Banner Event

Ria Norsan Diantara “Pemain” dan “Cium Lutut”

DI ERA gelobalisasi informasi sekarang antara para hamba jelata (rakyart) dan umara sudah tak ada jarak. Tak ada sekat yang dapat menghalangi keterbukaan informasi. 

Umara merupakan pemegang kekuasaan, sebagai pemimpin pemerintahan. Penguasa, pemegang kekuasaan yang berwenang mengeluarkan kebijakan untuk kemaslahatan umatnya (rakyat). Pemegang amanah yang mengatur pri kehidupan orang banyak secara mestinya bijaksana dan menegakkan hukum.

Pemimpin dituntut menjaga adab, dari lisan hingga prilaku sebagai ulil amri. Ulil amri tentu  seorang yang berilmu kepemimpinan guna menjaga amanah dan marwah –  dimana ia didaulat untuk memimpin dengan kematangan ilmunya. Namun, ilmu saja tak cukup kalau tak beradab. Kesemuanya menjadi perhatian rakyat, kalau tak ingin disebut sekadar pemimpin di belakang meja di ruang ber-AC.

Seorang pemimpin harus mampu bersikap responsif bukan reaktif seperti yang dipertontonkan Ria Norsan – Gubernur Kalimantan Barat saat ini. Terkait ketika menyikapi keritik masyarakat prihal wajah buram infrastruktur jalan di Kabupaten Sintang. Sang gubernur memberikan reaksi keras atas input via medsos (media sosial) yang mestinya merupakan informasi berharga dari warga terdampak.

Bahwa katanya, video viral dari berbagai platform sengaja diseting, mendiskreditkan dirinya untuk menjatuhkan. “Pasti! Ada pemain. Saya tahu siapa”, ujarnya memastikan.

Di waktu dan tempat yang berbeda, Krisantus Kurniawan – wakil gubernur di suatu forum resmi menantang KDM (Dedi Mulyadi) – Gubernur Jawa barat, bahwa dirinya akan mencium lutut gubernur populer itu kalau sanggup membenahi Kalimantan Barat yang ditopang APBD hanya Rp.6 triliyun lebih. KDM menjawab, “mohon maaf kalau Jawa Barat menyingguang daerah lain”. Jawaban yang cukup mendalam.

Warga net bereaksi minta tunjuk hidung siapa ‘pemain’ di balik video viral yang katanya setingan. Atau Ria Norsan sendiri pemainnya? Atau wakilnya sendiri yang bermain drama? Mengingat hubungan keduanya sempat suram karena satu paket jarang bisa bertemu. Sampai-sampai dalam satu kesempatan di tahun pertama kepemimpinan mereka, September 2025, Krisantus sempat melempar sindiran berupa pantun. “Kucing kurus mandi di papan, mandi di papan si kayu bungur, bukan kurus karena tak makan, tapi kurus memikirkan kepingin jadi gubernur”.

Hal-ihwal ‘cium lutut’ KDM mendapat reaksi cemoohan dari warga net seantero jagat Kalbar dan Jabar, “KDM jangan dilawan!”

Beda dengan Bupati Sintang (Herkulanus Bala) yang cepat tanggap merespons keluhan warganya dengan pernyataan minta maaf, bahwa terbengkalainya pembangunan infrastruktur jalan terdampak yang ada, diakui sebagai salah satu kelalaian pihaknya. Bupati ini pun langsung mengirimkan alat berat merehab jalan di desa kecamatan terdampak. Clear.

Bahkan teranyar facebooker Elisabet Rose dari Kabupaten Landak bak minta ‘tukar guling’ dengan Sudjiwo – Bupati Kubu Raya – untuk memperbaiki kondisi infrastrur jalan terdampak di Kabupaten Landak. Bupati Landak saat ini, Karolin Margret Natasa, tengah berkuasa di priode ke II, 2025-2030.

Untuk diketahui, Sudjiwo adalah Bupati Kabupaten Kubu Raya (KKR) yang viral baru 1,5 tahun berkuasa disebut-sebut sebagai bupati lapangan tanpa fee proyek. Bukan kepala daerah belakang meja di ruang ber-AC, sehingga ada warga net yang menjuluki sang bupati sebagai KDMnya Kalimantan Barat. Lalu, apakah Wakil Gubernur – Krisantus Kurniawan lantas akan menyium lutut Sudjiwo juga?

Ketika deklarasi cagub-wagub Kalbar, Agustus 2024, dengan semboyan “Semangat Baru” – mirip nama kesebelasan sepakbola yang pernah ada di Pontianak, Ria Norsan – Krisantus berjanji akan memprioritaskan pembangunan pada infrastruktur jalan. Diamini oleh Lasarus – Ketua Komisi V DPR-RI dan Ketua DPD PDI-P Kalbar.

Apaboleh buat, kini Ria Norsan mantan politisi partai Golkar yang tiba-tiba loncat pagar ke Gerindra, bersama Krisantus politisi PDIP yang mantan anggota DPR-RI, terlanjur dijuluki pasangan 11 – 12 oleh publik, karena sikap keduanya yang reaktif di bawah ucapan yang entah pidato entah orasi.

Jadi, bukan masalah klasifikasi jalan kabupaten, jalan provinsi, atau jalan negara, tapi ikhwal sikap tanggap yang non responsif atas aspirasi rakyat.

Entah apa yang diserap kedua tokoh ketika pra jabatan, sehingga emosi lebih masif daripada logika akal sehat. Menyalahkan orang lain bak pribahasa buruk rupa kaca dibelah.

Pernyataan bahwa seorang pemimpin harus dapat mengendalikan emosinya adalah benar dan fundamental dalam manajemen serta kepemimpinan. Ini merupakan inti dari kecerdasan emosional (EI) yang sangat dibutuhkan untuk menjadi pemimpin yang efektif.

Pemimpin yang mampu mengendalikan emosi (terutama saat stres) akan tetap tenang, sehingga dapat menganalisis situasi dengan logis dan berpikir sebelum bereaksi.

Pemimpin yang cerdas secara emosional mampu mengubah konfrontasi negatif menjadi dialog pemecahan masalah. Dia responsif tidak reaktif dalam kepemimpinannya.* Pontianak, 040526.

Catatan Redaksi, *penulis wartawan senior di Kalbar/Pimred Aksi Borneo.

*“Tamparan” buat Ria Norsan, Warga Minta Tukar Tambah dengan Gubernur KDM

*Ria Norsan Disebut ‘Ngeles’ di Balik Fakta Buruknya Infrastruktur Jalan di Kalbar

*Di Balik Wajah Buram Infrastruktur Kalbar, Ria Norsan Sebut Ada yang “bermain”

*Gubernur Kalbar dan Wagub Disebut 11 : 12 Siap Cium Lutut KDM Senilai  Rp6Triliun 

Gubernur Kalbar Ria Norsan Bisa Jadi Tersangka Kerugian Negara Rp.40,-Miliyar

Comments
Loading...