AKSIBORNEO – “Ramadhan tahun ini (1443H) haruslah kita semua menyampaikan rasa syukur yang sebesar-besarnya ke hadirat Allah SWT, karena penuh berkah atas rakhmatNYA, setelah selama dua tahun terakhir tiap bulan suci Ramadhan, Corona atau Covid-19 selalu datang menghantui.”
DEMIKIAN disampaikan oleh Ustadz Miftahul Ulum, SH.I mengawali tausiyah subuh, Kamis (7 April 2022), di Masjid “Darul Muttaqien’, Pontianak Barat.
“Kita bersyukur dan berterimakasih kepada Allah Subhanahuwataala yang Maha Berkuasa, bukan bersyukur kepada penguasa”, ujarnya.
Kita merasakan, lanjutnya, betapa kita kesulitan atau dipersulit untuk beribadah dengan macam-macam aturan, sampai-sampai ada pengurus yang berani menutup rumah Allah (masjid), karena was-was dihantui Corona. Bersyukur kita sebagian besar masjid di kota ini tetap dimakmurkan jamaahnya tanpa merasa was-was.
Dengan mengutip ayat suci Alqur’an, Ustadz Miftah – panggilan akrabnya, menyampaikan, salah satu penyebab hinggapnya penyakit adalah adanya rasa was-was, takut ini takut itu. Olehkarena itu ia mengajak untuk membersihkan hati dari was-was atas apa yang diturunkan oleh Allah, karena was-was itu sendiri adalah penyakit, penyakit was-was.
Karena di Ramadhan sekarang kita telah bebas dari berbagai kesulitan, kendala untuk beribadah, Ustadz alumnus Ponpes Bangil ini mengajak mempertebal iman, memperbanyak ibadah, seperti tarawih, tadarusan, kiyamulail, dan berbagai kegiatan lainnya majelis-majelis taklim yang ada.
“Dapatkan pahala puasa sebaik-baiknya, jangan cuma mendapatkan lapar-dahaga saja”, urainya.
Ustadz yang anggota DPRD Kalbar 3 priode ini mengungkapkan, banyak kejadian yang mudah diatasi tapi dipersulit dimasa galaunya umat oleh Corona. Yang tidak corona, dicoronakan.
Ustadz Miftah mengaku pernah marah-marah di RS Sudarso, Pontianak. Kala itu dirinya melihat ada korban tabrakan luka-luka disekujur tubuhnya, bukan pertolongan keselamatan jiwa korban yang didahulukan atau diutamakan, tapi diswab.
“Tentu saja hasilnya positip covid, la orang lagi sakit diswab. Itukan mempersulit orang yang sedang kesulitan. Mestinya para medis itu mempermudah urusan, selamatkan dulu nyawa korban. Urusan swab-swep itu belakangan”, ungkapnya.
“Untuk segala urusan, Islam tidak mengajarkan mempersulit yang mudah, tapi mempermudah yang sulit”, ujarnya.
Mengutip hadizt, Ustadz Miftah memaparkan pesan Nabi Muhammad SAW untuk memberikan kemudahan, agar orang yang punya urusan tenteram hatinya, tidak waswas, khawatir dan takut :
“Permudahlah dan jangan mempersulit, dan jadikan suasana yang tenteram, jangan menakut-nakuti”
“Barangsiapa melepaskan kesusahan duniawi seorang Muslim, Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan seorang yang mendapat kesusahan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat.” (HR Muslim)
Maka, bila seorang Muslim mempermudah urusan kebaikan atau duniawi Muslim lainnya, maka insya Allah ia akan dinaungi keberkahan. Hal itu selama interaksi yang ada tidak menjurus pada perbuatan-perbuatan zalim.
Demikian antara lain salah satu bagian dari tausiyah subuh Ramadhan Ustadz Miftahul Ulum selama 58 menit, dipetik AKSIBORNEO, di Masjid ‘Darul Muttaqien’ Jalan Tabrani Akhmad, Pontianak Barat.*
