Banner Event

Panik! Hindari AMIN, jadi Qabul

Seharian ini saya geli hati dan miris juga. Mau tertawa sendirian yang istilah kekiniannya wkwkwk, kuatir ditanyai cucu, “Jid majenun?” (datuk gila?)

ALKISAH beredar video viral yang masih hangat di media sosial; “…….. bisa mengisi kursi di sini”, ujar Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY. Direspon sendiri oleh seseorang berkopiah di sampingnya dengan uacapan “qabul, qabul”.

Pada teknik dan montase video sesi kampanye AHY tersebut di bilangan Jakarta itu, AHY melanjutkan: “Nah, saya Demokrat ingin meyakinkan masyarakat ke depan punya pekerjaan yang layak, yang halal, punya penghasilan yang juga mencukupi kehidupan hari-hari, sehingga punya daya beli yang juga baik……”, sampai di sini orang berkopiah tersebut menyela “qabul, qabul”.

“Dengan demikian kita berharap kwalitas kehidupan masyarakat kita terutama di DKI Jakarta, saat ini saya berada di DKI Jakarta juga semakin baik dari hari ke hari ”, tutup AHY dalam potongan video berdurasi 43 detik tersebut yang ditutup juga oleh si orang berpeci hitam itu, “qabul, qabul.”

Narasi kampanye Ketum Partai Demokrat itu normatif saja bagi Koalisi Indonesia Maju (KIM) sebagai janji kampanye, pribahasa mengatakan tinggi gunung seribu janji.

Namun yang menarik adalah tampilan si orang berpeci hitam itu, entah dia siapa, wallahualam bisawab. Kita sebut saja dia Pak Qabul.

Pak Qabul seakan tak rela mengucapkan kata “aamiin” yang bermakna kabulkanlah ya Allah. (Selengkapnya Aamiin ya Rabbal Alamiin).

Tiap doa atau nawaitu yang baik, adalah lazim diamini dengan mengucapkan Aamiin, semoga Insyaallah dikabulkan oleh Allah SWT.

Kali ini langka, dan rasanya baru kali ini terjadi, mengamini dengan ucapan “qabul”, tidak dengan Aamiin.

Pidato kampanye AHY jadi seakan merupakan “ijab” atau penyerahan yang disambut orangnya sendiri,  Pak Qabul.

Tak terdengar sambutan massa “qabuuuul….” kala Pak Qabul mengucapkan “qabul”.

Kalau saja kala itu Pak Qabul mengucapkan Aamiin….., niscaya massa gemuruh akan menyambut dan atau meneruskan dengan Aamiin pula.

Maka dapat dibaca, betapa Pak Qabul yang juga ABG (Anak Buah Gibran) bersama TKN-nya sedang galau.

Mereka sedang panik, tak hendak mengucapkan Aamiin karena dianggap identik dengan AMIN, jargon pasangan Capres-Cawapres No.1 Anies-Muhaimin.

Kalau begitu, betapa dangkalnya kemampuan komunikasi dari TKN Prabowo-Gibran, sehingga menisbikan Aamiin menjadi Qabul.

Saya jadi pilu di pra pemilu ini, tak terbayangkan kalau pada tiap penutup doa diucapkan dengan Qabul, bukan Aamiin. Ajaran siapa pula itu dan sejak kapan?

Saya pun khawatir nanti Alfatiha mereka akhiri dengan bukan… waladaaliin, aamiin, tapi waladaaliin, qaabuul! Astarfirullahal Adzim.!*

Pontianak, Kamis 10.00 WIB 071223.

Penulis, Wartawan Senior

Sie.Sosbud/Relawan Anies Presiden (AP-24)

DPW Kalimantan Barat

Comments
Loading...