AKSIBORNEO – “Seorang ustadz muda, Sardiawan Umar, pagi ini tergelincir lidah di Masjid Darul Muttaqien, Kota Pontianak, Kamis (14/3-2024).”
DIKETAHUI, Masjid Darul Muttaqien yang berlokasi di Jalan Tabrani Akhmad, Kecamatan Pontianak Barat, Kota Pontianak, merupakan salah satu masjid di kota ini yang rutin menyelenggarakan kegiatan spiritual.
Tak hanya di dalam bulan puasa Ramadhan, berbagai aktivitas pengajian dan pengkajian Qur’an dan Hadist diselenggarakan hampir setiap ba’da shalat Subuh, dan atau ba’dha Magrib menjelang Isya. Kegiatan ni tentu saja diisi secara bergilir oleh Ustadz atau Kiyai yang ditunjuk.
Demikianlah yang terjadi pada ba’da Subuh 14 Maret 2024, atau hari ketiga puasa, giliran Ustadz Sardiawan Umar menyampaikan tausiyah ramadhan.
Di awal tausiyahnya setelah pembukaan, iustadz muda (34) itu, berkisah tentang riwayat sekelompok orang di zaman Nabi Muhammad SAW tidak segera pulang dari masjid. Padahal shalat sudah, berdoa pun sudah. Ketika ditanya, mereka menjawab melanjutkan dengan zikir untuk mendapatkan hidayah dan berkah dari Allah SWT.
Begitu pula ketika Nabi Muhammad yang bertanya dengan pertanyaan sama seperti ditanyakan sahabat, kelompok orang yang duduk-duduk di masjid itu menjawab, benar berzikir untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
“Tidak seperti sekarang ini, duduk-duduk di luar, supaya gampang cepat balek (pulang)”, ujar Ustadz Sadiarwan keras.
Tentu saja jamaah yang duduk di serambi masjid tersinggung dan langsung pulang atas sindiran sang ustadz. Beberapa ngomel, terang-terangan tak suka dengan ucapan sang ustadz.
“Duduk-duduk pulak, Asbun (asal bunyi)”, kata seorang yang tersinggung dan langsung angkat kaki.
Adapun yang mengambil tempat di samping kiri, kanan, dan belakang (serambi masjid), kebanyakan rata-rata jamaah yang alergi dingin AC atau lanjut usia. Mereka yang karena rematik atau asam urat misalnya, tak bakalan tahan lama di ruang ber-AC. Lagi pula serambi hanya dibatasi oleh dinding jendela kaca dan pintu kaca, sehingga tembus pandang dan tembus pendengaran oleh penceramah di dalam.
Sadiarwan tidak melakukan chek and rechek lebih dahulu sebelum berucap, bahwa tiga serambi masjid berkapasitas 400 jamaah itu, dilengkapi dengan karpet dan masing-masing speaker luar yang memang tersedia sebagai kelengkapan asoseri masjid ini.
Sebelum tausiyah dimulai, pembawa acara memperkenalkan profil singkat Ustadz Sadiarwan Umar. Sang Ustadz disebutkan kelahiran Kecamatan Teluk Pakedai, Kab.Kubu Raya pada tanggal 07 Juli 1989, hanya belasan kilometer dari kota Pontianak.
Ustadz yang diketahui berpendidikan strata S3 ini, disampaikan pembawa acara adalah pengasuh serta pemilik pondok pesantren tahfizul qur’an Hisbah Al Mizan Pontianak, dan Ketua DPD FPI Kalimantan Barat.*
Sekedar renungan: “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kalimat tanpa dipikirkan terlebih dahulu, dan karenanya dia terjatuh ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat.” (HR. Muslim no. 2988).
