AKSIBORNEO – “Panas-panasan antara Nasdem vs PDIP bukan baru kali ini. Sejak partai besutan Surya Paloh itu terang-terangan mendeklarasikan Anies Baswedan pada 3 Oktober lalu untuk melenggang ke Pilpres 2024, PDI-P paling sengit membangkit-bangkit bak hantu bangkit.”
PDI-P (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan), paling getol menyingkap sikap awal partai Pak Berewok. Mulai dari cerita seperahu dan sepengayuh di koalisi penguasa sampai pada tudingan kalau Pak Wok dan partainya berhianat, dulu pro rezim, kini berbalik arah usung kadrun.
Paling lantis keluar dari pernyataan Sekjen PDIP yang mengeritik sikap partai seperahunya di awal dulu. Panggung politik mulai panas dari sini?
Deklarasi NasDem mengusung Anies sebagai Capres di tengah masa kepemimpinan Jokowi, kata Hasto, menunjukkan adanya perbedaan misi partai. Padahal, semua partai politik koalisi yang mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin, bertanggungjawab mewujudkan janji kampanye Jokowi, harus mendukung pemerintah hingga mencapai kinerja terbaik.
Partisipan akar rumput sama-sama tersenyum simpul, kinerja terbaik yang bagaimana? Janji kampanye seabrek sudah hampir dua priode bak ilusi, antara lain paling nyata soal utang negara yang terus menggunung. Sementara 20 juta anak bangsa yang dijanjikan akan terangkat dari pengangguran, yang terangkat malah jutaan TKA Aseng-Asing terus meluap, sampai tukang pasang sekrup atau baut pun si Aseng bukan si Usin yang ahli mesin dan tetap saja cuma bisa bersin-bersin.
Mungkin Hasto (PDI-P) lupa motto “tiada kawan abadi, hanya ada kepentingan pribadi”, kawan bisa jadi lawan, lawan bisa jadi kawan. Sekumpulan orang politik memang mirip pertemanan antar bocah, bisa berantem – lantas baikan lagi. Jadi jangan heran kalau dulu Gus Dur pernah mengibaratkan anggota DPR RI sama dengan anak TK.
Bak lirik sebuah lagu “ingat kunci, tapi lupa sairnya”, Lupa kalau di dalam politik 2 x 2 bisa jadi 9 atau 7, kalkulasi bisa berubah dalam hitungan menit.
NasDem rupanya masih ingat sair lagu dan kuncinya, menegaskan masih akan terus memberi dukungan untuk pemerintahan Presiden Jokowi hingga 2024. NasDem juga menyebut dukungan kepada Jokowi tidak akan berubah meski sudah menyatakan mengusung Anies Baswedan sebagai calon presiden di pilpres 2024.
Kuncinya adalah, Seluruh kader NasDem di Indonesia tidak dibenarkan melayangkan kritik kepada pemerintahan Jokowi.
“Kami merupakan partai pertama yang mendeklarasikan dukungan kepada Presiden Jokowi pada 2014 dan 2019. Oleh karena itu kami akan dukung pemerintahan beliau hingga akhir masa jabatan di 2024 nanti,” kata Ahmad Ali, Wakil Ketua Umum NasDem.
Mestinya sampai di situ, siasat NasDem dalam berpolitik sudah bisa dibaca, terlepas dari soal kualisi pembaruan yang masih wal ini – wal itu, wal hantu. Namun, entah apa pasalnya PDI-P tak dapat menyembunyikan sewotnya pada NasDem yang melirik, membaca, dan mendeklarasikan mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, untuk bisa melenggang di Pilpres 2024.
Paling anyar Hasto menorehkan kebencian pada Anies Baswedan terkait keputusan Bawaslu, bahwa geliat Anies Baswedan wara-wiri ke berbagai daerah cuma merupakan pelanggaran etika politik. Jadi belum masuk klasifikasi curi start konon pula black kampanye yang didengungkan.
Namun, ketika Bawaslu merekomendasikan hal itu, bak api di dalam sekam, Hasto yang Sekjen PDI-P itu, menyebut pelanggaran etis, masuk kategori hal yang sifatnya sangat dalam alias serius, karena menyangkut etika bagi seorang pemimpin.
Timbul pertanyaan, yang Bawaslu itu Parpol (baca Pdi-P) apa komisioner di badan pengawas yang berkompeten?
Sejak awal deklarasi Anies Baswedan, Hasto sudah memulai gelombang narasi kebencian yang dianggap seperti kebencian Mak Lampir, menggeruduk agar biru (NasDem) keluar dari kabinet. “Seperti dialah penguasa dan orang yang paling berhak menilai”, kata Waketum NasDem, Ahmad Ali geram.
Hasto pun dianggap tengah mengalami krisis eksistensi di internal partainya, disarankan fokus mengurusi kader partainya sendiri. Bukan malah memaksakan orang lain mengikuti standarnya dalam berpolitik. Omong sana sini seperti orang kurang kerjaan.
Jadi jangan heran bila NasDem menilai PDIP lewat cuap-cuap Sekjennya sebagai biang gaduh peta politik Indonesia. Bikin bising, seperti istri kalau lagi datang bulan; Resah, gelisah dan angot-angotan seperti orang yang panik dan emosinya jadi tak terkontrol.
Menyimak balas pantun antara Partai Nasdem vs PDI-P, saya jadi miris, keduanya bukan partai sembarangan. Sama-sama parpol parlemen yang pantas diperhitungkan, politisinya sama-sama bukan politisi kaleng-kaleng.
“Kau yang memulai, kau yang mengakhiri”, bunyi sebaris sair dari sebuah lagu. Siapa yang memulai, kita sama tahulah. Parpol lainnya yang sesama koalisi pemerintah, anteng-anteng saja, adem-adem saja.
Apa ruginya kau yang memulai, kau yang mengakhiri umpat-mengumpat terkait pencapresan Anies Baswedan untuk 2024 tersebut, supaya sama-sama tak terserang demam panas dalam.
Setiap jalan pasti ada ujungnya, saya percaya Hasto Kristiyanto tak sekelas Denny Siregar atau Abu Janda cs yang bersudut pandang suka-suka di BuzzerRp.
Di dalam berpolitik pun harus ingat khoirunnas anfauhum linnas yang sepatutnya jadi tujuan, bukan nyinyir tak berkesudahan seperti anak kambing yang ketakutan ditimpa hujan. Sudah, segitu saja.***(Pontianak, Kamis 221222/16.55 WIB)
*Penulis Pimred. AksiBorneo
