Exclusive
AKSIBORNEO – “Buat kota Pontianak, siapa yang tidak kenal dengan guru besar yang satu ini, terutama di kalangan perguruan tinggi, di luar itu – setidaknya pernah mendengar namanya.”
DIA guru besar Sosiologi pada Fakultas Ilmu Sosial Politik (FISIP) Universitas Tanjungpura (UNTAN) Pontianak, Prof.Syarif Ibrahim Alkadrie.
Banyak yang tidak tahu kalau guru besar yang bersahaja ini, sangat lekat dengan peristiwa ‘Mandor Berdarah’ yang pada tiap tanggal 28 Juni diperingati sebagai Hari Berkabung Kalimantan Barat.
Peristiwa dimana 21.000 jiwa lebih kaum cerdik pandai dari segenap penjuru Borneo Barat (Kalimantan Barat), dihabisi balatentara Dai Nipon. Dihabisi dengan cara dipancung kepalanya, ditimbun ke dalam 10 lubang besar sebagai kuburan massal di Kecamatan Mandor antara 1942-1944.
Bertolak dari tragedi Mandor itulah, Syarif Ibrahim Alkadrie, hanya diketahui kalangan terbatas, seperti famili atau teman sepermainan sejak masa kecil, punya nama lain – panggilan akrabnya, Si Tinggal hingga sekarang.
Abah (ayah) Si Tinggal, Syarif Akhmad Muhammad Alkadrie dan isteri, Maimunah binti Tahir (ibunda Si Tinggal), adalah warga Gang Nurdin (sekarang Gang Meranti) kota Pontianak.
Di gang itu juga bertempat tinggal dua tokoh lainnya dan juga menjadi korban Agresi Dai Nipon, yang merupakan karib dari Syarif Akhmad Muhammad Alkadrie, yaitu Syarif Zein Almutahar dan Syarif Akhmad Alaydrus atau Mat Gambus karena piawai bermain gambus, serta seorang sahabat mereka lagi dari Kraton Kadriyah – Sultan Syarif Muhammad Alkadrie. Belakangan nama Sultan Muhammad diabadikan menjadi nama Rumah Sakit Umum Pemkot Pontianak, RSUD Sultan Muhammad sejak diresmikan pada 2010 silam.
Keempat habaib bersahabat tersebut dihabisi tentara Dai Nipon atau Kempetai, pada hari yang sama, hanya berbeda jam saja, Selasa 22 Februari 1944.
Kala itu Syarif Ibrahim Alkadri, masih dalam usia kandungan 3 (tiga) bulan sebagai bungsu dari 6 (enam) bersaudara, 3 laki-laki dan 3 perempuan.
Setelah memberi nama Syarif Ibrahim Alkadrie, ibundanya juga menyebut dengan nama julukan Si Tinggal, karena dia dilahirkan setelah ditinggal abahnya selagi masih dalam kandungan 3 bulan itu.
Masa kecil Si Tinggal yang kini telah berusia 80 tahun dan kakek dari 9 cucu ini, bukanlah masa kecil yang menyenangkan bagi bocah seusianya sampai dengan remaja. Ia harus ikut berjuang membantu ibundanya mencari nafkah untuk biaya sekolahnya dan kakak-kakak, berjualan sarapan pagi seperti bubur, bubur kacang hijau dan sebagainya di belakang Gedung Pertemuan (Gedung Balai Prajurit), sekarang Taman Alun Kapuas, Pontianak.
Uniknya, Si Tinggal yang alumni SMEA Negeri I Pontianak tidak melanjutkan kuliah di Fak.Ekonomi, tapi memilih Fak.Sospol (sekarang FISIP) Untan, terus lanjut dengan bea siswa sampai jenjang S2 dan S3 di AS dan Mexico.
Hingga sekarang, hanya tinggal beberapa teman sekampung semasa kecil yang masih hidup, tetap menyebut Prof.Syarif Ibrahim Alkadri dengan nama panggilan ‘nggal’, teringkas dari nama panggilan Si Tinggal.***(sekilas memori masa silam)
Baca Artikel terkait sebelumnya: Apa Kabar Hari Berkabung Kalbar ?
