!!*** (Pontianak, 10062023)
Catatan Redaksi:
*Penulis Pimred AksiBorneo/wartawan senior di Pontianak
