
by, Effendy Asmara Zola
ADA senyum lebar sekaligus tangis renyah ketika Nanik Sudaryati Deyang mendapat ‘durian runtuh’ ditunjuk lalu dilantik menjadi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).
Kalau benar ceritanya, tak pernah mimpi sebelumnya bakal menduduki jabatan mentereng di pemerintahan.
Pengakuan Nanik, dia baru saja berada di Surabaya waktu dihubungi Presiden Prabowo Subianto untuk segera balik ke Jakarta dalam kesempatan prioritas.
Oh, rupanya mantan wartawati ini ditunjuk Prabowo untuk menjadi orang nomor satu di BGN, kepala lembaga bergengsi itu. Lembaga produk Joko Widodo, Presiden ke-7 RI yang buktinya ladang korupsi, sehingga menimbulkan banyak kerunyaman dan sengkarut dalam urusan MBG.
Nanik S Deyang yang juga Wakil Kepala MBG, ditunjuk dan dilantik untuk menggantikan Dadan Hindayana yang baru saja dicopot sehari sebelum dicomot Kejagung RI. Di hari yang sama, dua wakil Dadan, yaitu Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung juga diperlakukan sama – dicopot dulu baru dicomot Kejagung, 3 Juni 2026.
Mengapa bukan ditangkap dulu baru kemudian dipecat? Bukankah sistem hukum kita menganut azas praduga tak bersalah? Posisi pimpinan bisa saja Plt (pelaksana tugas) untuk sementara.
Bagi Nanik yang sekarang ini berusia 58 tahun, kelahiran Madiun, Jawa Timur 3 Januari 1968, peduli setan dengan masalah hukum. Dia sudah merasa nyaman diberi kenyamanan melenggang diantara senyum dan tangis ulat MBG.
Nanik tak dapat membendung air mata ketika pelantikan dan pasca pelantikan dirinya sebagai pejabat tertinggai di BGN, bersama dua wakilnya, Agustina Arumsari dan Mayjen TNI (Purn) Trenggono.
“Saya pengen anak-anak Indonesia terpenuhi gizinya. Pengen anak-anak Indonesia ini tidak ada yang kelaparan,” tangisnya terisak.
Air mata buaya? Karena Nanik akan beraksi di anggaran jumbo Rp.286 triliun yang semula disebut-sebut 350 triliun rupiah.
Mantan jurnalis yang tidak dikenal publik, tidak sepopuler Nazwa Shihab misalnya, tapi disebut-sebut sebagai senior di dunia jurnalistik itu, juga tak bergeming dengan hujatan yang menyebut dirinya tak berkompeten – untuk kedudukan mentereng di lembaga yang berkaitan erat dengan hal-ihwal gizi tersebut.
Bukan soal kompetensi wartawan atau mantan wartawan boleh tidaknya bergoyang ria di kursi empuk pemerintahan, tapi soal pendidikannya yang gak nyambung dengan keilmuan untuk jabatan yang disandangnya.
Nanik S. Deyang merupakan lulusan S1 Fakultas Biologi di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), S2 di program di program Magister Ilmu Kehutanan Universitas Gajah Mada (UGM).
Biologi adalah ilmu dasar yang mempelajari seluruh makhluk hidup dan kehidupannya, sedangkan Ilmu Gizi adalah cabang ilmu terapan yang berfokus secara spesifik pada hubungan antara asupan makanan dengan kesehatan tubuh manusia.
Sedangkan Ilmu Kehutanan mempelajari cara mengelola, merawat, melestarikan, dan memanfaatkan ekosistem hutan secara berkelanjutan.
Dimana korelasinya dengan hal-ihwal gizi pada MBG – BGN?
Namun, kedekatan Nanik dengan Presiden Prabowo Subianto, telah terbangun secara konsisten dalam lanskap politik nasional. Itu sejak Nanik memegang peran strategis di garda depan sebagai Wakil Ketua Badan Kemenangan Nasional Koalisi Adil Makmur.
Hubungan dan kepercayaan politik yang terjaga erat tersebut membuat Nanik kerap menempati posisi-posisi krusial.
Pada 17 September 2025, Nanik diangkat menjadi Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), sekaligus memberhentikannya dari jabatan Wakil I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan.
Pada 2 Juni 2026, Nanik naik jabatan diangkat sebagai Kepala Badan Gizi Nasional menggantikan Dadan Hindayana yang kini tersangka korupsi bersama dua eks wakilnya, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung.
Apa bedanya pada Dadan Hindayana yang ternyata Doktor Ahli Hama dengan Nanik S Deyang yang bukan pula ahli gizi itu?
Apakah hanya dengan loyalitas akan dapat menjamin kualitas asupan gizi pada MBG yang telah menelan korban keracunan ribuan anak-anak penerima manfaat itu? Sementara rakyat minta program MBG dihentikan dengan solusi pengganti dari anggaran yang ada.
Maka pergantian dari eks Kepala BGN Dadan Hindayana ke Nanik S Deyang yang semula juga Wakil Kepala menjadi Kepala BGN itu, tak ubahnya ibarat Ular Berganti Kulit !***(Pontianak, 180626)
*Catatan Redaksi; Penulis wartawan senior di Kalbar, pimpinan redaksi AKSIBORNEO
