Banner Event

Antara Copot Jilbab BPIP dengan Copot Jabatan Kepala BPIP

Mengapa? Tentu, karena ada kaitannya antara pasukan pengibar (duplikat) bendera pusaka (Paskibraka) dengan nama Habaib yang satu ini, Sayid Husein Almutahar.

Ia akan bersedih, karena ide atau gagasannya mengenai Paskibraka, hari-hari inimenjadi geger karena adanya pelarangan bagi puteri-puteri Paskibraka harus lepas jilbab atau hijab.

Kontroversial diciptakan oleh Kepala BPIP (Badan Pembina Ideologi Pancasila), Yudian Wahyudi, dimana diketahui 18 puteri anggota Paskibra 2024, istikamah sejak masa kecil mereka menutup aurat dengan jilbab.

Dalihnya, tidak ada paksaan. Mereka disebut sukarela bertandatangan di atas pernyataan bermaterai Rp.10,000.- patuh pada aturan termasuk copot jilbab itu.

Ya, sukarela, sukarela yang terpaksa, karena tekanan psychologis, daripada anak-anak itu senewen dan diusir pulang kampung dengan tudingan membangkang dan atau radikal.

Kepala BPIP itu mesti tahu sejarah, asal-muasal lahirnya barisan pengibar duplikat bendera pusaka tiap peringatan hari proklamasi 17-8-1945.

Adalah H.Mutahar atau lengkapnya Muhammad Husein Almutahar, yang selama ini hanya dikenal atau diketahui sebagai komponis penyipta lagu perjuangan atau lagu-lagu nasional Hari Merdeka dan hymne Syukur. Dan beberapa lagu nasional lainnya sebagai penyemangat perjuangan.

Banyak jabatan disandangnya, sebagai orang sipil yang menguasai 6 bahasa aktif dan dekat dengan Presiden pertama RI, Soekarno dan penerusnya, Presiden Suharto. Antara lain sebagai salah satu ajudan Bung Karno, Duta Besar RI untuk Vatikan 1969-1973,  Pejabat Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri pada 1974.

Sebagai orang dekat, Bung Karno yang jeli menugasi H.Mutahar untuk mengonsep susunan upacara pengibaran bendera di HUT pertama Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945.

Idenya ketika itu, menurut Bapak Pandu Nasional (kini Pramuka) ini, pengibaran bendera pusaka sebaiknya dilakukan oleh pemuda-pemudi Indonesia yang mewakili daerah atau provinsi masing-masing.

Ketika H.Mutahar menduduki jabatan Dirjen Pemuda dan Pramuka Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di masa pemerintahan Presiden II RI, Soeharto, pada   tahun 1967, ia dipanggil menghadap oleh Pak Harto untuk menyusun formasi dan tata cara pengibaran Bendera Pusaka. 

Menurutnya, untuk pengibaran bendera pusaka sebaiknya dibagi tiga formasi dalam satu pasukan. Pak Harto setuju.

Formasi atau kelompok I terdiri dari 17 orang sebagai pemandu, lalu kelompok II 8 orang sebagai kelompok inti pembawa bendera, kemudian kelompok III 45 orang sebagai pengawal. Untuk ini, H.Mutahar bertindak sebagai pembina.

Formasi tiga kelompok tersebut, merupakan pencerminan dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 – 8 – 45.

Begitu asal-muasal pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka) dengan formasi lapangan pada penyelenggaraannya yang kita kenal, diciptakan oleh tokoh nasionalis yang anti komunis, H.Mutahar.

Jadi Kepala BPIP Yudian Wahyudi harus tahu dan paham, sejarah lahirnya Paskibraka dengan segala geraknya di lapangan,  tidaklah dibuat oleh sembarangan orang.

Maka, andaikata H.Mutahar bangkit lagi di zaman serba nyeleneh ini, dan melihat kondisi Paskibraka yang coba diobok-obok dengan pelarangan memakai jilbab bagi 18 anggota putri di dalamnya – apapun alasannya, dipandang dari sudut manapun, lebih baik Kepala BPIP – Yudian Wahyudi yang dicopot dari jabatannya daripada copot jilbab. Bikin keruh!

Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim Almutahar yang dikenal dengan nama H.Mutahar,  kelahiran Semarang (Jawa Tengah) 5 Agustus 1916, wafat di Jakarta pada 9 Juni 2004 (88th) dan dimakamkan di pemakaman umum Jeruk Purut, Jakarta. Semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT dengan ganjaran yang sempurna. Aamiin…

Merdeka!!!

Pontianak,16 Agustus 2024.

Comments
Loading...