Jadi pas polisi maju itu ada tiga orang yang kepalanya bocor, dua orang ditarik polisi, ada satu emak-mak terinjak-injak. #kbanews
AKSIBORNEO –“Aksi massa di DPR RI salah satu tujuannya mendukung hak angket. Diantara elemen massa yang turun aksi yakni Gerakan Penegakan Kedaulatan Rakyat (GPKR) yang diketuai oleh Din Syamsuddin.”
PESERTA aksi datang dari berbagai daerah, termasuk dari Yogyakarta. Diantaranya adalah Mariana Ulfah.
Dia menyeritakan berangkat sendirian dari Yogyakarta ke Jakarta naik kereta api. Setiba di Jakarta, langsung bergabung dengan massa aksi GPKR.
“Saya dari Jogja gabung ikut aksi karena ada undangan aksi di DPR tanggal 19 Maret. Saya naik kereta tanggal 18 Maret,” ceritanya kepada KBA News, Kamis, 21 Maret 2024.
Dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta ini mengungkapkan, sesuai aturan aksi sampai pukul 18.00 WIB. Namun setelah ada sejumlah tokoh-tokoh, termasuk Adian Napitupulu, ada negosisasi.
“Dia menawarkan untuk forum. Jadi ada perwakilan masuk ke DPR sekitar 15 orang. Selesai dari situ, mereka bersepakat aksi dilanjutkan sampai pukul 22.00 WIB,” jelasnya.
Ternyata pukul 20.00 WIB, polisi sudah mulai memukul mundur para demonstran. Pagar besi sudah mulai dibuka dan polisi mulai maju dan maju ke arah demonstran.
Jumhur Hidayat mengajak negoisasi, karena sudah ada kesepakatan yang baru sampai pukul 22.00 WIB. Namun polisi tetap pakai aturan sebelumnya, yakni sampai pukul 18.00 WIB.
“Pak Jumhur bilang, kita sepakati mundur karena dalam posisi diusir. Tapi tidak dikasih waktu lama, polisi terus maju siapa pun yang ada di depannya libas semuanya,” jelasnya.
“Jadi pas polisi maju itu ada tiga orang yang kepalanya bocor, dua orang ditarik polisi, ada satu emak-mak terinjak-injak,” imbuhnya.
Perempuan yang akrab disapa Maria Jova ini mengungkapkan, saat itu banyak polisi tidak berseragam dinas masuk ke rombongan demonstran.
“Kita tidak tau mana intel dan demonstran. Ada yang memukul demonstran yang ada di mobil komando. Jadi akhirnya kocar-kocar,” ungkapnya.
Maria mengaku sempat emosi dengan polisi karena teriak-teriak kasar. “Saya bilang, biasa saja pak ngomongnya, tidak usah teriak-teriak. Anda digaji pakai duit rakyat, tapi kasar dengan rakyat,” katanya.
Menurut dia, aksi massa menjelang sore memang sudah dimulai disusupi orang lain yang bukan bagian dari pejuang demokrasi. “Kayak orang bayaran dan mulai keras. Untungnya kita tidak terpancing anarkis,” ungkapnya.*kba
