
Kolom, Effendy Asmara Zola
“Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Tambi merupakan panggilan untuk orang Keling laki-laki yang masih muda, seperti panggilan kepada Buyung, Ucok, dan lain-lain. Tambi juga berarti pelayan, jongos, kacung, atau pesuruh kantor yang disematkan kepada orang Keling.”
NAMUN, Tambi tak selamanya juga sebagaimana yang didefinasikan atau diartidasarkan oleh KBBI. Keberadaan Tambi tempo doeloe yang terpolitisasi oleh pandangan kolonial Belanda di Indonesia, beda dengan Tambi kekinian.
Tambi dari masa ke masa mengalami perubahan dalam peningkatan status strata lingkungan sosial mereka. Tambi tak lagi sekadar jongos, banyak yang sudah jadi Boss. Tambi tak lagi cuma sekadar jongos atau pesuruh kantor, sebaliknya banyak yang malah sudah berkuasa bisa menyuruh-nyuruh orang sekantor, jadi kepala kantor hingga menjadi kepala daerah.
Siapa sih sebenarnya Tambi itu?
Orang di Sumatera menyebutnya Keling, tapi di Pasar Baru mereka yang banyak berbisnis tekstil, orang Jakarta menyebutnya orang Bombay. Di Pontianak dan kota-kota pesisir di Provinsi Kalimatan Barat, mengenal mereka dengan sebutan Tambi untuk semua tingkat usia, baik dia laki-laki maupun perempuan.
Mereka sebenarnya tak sama dengan Bombay di Pasar Baru yang kebanyakan hindustan, karena Tambi di Pontianak rata-rata muslim. Entah dari belahan bumi sebelah mana di negeri Boliwod asal-usulnya, tapi seingat saya yang tua-tua berwajah rada-rada mirip Mahatma Gandhi.
Mereka rata-rata berkulit hitam dan pengunyah sirih, punya ciri khas suka geleng-geleng kepala kalau berbicara. Menolak dia menggeleng, mengiyakan atau setuju dia pun menggeleng juga. Mereka terkenal sangat pelit, sehingga nenek-moyang kami tempo doeloe punya pameo, ‘kalau ketemu ular dan Tambi, singkirkan dulu Tambi, ular biarkan lewat dengan aman’. Konon Tambi lebih kuat belitnya dibandingkan dengan belitan ular.
Diskusi warung kopi kami kali ini, bukan soal si Tambinya, tapi tentang situasional penganan masyarakat di zaman berkiprahnya si Tambi sejak setelah kemerdekaan hingga ‘raib’nya mereka di tahun-tahun ’70-an meninggalkan anak cucu dari perkawinan silang mereka dengan muslimah pribumi.
Di masa-masa itu, sejak masih bocah hingga dewasa, Tambi-Tambi yang saya kenal kebanyakan punya pabrik rumahan membuat roti dari bahan tepung gandum, gula dan pengembang berupa ragi atau tapai. Ada juga yang tawar non gula alias roti tawar.
Membuatnya pun sangat sederhana alias manual, dipanggang di dalam kawah besar berdiameter sekitr 3 x 3 x 1,5 meter dengan pembakaran kayu arang. Produknya pun populer dengan nama Roti Tambi, dan mereka pun dikenal sebagai Tambi Roti.
Manual dan unik, berjam-jam Tambi-Tambi Roti itu mengaduk-aduk adonan campuran bahan roti, bersimbah peluh alias keringat yang menetes dan barangkali juga ada yang masuk ke dalam adonan, belum lagi sambil ngobrol bersemburan ludah air sirihnya. Ya, mereka rata-rata penyirih, bukan perokok.
Mereka tidak pakai baju ketika memanggang roti di kawah besarnya, hanya celana pendek (kolor) jahitan sendiri dari kain bekas karung gandum.
Petang hari adonan dimasukan ke dalam cetakan dan dimasukan ke dalam kawah yang apinya menyala-nyala. Ba’da salat Ashar, mereka siap menjajakan roti produknya bersepeda, dan Tambi Hamid cuma berjalan kaki menjunjung roti di bawah tudung saji besar masuk keluar gang dengan teriakan khasnya, “roti… roti”. Begitu tiap hari, menjelang Magrib, jualan habis, laris manis.
Tidak seperti di era teknologi canggih seperti kekinian, ada Belalang Bakery, Cebong Bakery, atau Kampret Bakery yang tak jelas halal haramnya. Beruntung masih ada warga UMKM yang dengan Bismilah berkiprah di roti gandum atau blodar tanpa campur keringat.
“Barangkali lezatnya Roti Tambi dulu, karena bercampur keringat dan semburan liur air sirih si tambi itu,” seloroh seorang teman diskusi.
Dulu ada juga Tambi yang berkiprah membuka resto Roti Cane. Terkenal dengan nama Roti Cane Tambi Latif, almarhum, dan hingga sekarang diteruskan para ahli warinya di beberapa lokasi di Pontianak.
Di kota kelahiran saya, Pontianak, kala itu terkenal ada tiga lokasi rumah berkawah pembuatan Roti Tambi. Satu yang terbesar ada di Gang Nurdin yang kemudian ganti nama Jalan Meranti milik Tambi Hamid, lalu di Jalan Jenderal Urip dikelola oleh Tambi Azis, kini sudah jadi sederetan Ruko, satunya lagi di gang kecil disamping Landraat (pengadilan) dan di belakangnya ada Kerkove atau komplek pekuburan orang Belanda.
Ngomong-ngomong soal Tambi Roti atau Roti Tambi, sebenarnya tidak semua Tambi di kota ini berkiprah di bidang perotian. Adalah Tambi Abu Bakar sebagai penjual buku-buku pelajaran sejak tahun ’50-an. Terkenal sebagai Toko Buku Abu Bakar, toko buku pertama dan satu-satunya yang ada di Pontianak kala itu. Padahal bukan toko, tapi cuma di rumah kediamannya yang tumpeg-bleg dengan macam-macam buku pelajaran SR (Sekolah Rakyat, kini SD) hingga SLTA, serta juga majalah-majalah hiburan pada masa itu.
Banyak orang pintar di kota ini menjadi pemimpin dibesarkan berkat Toko Buku Abu Bakar, seingat saya antara lain dr.Buchari A.Rakhman (almarhum) yang pernah jadi Dir.RSUD Soedarso dan Walikota Pontianak, Prof.Syarif Masyhor Almutahar, SH (almarhum) Purek IV UNTAN dan pernah Kakanwil Dikbud Kalbar, dan lain-lain.
Berjualan buku-buku pelajaran dan bacaan-bacaan bermanfaat lainnya, terus menurun ke anak cucu/cicit nya, seperti H.Prof Abdul Hamid, M.Eng pernah buka lapak jualan buku semasa SMP/SMA di tahun ‘60an, bersebelahan lapak dengan lapak buku-buku saya di pasar yang juga berjualan buku-buku.
Bahkan H.Sutarmidji, MH., M.Hum yang terkait bersilsilah langsung turunan Tambi Abu Bakar, pernah menghabiskan masa ABGnya dengan berjaja koran dan majalah dari kantor ke kantor sampai akhirnya menjadi Dosen,Walikota Pontianak dua priode, dan Gubernur Kalbar, sekarang incumben Cagub Kalbar 2024-2029.
Seasik mendiskusikan Roti Tambi dan Tambi Roti, asik juga mengikuti debat perdana Cagub/Cawagub Kalbar – Sutarmidji/Didi Haryono vs pesaingnya mantan Wagub Ria Norsan bersama taysennya Krisantus Kurniawan, mantan anggota DPR RI, pada Rabu (23 Oktober 2024) malam.
Menurut Cagub Sutarmidji, cagub yang musuh bebuyutannya itu – Ria Norsan, dalam penyampaian visi-misinya, hanya mimpi klasik yang tak asik. Sehingga akhirnya sang incumbent memberikan sindiran tajam. Bahwa cara cagub nomor 2 (Ria Norsan) turunkan angka pengangguran terbuka (APK) masih cara klasik.
Menganggap cara klasik itu tak asik, sang incumbent, Sutarmidji, melancarkan skak mat:
“Seorang calon kepala daerah harus memahami tatakelola pemerintahan, serta tugas pokok dan fungsi (tupoksi) agar pemerintahan yang dipimpin bisa berjalan dengan baik. Maka yang memimpin harus paham tentang tata kelola pemerintahan. Karena, tanpa paham dengan tata kelola pemerintahan, maka pemerintahan tersebut tak akan bisa berprestasi,” sindir mantan bocah penjual koran 1973 yang cucu Tambi Abu Bakar itu.
Jangankan tatakelola pemerintahan, tatakelola pembuatan Roti Tambi saja, Para Tambi harus berdasarkan pengetahuan ‘tupoksi’ pengadonan terigu, gula, ragi, garam, dan kadar panas pemanggangannya. Karena kalau tidak, Roti Tambi bisa kepanasan menjadi Roti Kelatak yang keras bedengkang itu.*
Baca juga Artikel terkait: Debat Pertama: Midji Sebut Cara Cagub Nomor 2 Turunkan Angka Pengangguran Masih Klasik
