AKSIBORNEO – “Anak korban penculikan ibu rumah tangga, Santi, membantah keterangan polisi, bahwa motif asmara yang melatarbelakangi penculikan ibunya.”
DIKETAHUI terdahulu, bahwa Santi Agustina (43) merupakan korban penculikan di Antapani, Kota Bandung, Jawa Barat, pada Ahad (8/12-2024).
Penculikan dipergoki Villa, anak korban, dari pantauan cctv di rumahnya. Sesaat kemudian melalui akun X @xvelt, Villa membagikan peristiwa itu dan viral.
Penculikan dilakukan oleh 4 orang lelaki, dan semua pelaku yang diantaranya bersenpi (senjata api), sudah berhasil diringkus polisi dalam waktu singkat.
Keempat pelaku adalah DAS (Donny Agusta/48), AS (Agus Supriatna/35), TTG (Tatang/51), dan HAR (Hariyanto/51).
Kabid Humas Polda Jawa Barat, Kombes Jules Abraham Abast maupun Kasatreskrim Polrestabes Bandung AKBP Abdul Rachman menuturkan, bahwa otak penculikan adalah DAS karena tak terima hubungan asamaranya dengan korban (Santi) diputus sepihak. Jadi motif penculikan pelaku utama, DAS adalah masalah asmara.
Namun Vella membantah keterangan atau pernyataan yang disampaikan kepada awak media tersebut, menyebut motif asmara yang beredar di media sosial adalah fitnah. Motif bisnis adalah yang sebenarnya terkait kerjasama usaha keluarga.
Melalui akun X @xvelt, Vella menerangkan hubungan sebenarnya Donny dengan keluarganya.
“Saya sebagai anak korban, saya ingin mengklarifikasi tuduhan yang sudah semakin simpang siur dan terlalu jauh dari fakta.”
“Pelaku utama ini dendam karna jauh sudah lebih dari 5 tahun lalu pernah menjadi kepercayaan keluarga saya dan kerjasama perihal usaha keluarga.”
“Tapi ternyata terungkap bahwa dia itu penipu sudah cukup merugikan banyak orang juga dan yang ditipu itu bukan hanya keluarga saya saja.”
Setelah itu, kata Vella, ibunya justru mendapatkan ancaman dari pelaku.
“Tapi hal itu malah berbalik mamah saya yang diancam karna mamah saya memikirkan keselamatan saya dan adik-adik. Mamah saya sempat ada negosiasi juga dengan orang tersebut dulu.”
“Kenapa ga langsung lapor beberapa tahun lalu? karna sekali lagi mamah saya takut hal tidak diinginkan dilakukan pelaku tersebut terjadi kepada anak-anaknya (saya dan adik-adik saya).”
“Sampai akhirnya mamah saya sudah lebih berani untuk berbicara dan memutus kerjasama dengan pelaku tersebut pada saat itu.”
“Sudah sekitar 6 tahun kejadian itu mamah saya pun sudah berpikir masalahnya sudah selesai tidak ada kabar apapun dari orang tersebut,” ucapnya.
“Tapi namanya juga sifat manusia tidak ada yang tau pelaku ini menyimpan dendam kepada mamah saya dan tidak suka melihat mamah saya bahagia selama ini,” tulisnya.
“Papah saya pun sudah berusaha melindungi keluarga semaksimal mungkin selama ini,” jelas dia.
“Saya berharap dengan klarifikasi saya masyarakat dapat memahami situasi yang sebenarnya,” pungkasnya.
Kabid Humas Polda Jawa Barat, Kombes Jules Abraham Abast, sebelumnya dalam keterangan pers menuturkan, motif asmara dimaksud baru berdasarkan keterangan lisan DAS yang perlu pendalaman lagi kebenarannya. Sedangkan Santi korban penculikan masih syok, belum bisa dimintai keterangan yang memperlambat penyidikan.*
Artikel Terkait sebelumnya:
