Kolom, Effendy Asmara Zola
MASIH adakah kejujuran di negeri yang kaya dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia ini? Sebuah pertanyaan yang menggema, karena kejujuran diketahui telah menjadi momok bagi kekuasaan.
Di era yang serba membawa sengsara di tanah air yang dijuluki Negeri Konoha ini, kejujuran seakan tak mendapat tempat dalam keseharian.
Di dalam pemerintahan kita dari masa ke masa sebenarnya masih banyak orang jujur. Meski tak sedikit yang sok jujur dengan laporan ABS ke atasan untuk tujuan kepentingan pribadi atau kelompok.
“Sekeranjang kebenaran tak akan bisa melawan segenggam kekuasaan”, ujar Zainab terbata sebelum mengembuskan nafas terakhir. Zainab aktivis “66 berjaket kuning berlumuran darah menyusul rekannya, Arief Rakhman Hakim, yang juga gugur ditembus peluru tajam di depan istana negara ketika menggulingkan Orla, Orde Lama.
Kini, di tengah riuh rendah kekuasaan yang mempertahankan program MBG (makan bergizi gratis) yang dipelesetkan menjadi Maling Berkedok Gizi atau Makan Beracun Gratis dan terbukti, serta tuntutan UU Perampasan Aset Koruptor yang ngambang di DPR RI, tiba-tiba publik dikejutkan oleh sebuah tindakan mendadak yang dinilai diluar kepatutan terhadap kejujuran.
Padahal rakyat yang tengah remuk anggaran pendapatan dan belanja dapur, masih menaruh harapan perbaikan di tangan seorang yang Shidiq – jujur, arif bijaksana, dan Amanah – bisa dipercaya sebagai pemimpin yang tengah menjadi sorotan rakyat. Dia adalah Purbaya Yudhi Sadewa, mantan Menkeu Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto.
Purbaya menjalankan amanah negara dengan prestasi yang dinilai positif oleh publik, tiba-tiba tanpa sebab yang jelas, dia dicopot oleh ‘bapak’ via saluran jarak jauh di tengah tugas membicarakan urusan negara di DPD-RI, Senin 14 September 2026.
Purbaya Yudhi Sadewa adalah seorang ekonom dan teknokrat Indonesia yang didepak dari jabatan sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia. Padahal baru setahun mengabdi dari 8 September 2025 hingga 14 September 2026.
Berbagai spikulasi ikhwal pencopotannya berseliweran. Soal Danantara adalah rumor yang ramai jadi pembicaraan publik, sebagai penyebab sang ekonum dicopot dari jabatan secara arogan.
Danantara (Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara), adalah badan pengelola investasi negara yang dibentuk untuk mengonsolidasikan dan mengoptimalkan aset serta dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Ada temuan angka Rp.120 triliyun Danantara yang tak disetor ke kas negara dan mendapat teguran Purbaya. Belum lagi hal-ikhwal internal sebelumnya, Purbaya melakukan perombakan jabatan di lingkungan Depkeu. Soal temuan pada perusahaan asing (China) yang melakukan penggelapan pajak dan sebagainya, tak luput dari perhatian publik. Purbaya bak menyimpan bom waktu bagi dirinya sendiri.
“Pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dari jabatan Menteri Keuangan disebabkan oleh kombinasi perombakan pejabat internal, konflik komunikasi, dan dinamika kebijakan”, tulis Kompas.com
Publik tidak menyoroti hal-ihwal ini wal itu wal hantu yang melatarbelakangi pencopotan si “Fatonah” dari kursi Menkeu, tapi cara pencopotannya yang dinilai arogan, bak menyabut batangan ubi kayu dari tanah yang gembur. Kendati hal itu adalah hak prerogatif Presiden. Tapi hendaknya seperti pribahasa Jawa mengatakan, ngono sih ngono tapi ojo ngono. Berwenang, tapi jangan sewenang-wenang.
Purbaya orang pilihan, ekonum dan insinyur Indonesia kelahiran Bogor 1964 dari ayah dan ibu, guru besar di ITB. Bukan orang baru sebenarnya di lingkungan Depkeu dan BUMN.
Purbaya sempat diingatkan oleh Ali Alwi dari Komite IV DPD RI agar berhati-hati, karena dinilai tampil berani dan mengambil berbagai kebijakan teknis yang pro-rakyat di tengah lingkungan banyak “serigala” atau serigala politik.
Kebijakan berani yang dikeluarkan Purbaya kala menjabat Menkeu, mendapat apresiasi karena dianggap berpihak kepada masyarakat. Namun kebijakan tegasnya, dikhawatirkan dapat memicu ketidaksukaan dari pihak tertentu atau mafia sektor tertentu yang merasa dirugikan.
Mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Immanuel Ebenezer Gerungan yang akrab disapa Noel, saat Purbaya menghadiri sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat pada Februari 2026, juga pernah menasehati agar Purbaya hati-hati.
Noel memperingatkan Purbaya agar waspada. Menurut Noel, kebijakan-kebijakan Purbaya sangat bagus tetapi berpotensi membuat banyak elite politik dan para “bandit” merasa terganggu.
Noel mengatakan, jangan sampai Purbaya di”Noel”kan seperti dirinya. Noel menggunakan istilah ini untuk menggambarkan kondisi di mana seorang pejabat yang lurus dan pro-rakyat, justru disingkirkan atau dijatuhkan menggunakan kasus hukum, karena kebijakannya mengusik kepentingan kelompok tertentu (mafia/bandit). Noel sendiri sempat tersandung kasus korupsi sertifikasi K3.
Purbaya menanggapi peringatan-peringatan tersebut dengan santai. Ia merasa kecil kemungkinan dirinya terseret kasus hukum atau ditangkap KPK, karena berkomitmen penuh untuk bekerja jujur dan tidak pernah menerima uang di luar gaji resminya sebagai pejabat negara.
Namun, kekhawatirandan atau ramalan Ali Alwi dan Noel menjadi kenyataan. Dikaitkan dengan realitas politik saat ini, akhirnya terbukti melalui pencopotan jabatannya itu.
Purbaya, tak mau menari megikuti irama gendang, karena sumpahnya demi kemaslahatan rakyat, bukan menari di atas penderitaan rakyat untuk kepentingan pribadi atau kelompok.
Hal tersebut awal-awal sudah ditegaskannya kepada para wartawan, bahwa dirinya tak takut mati. Apakah ditembak atau di”Munir”kan sekalipun, demi amanah negara yang diembannya.
“Saya akan kejar penjahat sampai kemanapun, tak perduli siapa orangnya”, ujar Purbaya.
Setelah dicopot dari jabatannya, Purbaya mengaku sempat tak bisa tidur semalaman.
“Namanya orang dipecat, ya mau apa lagi. Sekarang sudah tenang. Mau mancing saja. Di belakang rumah saya kan ada kolam, banyak ikannya. Duduk mancing sambil mikir apa dosa saya,” ujar Purbaya sambil tertawa lebar.
Ya, tapi harus tetap waspada. Jangan sampai terpancing ikan piranha.***Pontianak, 230926.
Penulis, Pimpred AksiBorneo
