“Masih terasa seronok suasana gembira ajang silaturakhmi Idul Fietri 1 Syawal 1444 Hijriyah yang baru kita lewati bertepatan dengan Sabtu 22 April 2023 disusul dengan tradisi halal bil halal dari kota sampai ke kampung-kampung.”
DISADARI atau tidak, ada hikmah yang bisa kita sematkan di dalam hati pada perayaan tahunan ummat Islam sedunia ini, tergantung pola hidup personal yang menjalaninya.
Para ulama dan atau para ustadz, bersudut pandang sama hal-ihwal antara perayakan Iedul Fitri beda dengan Lebaran. Meskipun dalam terminologi bahasa sama saja antara kedua istilah tersebut sebagai tanda kemenangan setelah satu bulan penuh memerangi segala macam nafsu-nafsi.
Dipetik dari sebuah riwayat yang diceritakan oleh Imam Bukhari, suatu ketika Saiyidina Umar bertandang ke rumah Nabi Muhhamad SAW. Apa yang dilihatnya adalah kondisi kamar penghuninya yang amat sangat sederhana.
Untuk diketahui, Umar adalah ayah dari Hafsah – salah satu isteri Nabi Muhammad SAW, sehingga Umar dengan leluasa ketika dipersilakan bercengkrama di dalam kamar saja.
Umar melihat, Rasulullah SAW berbaring di atas sehelai tikar yang terbuat dari pelepah kurma, tidak ada kain pelapis atau sprei, sehingga ketika Rasulullah bangkit dan bersandar di bantal, terlihat jelas bekas-bekas pelepah kurma di kulit ditubuh Rasulullah yang putih bersih.
“Mengapa engkau menangis yaa Umar”, tanya Rasulullah.
“Bagaimana aku tidak menangis yaa Rasulallah. Aku sedang melihat bekas tanda tikar yang engkau tiduri di badan engkau yang mulia, dan aku prihatin melihat keadaan kamar ini,” jawab Umar.
“Ya Rasulallah, berdoalah semoga Allah mengaruniakan kepada engkau bekal duniawi yang lebih banyak. Orang-orang Persia dan Romawi yang tidak beragama dan tidak menyembah Allah, tetapi raja mereka hidup mewah. Mereka hidup di taman yang ditengahnya mengalir sungai, sedangkan engkau adalah utusan Allah, tetapi engkau hidup dalam keadaan miskin”, kata Umar.
“Wahai Umar, sepertinya engkau masih ragu mengenai hal ini. Dengarlah, kenikmatan di akhirat nanti akan jauh lebih baik daripada kesenangan hidup dan kemewahan duniawi. Jika orang-orang kafir dapat hidup mewah di dunia ini, kita pun memperoleh segalanya itu di akhirat nanti. Di sana kita akan mendapatkan segala-galanya”, jawab Nabi.
Umar pun menyesal, lalu berkata, “Ya Rasulallah, mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk aku. Aku telah keliru dalam hal ini.”
Dengan demikian, pola hidup sederhana adalah ajaran Nabi SAW yang merupakan pengejawantahan rasa qanaah dan syukur. Ini adalah solusi bagi penyakit tamak, berlebih-lebihan dan kebakhilan.
Dengan kesederhanaan, hidup di dunia makin bermakna dan terberkahi. Sebab, hidup di dunia hanyalah sementara, amal shaleh terhadap sesama dan kebaktian kepada Allah SWT adalah kekal dan selalu menemani pelakunya.
Bertolak dari petikan sebuah riwayat perjalanan hidup Rasulullah tersebut, adakah diantara pemimpin kita dewasa ini yang rela hidup seperti itu? Bersyukur atas segala nikmat yang diberikan oleh Allah SWT demi ummat?
Fakta nyata yang terbalik, mari kita lihat para nyonya dari para petugas partai, mereka tak sungkan memamerkan nafsu ‘wah’.
Di hari raya Idul Fitri, Nyonya Partai Roti Mekar ambil kesempatan memamerkan tas bermerek masyaallah yang nilainya seharga Rp.250juta, sementara di bawah banyak kalangan yang sudah bangga dengan tas lelong (thrifting) yang bisa dijangkau cuma dengan Rp.25ribu. Ini pun sukur-sukur masih bisa didapat setelah atas perintah petugas partai, thrifting mesti dimusnahkan.
Ikhwal pamer di hari Lebaran tak lewat juga dari persaingan, Nyonya Muka Masam pakai kebaya model lengan pendek supaya terlihat gelang bersusun di lengannya. Dari gelang dan cincin bertahta intan sampai yang bermata setan.
Sofa dan meja serba new tiap lebaran. Cat rumah pun selalu berganti warna, alhamdulillah sih buat rezeki pekerja pengecatan.
Menanggapi hidup pemimpin yang mewah di hari yang fitri, tuan dan nyonya rumah punya alasan berlapis-lapis tak kalah sengit, bak kue lapis legit sampai lapis kelenjit yang sedang perang tanding vs kue kering di meja lebaran.
Kegembiraan menyambut puasa yang tak jarang diisi juga dengan acara buka puasa bersama Ramadan sampai hari ‘H’ Idul Fitri, baru saja terlewati. Kini masih ada hal bil halal yang sudah membudaya di tanah air guna membuat hubungan tersekat sebelumnya bisa menjadi cair. Silaturakhim mesti berlanjut jangan sampai menjadi katiaturakhim.
Namun ada pemandangan mengenaskan di hari lebaran, ketika ada tetamu lebaran yang teman atau masih famili semasa di kampung dulu, dicuekin saja karena disangka-sangka bakal keluar cuan untuk memberi angpao. Kalau pun bersalaman buang muka karena dianggap sudah tak selevel dengan yang menyalami. Lha, sia-sia toh puasa Anda?
Padahal puasa yang disebut ‘as-Shiyaam’ atau ‘as-Shaum’ yang berarti ‘menahan’, menahan diri nafsu-nafsi, antara lain menahan amarah dan rasa dendam. Maka menurut para ulama bulan puasa Ramadan disebut juga merupakan bulan tarbiyah, bulan pendidikan.
Maka Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menerangkan ada 3 golongan atau tingkatan dalam berpuasa. Shaumul umum, shaumul khusus, dan shaumul khususil khusus.
Ketiganya bagaikan tingkatan anak tangga yang manarik orang berpuasa agar bisa mencapai tingkatan yang khususil khusus.
Puasa level pertama disebut sebagai shaumul umum atau puasanya orang awam. Level puasa ini adalah yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang atau sudah menjadi kebiasaan umum. Praktik puasa yang dilakukan di level ini sebatas menahan haus dan lapar serta hal-hal lain yang membatalkan puasa secara syariat. Tidak mendapatkan pahala apa-apa.
Lalukedua, disebut sebagai shaumul khushus atau puasanya orang-orang spesial. Level nilainya very good. Mereka berpuasa lebih dari sekadar untuk menahan haus, lapar dan hal-hal yang membatalkan.
Tapi mereka juga berpuasa untuk menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan segala anggota badannya dari perbuatan dosa dan maksiat. Mulutnya bukan saja menahan diri dari mengunyah, tapi juga menahan diri dari menggunjing, bergosip, apalagi memfitnah.
Kalau zaman sekarang, mungkin termasuk juga menahan jari-jarinya agar tidak menyebarkan berita-berita bohong atau hoax, menahan otak dari pikiran kotor untuk menjegal orang untuk maju memimpin bangsa demi kemaslahatan ummat.
Kemudian yang ketiga, ini level yang paling tinggi menurut klasifikasi Imam Al-Ghazali, disebut shaumul khushusil khushus. Inilah praktik puasanya orang-orang istimewa, exellent.
Mereka tidak saja menahan diri dari maksiat, tapi juga menahan hatinya dari keraguan akan hal-hal keakhiratan. Menahan pikirannya dari masalah duniawiyah, serta menjaga diri dari berpikir kepada selain Allah.
Standar batalnya puasa bagi mereka sangat tinggi, yaitu apabila terbersit di dalam hati dan pikirannya tentang selain Allah, seperti cenderung memikirkan harta dan kekayaan dunia serta kekuasaan.
Bahkan, pada kelompok ketiga ini puasa dapat terkurangi nilainya dan bahkan dianggap batal apabila di dalam hati tersirat keraguan, meski sedikit saja, atas kekuasaan Allah.
Puasa kategori level ketiga ini adalah puasanya para nabi, shiddiqin dan muqarrabin, sementara di level kedua adalah puasanya orang-orang shalih.
Upaya Imam Al-Ghazali mengklasifikasi orang berpuasa ke dalam tiga level tersebut, tak lain tujuannya adalah agar kita yang setiap tahun berpuasa Ramadhan bisa menapaki tangga yang lebih tinggi dalam kualitas ibadah puasanya.
Lantas, sudah berada dimana tingkatan puasa kita selama ini ?
Maka pada akhirnya para ulama berpendapat atau bersudutpandang, bahwa berlebaran itu tak sama dengan merayakan hari kemenangan dengan Idul Fitri, kembali ke fitrah.
“Semua kita orang Islam berlebaran, tapi tak semua mendapatkan berkah Idul Fitri, karena masih banyak bualnya di suasana fitriyah ini”, ujar seorang ustadz.
Apalagi di tahun politik tanah air dewasa ini, nafsu ingin menguasai lebih kental ketimbang nawaitu menyejahterakan rakyat. Syahwat kebencian diatur seolah geliat kebangsaan via berbagai jaring politik dan atau jaring-jaring yang dipolitisir. Bulan tarbiyah digodok menjadi bulan duniawiyah.
Korupsi berjamaah ratusan miliyar rupiah yang baru saja terjadi atas jalur kereta api cepat di Sulawesi disebut petugas partai merupakan hal biasa. Sementara begitu pula petugas partai yang tengah digadang-gadang untuk memimpin bangsa ini, tanpa malu-malu ngaku di ruang publik memang suka nonton filem esek-esek, “memang salah?” ujarnya tak merasa berdosa.
Ramadhan dan Syawal sekarang sudah tercoreng diisi dengan syahwat kebencian untuk menjegal lawan politik dengan cara-cara halal haram hantam.
Itulah fenomena Lebaran yang terjadi saat ini, dari lebar-lebaran meja hidangan Lebaran hingga lebar-lebaran mulut bercuap-cuap politik wal ini wal itu wal hantu. Konon pula untuk menyontoh sifat-sifat dan atau prilaku sederhana dan rendah hati dari Rasulullah SAW, pemimpin sampai akhir zaman.
Minal Aidin wal faidin, mohon maaf lahir dan batin.*
Pontianak, 4 Mei 2023, penulis; Pimred AksiBorneo
