Kolom, Effendy Asmara Zola
Pemilu telah berlalu dengan hasil pilu dan memalukan. Mau diakui atau tidak terserahlah, tanya hati nurani jika masih punya hati. Jangan tanya rumput yang bergoyang.
BERAGAM kecurangan melata di depan mata. Berawal ketika usulan diri untuk menjadi presiden tiga priode, atau diperpanjang dua tahun pun bolehlah. Tapi mentok, sementok seorang suami yang gagal dapat izin berpoligami.
Maka Presiden Jokowi yang punya angan-angan tanpa sungkan-sungkan resmi memproklamirkan diri akan cawe-cawe dalam proses Pilpres 2024, dalihnya demi kepentingan nasional. Diucapkan di hadapan sejumlah pimpinan redaksi media massa di Istana Negara, Senin (29 Mei 2023).
Dimulailah Teori Hukum Alam dari Machiavelly dimainkan, entah siapa konsultan politiknya, bahwa kekuasaan harus direbut dan dipertahankan dengan cara apa pun, sekalipun dengan cara membohongi rakyat. Alam pikiran Mach itu berkecamuk di alam pikiran rezim oligarkhi, yakni bagaimana menjadikan negara kekuasaan (Machstaat) bukan negara berdasarkan hukum (rechtsstaat).
Maka Ordal alias orang dalam oligarkhi, Ketua MK – Mahkamah Anwar Usman ambil risiko, maju tak gentar membela yang tak benar.
Diutak atiklah hal-ihwal batas usia Cawapres dengan dalil yang dibuat-buat, buat putra mahkota, Gibran Rakabuming Raka. Padahal umur sang ponakan baru setahun jagung, darah baru setampuk pinang, pengalaman pun belum dalam, baru berumur 36 tahun.
Peduli setan, yang penting sesuai pesanan demi agenda oligarkhi harus tetap aman.
“Tenang saja Pak Prabowo, saya ada di sini,” ujar Gibran setelah menyeruak masuk di kubu 02 menjadi Cawapres.
Sadar tak sadar, betapa Prabowo Subianto seorang jenderal yang telah kenyang asam garam peperangan, politik dan pemerintahan, dan Capres 02, direndahkan di ruang publik oleh anak kemaren sore yang kemudian populer dengan julukan belimbing sayur.
Padahal pernyataan tersebut merupakan kalimat terselubung dan bersayap; “Tenang saja Pak Prabowo, Bapak saya ada di sini.”
Gibran pun tak peduli ketika diberi nama baru Samsul alias asam sulfat karena di dalam debat tak paham antara asam folat dengan asam sulfat.
Jokowi pun sudah melupakan puji-sanjungnya kepada seorang laki-laki berambut putih dan dahi berkerut, Ganjar Pranowo, karena mantan Gubernur Jateng ini diorbitkan oleh Ketua Umum PDI Perjuangan – Megawati Sukarnoputri menjadi Capres bersama Cawapres Mahfud MD dengan nomor urut 3. Mahfud MD pun terang-terangan menyebut Cawapres 03, Gibran Rakabuming Raka sebagai anak haram konstitusi.
Dua Malin Kundang sekaligus mendurhakai Megawati, sang ibu Ketum PDI-P yang membesarkannya. Kini Malin Kundang tengah berkubang di tengah koalisi 02 yang tak berdaya.
Netralitas yang dikumandangkan tak kurang dari lip service semata dengan pola merata ke segala lini.
Pasca pemilu lalu, tersebutlah keterangan adanya salah input, alasan klasik dari KPU/KPUD peninggalan pilpres 2019 silam yang menelan korban jiwa sejumlah mahasiswa pendemo di depan Bawaslu RI kala itu.
Angka perolehan suara melesat jauh bak anak SD yang baru belajar berhitung, 75+5=755 dan angka-angka penggelembungan lainnya. Namun pasangan Prabowo-Gibran, sudah sumringah dengan hasil dari quik count. Peduli setan orang menyebutnya presiden quik count, “Emang gue pikirin? Endasmu!”
“Apa kalian percaya suara pemilih saya cuma segitu?” tanya Capres 03 Ganjar Pranowo kepada wartawan, merespons hasil hitung suara sementara yang cuma berkutat di belasan persen. Sementara perolehan suara Capres-Cawapres 01 berputar-putar di sekitar angka 24,5%
Maka netizen ada yang berkomentar, memilih Prabowo-Gibran sama dengan memilih Jokowi presiden tiga priode.
“Ini pemilu gila,” ujar OSO – Oesman Sapta Odang, Ketua Umum Partai Hanura geram.
Saat pernyataan penutup dalam debat kelima Pilpres, Ahad (4/2-2024), Capres 01 Anies Baswedan menyebut bahwa Tuhan menginginkan kekuasaan yang welas asih, dan cinta kasih. Dan Tuhan, kata Anies, akan memberikan kekuasaan kepada yang Dia kehendaki.
“Qulillāhumma mālikal-mulki tu`til-mulka man tasyā`u wa tanzi’ul-mulka mim man tasyā, bahwa Allah yang Maha Kuasa akan memberikan kekuasaan dan mencabut kekuasaan pada yang dikehendaki,” ujar Anies mengutip sebagian dari surat Ali Imran ayat 26.
Di lain kesempatan Anies Baswedan mengatakan; Jika saya menjadi presiden maka Allah mengizinkan saya, jika tidak berarti Allah menyelamatkan saya.
Jangan berkecil hati, itu adalah ucapan rendah hati orang beriman, jujur dan ikhlas bersandar pada kuasa Allah.
Namun demikian Anies berpesan kepada para relawan dan para pendukungnya, agar tetap semangat dan optimis.
“Kita masih dalam perjuangan, berjuang untuk perubahan, perjuangan belum berakhir,” kata Anies. di tengah karut-marut penghitungan hasil suara pilpres di pemilu lalu.
Kejujuran yang diharapkan, kecurangan yang gelayapan bak kumpulan rayap yang selalu kelaparan.
Pilu, pesta demokrasi telah menjadi derita demokrasi. Hak Angket pun digadang-gadang dan ditunggu-tunggu, yang kontra sebut cuma bikin ribut. Ah, kita memang berada di Republik Angin Ribut kok.*Pontianak, (Rabu 270224).
*Penulis, Pimred Aksi Borneo
Baca juga : Republik Angin Ribut
