Lama tak ngumpul ngobrol di warung kopi membuat rasa kangen juga ngumpul dengan kawan-kawan senasib sepenanggungan korban PPKM Covid-19 lalu. Maka pagi ini kami janjian ngumpul di sebuah Warkop sekadar perintang waktu.
“Terinspirasi oleh lagu yang dihidangkan pemilik warkop, lagu lawas dari Ebid G Ade obrolan pun tertuju ke sana.”
ADALAH Mat Celup, salah satu teman ngopi semeja – kerennya setable, yang membuka cerita.
“Ebid G Ade agaknya tak perlu lagi menyuruh kita bertanya pada rumput yang bergoyang untuk mendapatkan sebuah jawaban, sebab rumput lapangan bola yang tak akan pernah bergoyang sekencang apa pun angin bertiup, sudah digoyang oleh Menteri BUMN yang merangkap Ketua Umum PSSI – Erick Thohir bersama konco-konconya sebagai jawaban,” kata Mat Celup membuka obrolan yang berlangsung hampir 2 x 60 menit.
Inilah resume dan kesimpulan dari obrolan kami kali ini di sebuah warung kopi di pinggir kota, ketika tiba-tiba publik dihidangkan oleh aksi oligarkhi dengan kasak-kusuk, bahwa bangunan JIS tak sesuai standard FIFA, dikait-kaitkan dengan rencana laga sepak bola dunia U-17, Indonesia tuan rumah.
Mulai dari katanya akses pintu masuk/keluar cuma 1 (satu), kantong parkir yang sangat tak memadai, pintu masuk bus pengangkut pemain terlalu rendah and so on and so on.
Kami rakyat pinggiran yang selalu termarginalkan, tentunya tak mau tahu soal urusan teknis. Tahunya JIS merupakan karya anak bangsa non Asing Aseng, dibantu konsultan Buro Happold, yang juga membangun Tottenham Hotspurs Stadium, di Inggris. Sehingga desainnya tentu mengikuti standar FIFA dari Stadium Guideline yang juga digunakan di Tottenham Hotspurs Stadium.
JIS merupakan karya besar anak bangsa di masa kepemimpinan Anies Baswedan saat menjadi gubernur DKI. Jadi jangan heran jika publik menganggap ada apakah gerangan?
Mentok mengobok-obok teknis fisik bangunan JIS. karena banyak yang paham lika-liku pembangunannya membantah dan viral di media sosial, goncangan beralih ke rumput lapangannya.
Sudut pandang tajam tak terelakan, publik loyalis Anies menilai kalau Anies masih terus disepak-sepak dari Formula E hingga ke lapangan sepak bola JIS.Terkesan sarat bermuatan politis melunturkan nama Anies Baswedan yang salah satu bakal calon Presiden RI 2024.
Konon rumput JIS tak sesuai standard FIFA, entah kata siapa. Pastinya kata yang ngiler dengan Rp6 milliyar dana yang dipastikan siap dikucurkan untuk mengobok-obok karya anak bangsa sendiri di bawah Anies Baswedan saat masih Gubernur DKI itu.
Rumput stadion JIS viral digerayangi rezim oligarki Menteri BUMN yang merangkap Ketua Umum PSSI Erick Thohir bersama Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dan Pj Gubernur DKI Heru Budi Hartono, tanyailah sang rumput yang tak bakalan pernah bergoyang ada apakah gerangan?
Jadi bukan rumput sembarang rumput yang digoyang dan dikeruk-keruk, dikorek-korek, tapi hamparan rumput lapangan sepak bola stadion JIS, Jakarta Stadium Internasional yang melekatingatkan nama Anies Baswedan.
Bukan politisasi kok, kata Bung Erick, karena ada 8 stadion lain yang juga direnovasi untuk perhelatan sepak bola dunia U-17 November mendatang. Belakangan katanya, ada 22 stadion yang di renovasi atau apa pun istilah pembaruannya.
Bukan politisasi? Tentu saja tak ada butir-butir puisi di dalam politisasi, yang ada adalah squen-squen dramatisasi.
Dengan santai dan tenang geradak-geruduk terhadap JIS direspons Anies, kalau JIS mau direnovasi ya monggo, karena JIS milik bangsa Indonesia. Respons Anies tentu saja manis, karena tanggungjawab di situ sudah beralih ke tangan penggantinya untuk pemeliharaan.
Upaya renovasi jalan terus, maka diujilah kwalitas rumput JIS yang katanya tak sesuai standar FIFA itu. Diuji tidak dengan alat penguji yang standar alias dilaksanakan secara sok tahu. Ada bagian rumput yang dikeruk, dikorek, oleh Erick Thohir dan para konco. Rp.6 milliyar lho.
Padahal cara itu salah besar. Menurut tayangan video viral pula, untuk menguji standarisasi lapangan sepak bola, adalah dengan alat uji khusus tidak sama sekali dengan mengorek atau mengeruk rumputnya.
Terpantau teknis FIFA dalam pengujian rumput lapangan bola.
Ada pun yang diuji adalah daya pantul bola yang jatuh di atas lapangan seberapa tinggi, lalu daya luncur bola yang ditendang seberapa laju menggelindingnya di rumput lapangan. Jadi tidak dengan merusak sedikit pun rumput lapangan dengan mengeruk atau mengoreknya. Dimana tiba-tiba pula dimunculkan pula ‘ahli rumput’ oligarkhi digunakan untuk mendukung bisnis politisasi cawe-cawe.
Mengapa tidak sejak awal Ketum PSSI Erick Thohir mengundang pihak FIFA guna menguji kelayakan stadion JIS seutuhnya? Jangan ujuk-ujuk sok tahu, malah melibatkan Menteri PUPR Basuki Hadimulyono yang ahlinya kan untuk lapangan jalan tol bukan untuk lapangan sepak bola.
Lha, bagaimana dengan stadion Jatidiri di Semarang, yang direnovasi dengan biaya Rp1 triliun tapi hasilnya remuk. “Bikin kecewa Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo”, beber pegiat media sosial Bachrum Achmadi.
“Renovasi Stadion Jatidiri Semarang telan biaya Rp. 1 Triliun, hasilnya hancur & remuk, kata Ganjar Gub Jateng,” ujar Bachrum, dikutip Suara Liberte dari akun Twitter @bachrum_achmadi pada Kamis (6/7/2023).
Namun meski hasilnya mengecewakan, padahal sudah menelan biaya yang besar, persoalan renovasi Stadion Jatidiri Semarang tidak ramai dibicarakan seperti JIS.
Selain itu, tidak ada menteri-menteri dari kabinet Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mengatakan bahwa stadion tersebut tidak sesuai standar FIFA dan harus direnovasi.
“Tapi ga ada tuh geger beritanya macam JIS. Ga ada tuh menteri kabinet pak Jokowi rame-rame bilang tidak standar FIFA & harus direnovasi!” ujar Bachrum.
Yalah, stadion Jatidiri kan tak menyentuh nama Anies Baswedan Capres Presiden RI 2024 yang sukses mengelola DKI hanya dalam satu priode, rival Ganjar Pranowo yang tercatat dan viral menjadi Gubernur Jateng dua priode yang berhasil membawa masuk ke dalam 17 provinsi termiskin di Indonesia dan disebut-sebut tak punya perhatian di bidang olahraga.
Setali tiga uang dengan Mandalika, kok tak ada kabar beritanya? Oligarki diam, termasuk KPK tutup mulut, tutup mata, dan tutup telinga. Tak seramai Formula E yang sukses dibawa ke permukaan oleh Anies Baswedan.
Nah, belakangan ini muncul surat sakti FIFA yang diceritakan Bung Erick Thohir, bahwa stadion JIS katanya memang benar tak sesuai standard FIFA seperti yang digodoknya.
Sementara itu lirik-lirik puitis yang didendangkan oleh Ebied G Ade sudah berganti irama rock yang liriknya antara lain berbunyi ‘rocker juga manusia…’, tapi dipelesetkan oleh Mat Celup menjadi ‘FIFA juga manusia…’.
“Ah, masak bodoklah, peduli setan! Apa pun rumputnya, kita adalah Anies! Paham?!” Mat Celup memberikan semacam pernyataan penutup, karena dia yang memulai diskusi, dia juga yang memang mesti mengakhiri dan kami amini lalu beranjak pergi.*** (Selamat berakhir pekan, Pontianak Sabtu 29 Juli 2023)
