AKSIBORNEO – “Banjir besar yang melanda beberapa desa di Kabupaten Landak sejak beberapa hari lalu, masih menyisakan kepedihan mendalam bagi penduduknya.”
KABUPATEN Landak yang merupakan pemekaran dari Kab.Mempawah sejak beberapa tahun silam ini, berjarak 137,2 Km dari Kota Pontianak – ibukota Prov.Kalbar, dapat ditempuh melalui transportasi darat sekitar 3,5 jam.
Kabupaten seluas 9.909 Km2 atau 6,75% dari luas Kalbar berpenduduk 409.575 jiwa ini, terhimpun oleh 156 desa, 5 Kelurahan, dalam 13 kecamatan.
Sedikitnya 7 desa diantaranya, memaskuki pekan ketiga awal tahun ini, sejak Selasa 21 Januari, ditenggelamkan oleh banjir luapan Sungai Banyuke yang bermuara di sungai Landak. Ini merupakan banjir terparah dalam kurun waktu 30 tahun terakhir di kabupaten ini, diperparah guyuran hujan lebat, menenggelamkan ribuan rumah dan sekolah.
1.Menyuke, 2. Meranti, 3. Banyuke Hulu, 4. Mempawah Hulu, 5. Menjalin, 6. Mandor, dan 7. Ngabang.
Ketinggian air bervariasi antara 1,5 – 3 meter lebih hingga atap rumah yang diperparah oleh turunnya hujan lebat.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Landak, per Kamis (23/01-2025) menyatat terdapat 48 titik bencana yang meliputi 46 titik bencana tanah longsor dan 2 Titik bencana banjir.
Pemkab Landak telah menetapkan status tanggap darurat bencana dimulai sejak 22 Januari 2025 hingga 22 Februari 2025.
Selain itu, Pemkab Landak juga sudah membentuk pos komando dengan berkoordinasi bersama sejumlah pihak terkait untuk melakukan monitoring dan pendataan terdampak bencana serta evakuasi bagi para warga terdampak.
“Saat ini air masih meninggi, yang agak surut di Kecamatan Mempawah Hulu,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Landak, Herman Masnur, kepada Pro 3 RRI, Kamis (23/1-25) malam.
Dia menyebutkan, Banjir di Kecamatan Menyuke juga mengakibatkan lumpuhnya akses transportasi dan telekomunikasi.
“Jadi kita tidak bisa koordinasi dengan mereka di Darit, kecuali mereka cari tempat yang ada jaringan baru bisa telepon. Komunikasi dengan staf juga susah,” ujar Herman.
BPBD Kabupaten Landak telah mengerahkan seluruh personel dan peralatan, terutama perahu, guna mengevakuasi warga sampai ke titik-titik tertentu.
Herman menjelaskan, pihaknya telah menyiapkan posko pengungsian yang disiapkan di Kantor Camat Menyuke. Namun, banyak warga yang memilih mengungsi ke rumah-rumah kerabat mereka.
Ia mengungkapkan bahwa data detail mengenai kerusakan dan jumlah korban belum dapat diperoleh. Karena, para kepala desa masih sibuk membantu warganya.
Diberitakan sebelumnya, Kepala Desa Darit, Ardiono menjelaskan bahwa banjir ini dipicu oleh tingginya curah hujan yang mengguyur wilayah tersebut selama beberapa hari terakhir. Ia menambahkan, situasi semakin darurat karena banyak warga yang masih terjebak di rumah mereka tanpa akses evakuasi.
“Kami sangat membutuhkan bantuan logistik, pangan, obat-obatan, dan terutama perahu karet untuk melakukan evakuasi warga. BPBD sudah berupaya, tetapi masih memerlukan dukungan tambahan dari berbagai pihak,” kata Ardiono.
“Situasi ini menjadi perhatian serius mengingat tingginya risiko kesehatan dan keselamatan bagi warga yang terjebak banjir”, tulis Pro 3 RRI Pontianak.”***
