Banner Event

Asal Mula Berdirinya Kota Pontianak dan Peran Dentuman Bunyi Meriam

ARTIKEL berikut, hanyalah akan meluruskan peran suara meriam yang disebut sebagai pengusir hantu-hantu puntianak atau kuntilanak. Hantu-hantu berjenis kelamin perempuan itu, konon bertengger di pepohonan dan beterbangan di sekitar areal yang akan dijadikan sebuah kota.

Nama Pontianak menurut kisah, karena ditemukan adanya satu ayunan anak-anak di dalam hutan yang dirintis atau dibuka untuk menjadi sebuah negeri (kota). Ini yang melatarbelakangi nama Pontianak, berasal dari kata ponti (ayunan), karena ayunan tersebut menyerupai ayunan anak kecil, maka digabungkanlah nama ponti itu dengan anak menjadi ponti-anak, Pontianak.

Ada pula yang menyebut bermula karena orang-orang Cina (pedagang) yang kemudian singgah ke negeri (kota) yang baru dibuka, menyebutnya dengan pontian yang artinya singgah atau tempat persinggahan atau mampir.  

Itu sekadar kontroversial tentang nama yang bukan masalah, tidakmengganggu catatan sejarah berdirinya Kota Pontianak.

Adapun hal-ihwal berdirinya Kota Pontianak, Ketika Syarif Abdurachman Alkadri akan membuka hutan rimba untuk dijadikan sebuah kota kerajaan di persimpangan antara Sungai Kapuas – Sungai Landak.

Di kanan-kiri sungai kecil tersebut dipenuhi hutan rimba, tapi dinilai oleh Abdurachman Alkadri, strategis untuk didirikan sebuah kerajaan.

Namun, tatkala armada rombongan Abdurachman Alkadri merapat di pinggiran simpang tiga  Kapuas – Landak menjelang magrib, mereka mendapat gangguan oleh hantu-hantu perempuan yang beterbangan sambil mengilai (tertawa mengerikan).

Maka, menurut cerita yang berkembang, para pengikut Abdurachman Alkadri melepaskan tembakan peluru meriam dari armada rombongan (dua buah perahu besar), mengusir hantu-hantu pontianak itu hingga berhamburan (berlarian ketakutan).

Kisah sebenarnya, hantu-hantu pontianak itu bukan berhamburan karena ketakutan oleh suara dentuman meriam dari armada rombongan Abdurachman Alkadri.  Hantu-hantu Pontianak itu beterbangan dan menghilang ketakutan karena mendengar suara azan magrib yang dikumandangkan oleh Abdurachman Alkadri dari haluan perahunya.

Usai shalat magrib berjamaah, berzikir dan berdoa di perahu mereka, rombongan merasa aman atau tidak lagi mendapat gangguan dari hantu-hantu perempuan tersebut.

Jadi, hantu-hantu pontianak itu bukan terusir atau takut pada dentuman peluru-peluru meriam, melainkan ngeri pada salawat dan azan yang dikumandangkan oleh Abdurachman Alkadri.

Sedangkan riuh-rendah bunyi meriam yang disulut dari armada rombongan, sebagai ujud rasa gembira para pengikut Abdurachman Alkadri atas kemenangan ngacirnya hantu-hantu pontianak itu yang lari ketakutan, beterbangan kemana-mana.

Maka patut disebut Pontianak sebagai Kota Religi bukan Pontianak Kota Hantu. Sementara even Meriam Karbit harus dijaga atau dilestarikan sebagai budaya yang tak terpisahkan dengan awal sebab-musabab raibnya hantu-hantu pontianak tempo doeloe itu.

Lalu, tentang siapa sebenarnya Abdurachman Alkadri dan asal usulnya yang kemudian dinobatkan menjadi Sultan Kadriyah I, akan Redaksi sampaikan pada bagian lain terkait Artikel ini.*

Comments
Loading...