Kawal Pilkada

Sudut Pandang by, Effendy Asmara Zola
PERISTIWA politik yang membakar Golkar kali ini merupakan pembenaran adagium bahwa, tiada kawan abadi di dalam politik, yang ada hanyalah kepentingan pribadi.
“Capailah kepentingan tujuan politikmu (kekuasaan) dengan cara apa pun, singkirkan koncomu sekali pun, nafikan segala macam tetek-bengek etika dan sopan santun, ingkari janji-janjimu. Bohongi rakyat jika kebohongan itu kau anggap baik bagi kepentingan politikmu!”
Demikian itu seperti yang diajarkan Nicollo Machiavelli di dalam bukunya ill principle belasan abad silam. Disadari atau tidak, teori kekuasaan yang dikenal dengan nama Teori Mach itulah yang tengah terjadi membakar partai Golkar saat ini.
Di atas kepemimpinan Maman Abdurrahman, Ketua DPD Golkar Kalbar, telah memecat salah satu kader seniornya, Ria Norsan yang punya jabatan menetereng – Ketua Dewan Petimbangan di partai berlambang pohon beringin ini.
Aksi pemecatan sang Wantim dilakukan dalam Rakerda dan Rapimda Partai Golkar Kalbar, Sabtu (7/9-2024), setelah deklarasi oleh PDI-P dan pendaftaran ke KPU pasangan Ria Norsan – Krisantus Kurniawan, Kamis (29 Agustus 2024).
Gara-garanya, Ria Norsan kebelet jadi Gubernur Kalimantan Barat, meloncat dari pohon beringin ke punggung banteng moncong putih maju cagub 2024-2029, karena Golkar sendiri bersama 7 partai lain mendukung dan atau mengusung incumbent Gubernur Kalbar 2018-2023 – Sutarmidji. Ria Norsan sendiri sebelumnya adalah wakil sang incumbent yang tak pernah rukun sejak awal berkuasa antara keduanya.
Mirisnya surat pemecatan dibacakan oleh kader muda partai besar ini, Arief Rinaldi anggota DPRD Kalbar terpilih 2024-2029 yang bukan lain adalah anak kandung korban (Ria Norsan).
Permainan ini keterlaluan memang, pembunuhan karakter terhadap sang ayah kandung oleh anak yang telah dibesarkan dan didiknya. Ya, itulah tadi, tak ada kawan abadi selain kepentingan pribadi. Antara anak dan ayah sekalipun.
Tindakan tersebut dinilai Ria Norsan tidak etis, melanggar norma kesopanan yang bertujuan melemahkan mentalnya.
“Tindakan ini bertujuan mengacaukan psikis saya. Saya di Golkar 30 tahun, lalu dipecat anak saya. Tapi di keluarga kami tidak ada masalah,” kata Norsan usai mengikuti Rakerdasus PDI Perjuangan Kalbar, Kamis (12/9-2024).
Namun Norsan mengklaim masih sebagai kader Golkar, maju Pilkada Kalbar sebagai cagub non kader. “Artinya saya masih sebagai kader Golkar”, ujarnya.
Ketua DPD Golkar Kalbar Maman Abdurahman menangkis, partai tidak melarang hak Ria Norsan untuk mengikuti kontestasi politik termasuk pilkada. Namun ungkapnya, Golkar juga memiliki aturan main bagi kader yang tidak taat.
Hawa panas yang terjadi, dianggap disulut oleh prilaku Ria Norsan, sehingga membakar tubuh Golkar Kalbar, keduabelah pihak saling mengklim soal etika.
Ria Norsan merasa pemecatan atas dirinya dilakukan secara tidak etis, apalagi surat pemecatan atas dirinya dibacakan oleh anak kandungnya sendiri dalam forum resmi partai berlambang pohon beringin itu. Semetara Maman Abdurahman menyebut soal etika, Partai Golkar punya aturan sendiri.
Menelusuri sikap politik partai (Golkar) dan sikap politik korban (Ria Norsan), keduanya sami mawon, 11-12 kata orang sekarang alias same tak beri kata orang Pontianak.
Ria Norsan meloncat ke PDI-Perjuangan sebagai Cagub Kalbar, konon mengejutkan Golkar karena tidak ada ba-bi-bu sebelumnya dengan partai besar ini, dinilai tidak etis.
Sebaliknya Ria Norsan menganggap Golkar tak punya etika dalam pemecatan atas dirinya, karena Tahu-tahu dibuldozer dalam Rapimda, apalagi memajukan anak kandungnya sebagai driver buldozer, tanpa ada kesempatan membela diri dalam suatu rapimsus misalnya.
Menarik ketika Ria Norsan mengaku masih tetap kader Golkar bukan kadera PDI-P, tapi dia juga ikut serta dalam Rakerda Khusus PDI-P Kalbar, Kamis (12 September 2024).
“Kita berpartai, namanya politik itu untuk mencapai satu tujuan. Tapi harus berpolitik dengan etika dan santun. Saya tahu, mereka ingin mengacaukan psikis saya,” kata Norsan kepada wartawan membela diri.
Bicara soal etika dalam perpolitikan, kisahnya sama saja dengan apa yang terjadi antara Sutarmidji dengan PPP (Partai Persatuan Pembangunan) yang telah membesarkannya selama 1/4 abad.
Dari anggota/ketua DPRD dan Ketua PPP Kota Pontianak, wakil walikota, walikota Pontianak dua priode, dan Gubernur Kalbar (2018-2023), diusung dan didukung oleh PPP.
Lantas tahu-tahu kini sebagai cagub Kalbar 2024-2029 meloncat ke Partai NasDem untuk rebutan kursi KB 1 berkontestasi dengan Ria Norsan mantan taysennya.
Hanya saja, beda sikap dengan Partai Golkar, tidak ada tindakan pemecatan oleh PPP terhadap Sutarmiji, sang kader yang sudah diberi nikmat asam-garam perpolitikan puluhan tahun oleh partai berlambang Ka’bah itu.
Adakah PPP sakit hati atau menaruh dendam kepada Sutarmidji yang pergi tanpa pesan itu?
“Tak ada dendam, cuma tetap ingat”, kata Ustazd Miftah – Sekretaris DPW PPP Kalbar suatu ketika.
Maka setelah putusan MK No.60, meluncurlah PPP bersama Partai HANURA bergabung dengan PDI-Perjuangan mendukung Ria Norsan, tidak ke Sutarmidji, mantan kader PPP yang pergi tanpa pamit itu.
Bertolak dari fakta itu semua, mestinya berlaku etika, datang nampak dada, pergi nampak pungung.
Tapi apa yang terjadi, pemahaman teori kekuasaan dari Machiavelli yang diberlakukan, “tinggalkan kawan dan semua tetek bengek etika serta sopan santun demi tercapai tujuan!”
What nex ??? (Pontianak, Ahad 15 September 2024)
