AKSIBORNEO – “Dalam suatu kajian tauhid di Masjid Darul Muttakien, Pontianak Barat, Habib Abdurrakhman Ali Almuthahar, SPd.I dari Pondok Pesantren Al Habib Sholeh bin Alwi Alhaddad – Kota Pontianak, mengemukakan tentang bagaimana Allah SWT melimpahkan kemuliaan kepada orang-orang yang menghadiri majelis taklim.”
HABIB Abdurakhman menyampaikan, bahwa :
pertama
Orang yang mempunyai ilmu agama derajatnya beda dengan orang yang tak punya ilmu agama. Allahu Taala berfirman dalam Alkur’an Yarfaillahuladzia amanu minkum wallazina utul ilma darajat. Artinya; Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang mempunyai ilmu agama beberapa derajat.
Jadi orang yang beriman dan orang yang mempunyai ilmu agama diangkat derajatnya oleh Allah. Saiyidina Abdullah bin Abbas – ahli tafsir Alkur’an, sahabat Nabi Muhammad SAW, mengatakan; orang yang beriman dengan orang yang beriman dan punya ilmu agama itu, di sisi Allah di akhirat nanti – derajatnya, bedanya 700 derajat.
Orang beriman dengan orang beriman yang punya ilmu agama itu bedanya 700 derajat. Setiap derajat yang satu ke derajat yang kedua perjalanan 500 tahun.
“Coba bayangkan”, kata Habib Abdurakhman, dari 700 derajat kali 500 tahun. Jauh derajatnya orang beriman biasa dengan orang beriman yang punya ilmu agama.
kedua
Orang yang belajar ilmu agama itu, tanda dia akan diberikan kebaikan oleh Allah SWT. Nabi Muhammad SAW bersabda, Man yuridillahu bihi khairan yufakkihu fiddin; barang siapa yang Allah inginkan kebaikan untuk dia, maka Allah akan beri dia kemudahan untuk memahami ilmu agama.
Jadi ketika seseorang dimudahkan oleh Allah untuk pergi belajar ilmu agama, itu tanda, kata Nabi, orang itu Allah ingin berikan kebaikan untuk dia.
“Jadi Alhamdulillah, bersyukur yang masih sempat untuk belajar ilmu agama, itu tanda Allah ingin kebaikan untuk kehidupan dia”, ujar Habib Abdurakhman.
ketiga
Nabi Muhammad SAW bersabda; Man kharaja fii thalabul ilmi kana fii sabilillahi hatta yarji a, barangsiapa yang keluar dari tempat tinggalnya, rumahnya, menuju tempat
untuk belajar ilmu agama, maka dia sedang berada di jalan Allah.
“Di jalan Allah sampai kapan? Sampai pulang ke rumah”, jelas Habib Abdurakhman.
“Yang namanya orang di jalan Allah, setan tidak suka. Setan berbisik, sudahlah, buat apa ke majelis taklim, bagus nongkrong di warung kopi, atau nonton sinetron atau jalan-jalan ke mal bersama keluarga, dan sebagainya. Itu setan, tak senang dia umat Nabi Muhammad SAW berada di jalan Allah”, ungkapnya.
keempat
Pentingnya belajar ilmu agama, hadir di majelis taklim, Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya; Menghadiri majelis iilmu agama lebih mulia, lebih utama dari salat sunnah 1000 rakaat, lebih baik dari menjenguk 1000 orang sakit, lebih baik daripada menghadiri 1000 jenazah orang Islam.
“Jadi sangat disayangkan kalau bisa sempat membual di warung kopi, nonton sinetron tv dan sebagainya, tapi sepekan sekali tak bisa duduk di majelis taklim. Padahal derajat diangkat oleh Allah Swt, ingin kebaikan oleh Allah SWT, berada di jalan Allah, dan pahalanya melebihi salat sunnah lebih 1000 rakaat, lebih baik dari menjenguk 1000 orang sakit, dan lebih daripada menghadiri 1000 jenazah orang Islam”, tuturnya.
“Semoga kita diberikan istikomah, artinya selalu terus senang dengan menghadiri majelis taklim”, ujarnya.
kelima
Apalagi, lanjut Habib Abdurrakhman dengan penjelasannya, kita menghadiri majelis taklim ini di dalam masjid. Ketika kita masuk masjid niat itikaf kepada Allah, selama itu juga Allah SWT menyuruh malaikatnya menyatat pahala itikaf buat kita.
keenam
“Kita sekarang berada di dalam masjid dalam keadaan punya wudu’, kata Nabi Muhammad, setiap orang yang berada di dalam masjid punya wudu’, selama itu juga malaikat berdoa kepada Allah. Ini yang berdoa mahluk tak pernah maksiat, apa doa malaikat? Allahu ma firlahu…. Allahu mar hamhu, Allahu ma firlahu…. Allahu mar hamhu, Ya Allah ampuni dia… rakhmati dia…., ampuni dia…., rakhmati dia”, paparnya.
“Sampai kapan doa malaikat itu? Sampai kita keluar dari masjid, atau sampai batal wudu’nya. Selama masih berada di masjid, selama masih ada wudu’nya, selama itu juga malaikat berdoa untuk diampunkan dosa kita dan dirakhmati Allah SWT.
“Semoga apa yang dijanjikan oleh Allah Swt tersebut, kita raih juga bagi orangtua kita, baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal dunia. Aamiin”, tutupnya.*** AB/Editor:Effendy Maulana Almutahar
