Oleh; Effendy Asmara Zola / Pimred AKSIBORNEO
Adalah seorang ahli pikir dunia yang hidup di abad XVI, Nicolo Machiavelli, (1409-1527), kelahiran Florence, Perancis. Dia pernah menjadi orang buangan karena alam pikirannya yang anti demokrasi dan reformasi yang dikhawatirkan dapat merusak tatanan pemerintahan negaranya.
Setelah beberapa tahunmenjalani masa hukuman sebagai orang buangan, Machiaveli pulang ke negerinya, Perancis, tapi tak lagi dapat duduk dalam struktur apa pun dalam pemerintahan yang dulunya seorang kanselir. Itu tadi, karena pemahamannya yang dianggap dapat merugikan dan membahayakan negara.
Dalam kesendiriannya, Mach berkubang di bidang kesusastraan dan ilmu pemerintahann. Mach menuangkan alam pikirannya ke dalam salah satu bukunya yang terkenal IL Principle, Sang Raja alias Sang Penguasa yang dipelajari hingga masa kini.
Dipetik dari buku “Ahli2 Pikir Besar tentang Negara dan Hukum”, Jhr DR Von Scmid – guru besar pada Universitas di Brussel, yang diterjemahkan oleh R Wiratno, SH, Djamaluddin,dan DR Singomangkuto, SH., diketahuilah bahwa ;
Dari karangan-karangan Machiavelli yang banyak, “Buku Pelajaran untuk Raja” (IL Principle), menurutnya perlu bagi penguasa mempelajari tentang Kekuasaan dan Hukum untuk bagaimana mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan.
Meskipun Aristotelles di abad purbakala (384-322 SM), telah mengadakan perbedaan antara ajaran tatasusila dan ilmu negara, mendasarkan ilmu negara pada asas-asas ajaran tatasusila, namun Macheavelli menunjukan dengan terang dan tegas bahwa orang-orang di lapangan mulai dari Sang Penguasa tak perlu menghiraukan asas-asas tatasusila dan adab, karena akan merugikan kepentingan-kepentingan negara bila berbuat demikian. Ajaran semacam inilah yang membuat Mach diasingkan ke sebuah tempat di Roma, karena tidak membedakan antara adab dengan biadab yang bikin gusar pihak gereja-gereja.
Ringkas ajaran Mach, seorang penguasa harus sanggup untuk berbohong dan tidak menepati janji-janjinya. Hanya raja-raja (para penguasa) yang demikianlah yang telah dan atau akan mencapai hasl-hasil yang besar.
Harus menggunakan kekuasan dan kekerasan bersama orang-orangnya, dan tidak perlu menggunakan hukum. Naturalisme semacam ini memandang kekuasaan dan hukum itu sama.
Seorang berkuasa, kata Mach, harus dapat menjadi binatang yang merupakan kancil dan singa sekaligus. Menjadi kancil agar tidak terjerat ke dalam jaring orang lain, menjadi singa supaya tidak gentar mendengar raung serigala-serigala. Barulah ia memahami tugas-tugasnya yang baik.
Di zaman Firaun berkuasa, dia tak merasa dirinya biadab, tapi beradab menurut alam pikirannya sendiri. Dalam mempertahankan kekuasaan selalu membuat pembenaran bukan menegakkan kebenaran. Pas dengan teori Ilmu Negara ajaran Mach.
Lalu ada Firaun versi abad 20, tak berpedang dan berprisai, tapi berpeluru dan bermeriam. Dialah Idi Amin alias Idi Amin Dada Qumee, seorang Jenderal biadab. Dia adalah Presiden Uganda yang dikenal dunia sebagai “Pembantai Uganda” di masa mempertahankan sistem kekuasaannya pada 1971- 1079.
Keduanya sama kejam dan bengis alias zalim. Hitam dan putih tak ada bedanya. Rakyat tak berani begini begitu kalau tak ingin dihabisi.
Menurut Mach, apa yang dianggap baik untuk mempertahankan kekuasaan sekalipun itu berbohong dan tidak baik bagi rakyat, lakukan saja apabila hal itu dipandang baik untuk kekuasaan. Peduli setan dengan janji-janji dan pencitraan yang diumbar.
Mau menimbun utang negara ribuan triliunan rupiah, bohongin rakyat tentang jutaan tenaga kerja yang padahal teruntuk kekasih tersayang RRC. Non impor beras karena kesanggupan swasembada pangan, faktanya jutaan ton beras impor disempalkan ke perut rakyat dengan harga mahal. Sampai-sampai impor kedele dan garam juga bikin geram, and so on and so ond. Termasuk urusan mengguras pasir laut dan ekspor biji nikel tak kurang bikin mangkel.
Ulama-ulama banyak yang dianggap anti demokrasi dan dikriminalisasi. “Orang gila” pun jadi alat pintar, memilah-pilih mana ulama mana ubaru untuk diburu dan dihabisi dengan cap Radikal-radikul. Sedangkan yang terang-terangan ingin mengubah Pancasila dengan teriakan hypokrit sebagai mahluk yang paling pancasilais tidak dikais.
Ketidak adilan, kezaliman, khianat, dan tiada adanya beda antara adab dan biadab, tergambar seakan hanya ada di masa kekuasaan Firaun dan Qorun serta Idi Amin faktanya ada di negara yang mestinya gemah ripah loh jinawe. Cawe-cawe gitu loh.
Jalan panjang sepanjang jalan tol pada Teori Kekuasaan dari sang filsuf Machiaveli yang mengajarkan teori otoriter total, itu yang dirasakan di era rezim oligarkhi di negeri ini. Rakyat dipaksa meniti jalan panjang kekuasaan yang sewenang-wenang dan zalim
Tidak ada adab di dalam kebiadaban, tidak ada kealiman di dalam kezaliman, yang ada hanya khianat, fitnah dan adu domba komplit dengan juru fitnahnya sekelas Durno dalam cerita pewayangan. Ringkasnya di zaman jahiliyah, tidak ada apa yang kita kenal sekarang, prikemanusiaan yang adil dan beradab.
Mencari keadilan yang adil dan beradab di negeri ini, sudah ibarat mencari sebatang jarum di tengah lapangan bola stadion JIS yang diutak atik JIN dengan dana Rp6 miliar rupiah untuk menyukur pucuk rumput.
Undang-undang yang dikumandangkan demi kenyamanan kekuasaan yang berangkulan mesra bersama dewan wakil rakyat. Sementara rakyat tidak sedikit dibiarkan makan tak nyaman tidur tak nyenyak.
Konflik lahan dimana-mana, dari konflik lahan sawit hingga lahan peninggalan nenek moyang di Rempang – Batam. Peduli setan rakyat hidup dalam ketakutan, kecemasan dan duka. Berani berkutik, selesaikan saja, buldozer mereka, piting lehernya satu persatu. Dorr !
“Jangan berani-berani melawan, aku sudah biasa menghabisi orang”, hardik Luhut Binsar Panjaitan alias LBP kepada Ardian Napitupulu ketika bertengkar, disaksikan dan ditengahi oleh wartawan senior dan pilitikus Panda Nababan.
Adil dan beradab itu, agaknya hanya benar-benar pernah ada pada kisah atau riwayat Sultan Harun Al Rasyid yang berakhlak mulia, dicintai dan disegani rakyatnya di negeri “1001 Malam” sampai akhir hayatnya dikenang sepanjang masa.
Tidak ada konflik apa pun di masa pemerintahan Sultan Harun Al Rasid plus nasihat dari si jelata Abu Nawas – selalu jitu menyelesaikan masalah tanpa masalah. Maka lahirlah pribahasa; Raja Alim Raja Disembah – Raja Zalim Raja Disanggah.
Sedangkan rezim pemerintahan Oligarkhi republik ini, pas betul dengan “Teori Mach”, mempertahankan kekuasaan dengan berbagai cara, mewariskan kekuasaan kepada anak cucu. Halal haram hantam, halal hukumnya.
Jangan cengeng, kezaliman Fir’aun, Qarun, Raja Namrud, serta Idi Amin, dinilai cuma dongeng. Tapi teori kekuasaan dari Machiavelli yang ada di dalamnya, itu yang dipakai. Rakyat diberi mainan Injit-injit Semut, Walaupun Sakit Jangan Dilepas.
Pak Nas (Jendral A.H.Nasution) di dalam bukunya “Pembangunan Moral IntiPembangunan Nasional” (1994), berbicara soal akhlak bangsa dan menutup tulisanya di halaman akhir (281), sbb.:
“Bagi orang beriman, ridha Allah-lah mahkota segala amalan. Dengan menghayati sikap hidup demikian, dalam penyelesaian konflik, baik nasional maupun internasional, kita selalu berupaya mencari dan menempuh jalan yang diridhoiNYA.” * (Pontianak, 11 Oktober 2023)
