AKSIBORNEO – “Tak cuma beberkan sejumlah kejanggalan pada autopsi kedua, Kamaruddin Simanjuntak – pengacara keluarga mendiang Brigadir J, juga mengungkapkan adanya ancaman mengerikan sebelum korban terbunuh atau dibunuh.”
DIKETAHUI, sebelumnya Kamaruddin Simanjuntakmengungkap terdapat sejumlah kejanggalan di jasat Jofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J dalam autopsi ulang. (Baca Artikel terkait : Ngeri, Otak Brigadir J Pindah ke Perut Dinotariskan)
Masih melalui channel YouTube Refly Harun, Kamaruddin mengungkap adanya kata-kata ancaman untuk menghabisi Brigadir J, “Kalau naik ke atas, bunuh dia”!
Kamaruddin Simanjuntak mengaku masih menggali tentang apa maksud naik ke atas, itu menimbulkan spekulasi dan multi tafsir. Apakah naik ke atas tangga, atau naik ke atasan.
“Apakah naik tangga? Apakah ada isu yang sedang merebak ataukah ini almarhum justru whistleblower, sehingga dia kalau naik ke atas itu dia akan dibunuh? Itulah yang perlu digali,” katanya.
(Whistleblower ialah pembuka atau penyampai informasi yang ia ketahui tentang korupsi kepada penegak hukum, tapi bukan pelapor, Red.)
Menurut dia, hal ini dapat jadi kunci pengungkapan kasus pembunuhan terhadap Brigadir J.
Ancaman pembunuhan itu pada Kamis tanggal 7 Juli 2022, sehari sebelum Brigadir J dibunuh, Jumat (8 Juli 2022). Ancaman pembunuhan disampaikan Brigadir J kepada pacarnya Vera Simnanjuntak.
Menurut Kamaruddin, Itu adalah ancaman terakhir pada Brigadir J setelah mengalami serentetan ancaman sejak Juni.
Dipetik dari TerasGorontalo Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J ternyata mendapat ancaman pembunuhan dari ‘skuad lama’.
Kamaruddin menyebut, komunikasi Brigadir J beberapa kali membuat sang pacar dapat menangkap (mengetahui) ‘skuad lama’ yang dimaksud Brigadir J yang mengancam.
“Dia menyebutkan dari ‘skuad lama’. ‘Skuad lama’ yang dipahami kekasihnya adalah ajudan kadiv propam,” kata Kamaruddin.
Kamaruddin Simanjuntak menuturkan, dugaan tentang tiga ajudan Ferdy Sambo yang iri hati terhadap Brigadir J.
Mereka sempat mencibir saat Brigadir J curhat pada Vera Simanjuntak.
“Ada tiga suara pria yang nyinyir menurut pengakuan Vera,” kata dia.
Sebut dia, iri hati muncul dikarenakan kinerja Brigadir J yang kinclong hingga ia disayang atasannya.
Percakapan Vera dan Brigadir J pada bulan ketiga Juni antara tanggal 21 dan 29 Juni, mengungkap pengancaman squad lama terhadap Brigadir J.
“Ternyata Vera ini sudah tahu tentang squad ini. Vera kemudian mengaku jika dirinya sempat bertanya ke almarhum siapa yang mengancam, squad lama atau squad baru kata Vera,” terang Kamaruddin dilansir Teras Gorontalo dari Berita KBB
Terungkap, detik – detik kematian Brigadir J berdasarkan rekaman CCTV di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo.
Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan Damanik membeberkannya seperti dikutip dari YouTube Anjas di Thailand, terungkap bila pukul 16.31 atau sejam sebelum kejadian penembakan, Brigadir J sempat saling telepon dengan pacarnya bernama Vera.
Nampak dalam rekaman CCTV, Brigadir J tengah ngobrol dan tertawa bersama rekan rekannya sebelum telepon masuk.
Mendapat telepon dari Vera, Brigadir J menjauh dari rekan rekannya. Brigadir J menuju ke tempat sepi lantas bercakap cakap dengan Vera. Ini klop dengan pengakuan Vera sebelumnya.
Lalu, rombongan Brigadir J pindah ke rumah dinas yang berjarak 500 meter.
Beberapa menit kemudian, Ferdy Sambo keluar dari rumah pribadi. Namun ia tak menuju rumah dinas.
Pukul 17.00 Wita, mobil Ferdy Sambo berhenti. Diduga ia menerima telepon Putri Cenrawati, istrinya.
Ferdy Sambo kemudian berlari menuju rumah dinas.
Dan Putri nampak menangis di rumah pribadi. Sebelumnya polisi mengungkap kematian Brigadir J. Ia disebut hendak melecehkan istri Ferdy Sambo kepergok Bharada E, tembak menembak terjadi dan Brigadir J tewas. ***
Laporan; Wilmar Hadi / Vivi F
Editor ; EAZ
