Kolom, Effendy Asmara Zola
Sebuah catatatan kaki menandai peristiwa tiap lima tahun sekali, yang disebut sebagai pesta demokrasi, tapi faktanya jadi demokrazy, berpacu menghalalkan segala macam cara bagi pemburu kursi wakil rakyat dan atau kursi kekuasaan.
Dari janji-janji manis dengan tebar pesona hingga tebar sembako atau sovenir dan sebagainya, sampai kisah jor-joran serangan fajar yang kait berkait dengan money politic jelang pemilu serentak 2024 ini.
Kost besar yang dikeluarkan mesti kembali dengan kalkulasi untung, kalau buntung konon salah itung dan bisa tercampak ke balik jeruji besi. Belum lagi yang uzur menghalalkan umur, tak sungkan-sungkan jadi kutu loncat.
Tak sedikit juga diantara para caleg mengabaikan iman demi kursi nyaman. Tidak cuma tukang pembuat alat praga kampanye seperti tukang bikin spanduk, baliho, kaos partai panen dengan harga aduhai, tak ketinggalan para dukun yang didatangi caleg-caleg pikun yang tak PD alias tak percaya diri.
Menyoal urusan “kemenyan dalam pemilu” itulah yang membuat rasa miris. Ada yang mengantarkan poster bergambar wajahnya kepada si Mbah, minta didoakan supaya menang dalam pemilihan. Ada yang Oke ketika disuruh macam-macam sebagai ritual. Akal sehat jadi akal sesat, manut saja kepada si mbah dukun, terangguk-angguk bagai burung belatuk.
Ada kejadian lucu ulah seorang dukun yang menginstruksikan, setelah baliho dipajang harus disirami air yang dibekali, supaya peserta pemilu teringat-ingat wajahnya selalu. Wkwkwk.
Ada pula yang terpedaya membayar puluhan juta rupiah untuk harga dua ekor tikus warna abu-abu yang katanya mewakili sepasang tuyul dari Gunung Kidul, padahal kena kibul.
Belum lagi cerita sesajen yang konon dipersembahkan kepada jin, setan, iblis, dan lain sejenisnya yang dipercaya sebagai mediasi.
Saya teringat pada dokumentasi sebuah peristiwa miris yang terjadi di Kabupaten Ngawi. Seorang caleg wanita 2014 dari Partai Demokrat Dapil V kabupaten ini – Miftahul Jannah, menggelar ritual malam hari nyemplung di Sungai Ketonggo (Srigati) Desa Babakan, Kecamatan Paron. Di situ dia basah kuyup berdoa ditemani suaminya. Entah doa apa yang diberikan si dukun.
Nama dirinya itu lho yang bikin miris, Miftahul Jannah yang artinya Kunci Syurga.Astarfirullah, bertolak belakang dengan nama yang bagus. Kenapa ngotot percaya si mbah dukun bukan memohon petunjuk kepada Allah SWT dengan istiharah misalnya. Tahajud, mohon doa dikabulkanNYA. Bukankah dengan macam-macam cara ritual yang justru menduakan Allah, syirik dan musyrik!?
Musyrik, tertuju kepadaorang yang mempersekutukan Allah, mengaku adanya Tuhan selain Allah atau menyamakan sesuatu dengan Allah. Mengakui adanya Allah, tapi juga mengabdikan diri kepada selain Allah baik dalam bentuk I’tikad (percaya / kepercayaan) maupun dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Menjadikan ciptaan Allah seperti sungai, pohon besar, goa, binatang, dsb., manusia (dukun, peramal, dsb.) sebagai yang dipercayainya.
Syirik tertuju kepada perbuatan menyembah atau memnyekutukan sesuatu dengan Allah SWT. Menyembah batu, patung, pohon kayu, kuburan yang disebutnya keramat, binatang, bahkan manusia dll., dianggapnya sebagai Tuhan-Tuhan yang mempunyai sifat-sifat Allah yang dapat mendatangkan kebaikan dan keburukan.
Termasuklah ke dalam Dosa Syirik, yaitu mengkultuskan seorang tokoh atau pemimpin. Keduanya perbuatan dosa besar.
Musyrik dan Syirik berdampingan erat dengan kaum hypokrid(munafik), lain di bibir lain di mulut. Bercakap bohong, berjanji mungkir – tidak amanah. Berbuat tidak mengharapkan keredhaan Allah, sehingga tidak mendapat hidayah dariNYA, maka jalan hidupnya tidak mendapat petunjuk dari Allah SWT.
Riya’ atau pamer adalah tujuan hidupnya, tengoklah para koruptor. Kalau tak pamer kekayaan secara nyata, ya tentu dengan money loundry. Mempertahankan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara.
Dapatkah orang-orang semacam itu menjalankan amanah setelah menjadi pemimpin atau mewakili wong cilik di Gedung Rakyat Yang Terhormat?
Pokoknya jangan pilih caleg atau pemimpin yang bau menyan, syirik dan musyrik, supaya kita tidak bersubahat dengan kemunafikan.* Pontianak, Senin 12022024.
