Banner Event

Ustadz Sardiawan Umar: Wahai Pak Gubernur Sutarmidji dan Rianorsan, Berbaikanlah!

AKSIBORNEO – “Dipetik dari bagian tausiyah Ustadz Sardiawan Umar pada peringatan Nuzul Qur’an di Masjid Darul Muttaqien, Pontianak, Sabtu 17 Ramadan 1444 H (8 April 2023) subuh, Ustadz Sardiawan Umar menyoal rumor  disharmonis Gubernur Kalbar Sutarmidji dengan wakilnya – Ria Norsan.”  

AWALNYa, ustadz pimpinan Pondok Pesantren Tahfiz Qur’an Misbah Al Mizan Kota Pontianak itu, mengungkap tentang rasa bangga sekaligus prihatin ihwal sekat antara kepala daerah dengan wakilnya yang ada di Kalimantan Barat.

USU (Ustadz Sardiawan Umar) berkisah, ada sebuah masjid bernama Masjid Khatib Yusuf Sambas, lokasinya di Jalan Tanggul Laut, Jeruju, Kabupaten Kubu Raya yang berbatasan langsung dengan Kota Pontianak.

Dulu pada tahun 1800-an, tutur USU, ada salah satu nama diantara ulama besar di  Kabupaten Sambas, yaitu Al Alim Al Alama Syech Akhmad Khatib As’Sambas. Sedangkan Khatib Yusuf Sambas adalah abdi Keraton Sambas pada masa tempo doeloe itu.

Ternyata, Syech Ustadz Haji Khatib Yusuf Sambas bin Haji Abdullah bin Haji Tajuddin (?) bin Haji Juragan Samsuddin, adalah juga seorang ustadz, seorang alim dan masih punya garis keturunan Kerajaan Sarawak, Malaysia.

Sedangkan ulama besar di Sambas  atau asal Sambas yang dikenal bernama Syech Akhmad Khatib Assambasi, lahir di Sambas, pergi  belajar di Mekkah Almukaramah pada masanya dan wafat di sana pada usia 72 tahun. Beliau yang lahir pada 1803M menjadi pendahulu tempat belajar para ulama generasi berikutnya dari berbagai pelosok tanah air, seperti dari Madura, Banten, dan lainnya.

Hal tersebut membuktikan, Kalbar sejak dahulu kala sudah punya tidak sedikit ulama, orang-orang alim, waliumin aulia, tidak hanya asal dari Kabupaten Sambas.

Namun menurut USU, ketika dirinya diminta untuk bertausiyah di Sambas, diketahui ada kegalauan dari pemerintah Kabupaten Sambas, antara lain kegalauan Wakil Bupati Sambas, Fahrur Rofi.

Raja Sambas hari ini, tidak memperbolehkan di Masjid Jamik Keraton Sambas menyelenggarakan Nuzl Qur’an, tidak boleh selenggarakan acara Israk Mi’radj, tidak boleh wirid, tidak boleh zikir,  karena ini dinilai perkara bid’ah. Dengan kondisi seperti ini peringatan Nuzul Qur’an dialihkan ke sebuah masjid lain.

Padahal dulu, Kerajaan Sambas pernah diperintah oleh Sultan Tsafiudin II, tutur USU, mengajarkan agama Islam dengan akidah ahli sunnah wal jamaah, karena beliau juga adalah seorang ulama besar, seorang ustadz terkenal di zamannya.

“Ini yang menyedihkan, baik dari kalangan pemerintah kabupaten di sana maupun dari kalangan masyarakatnya”, kata USU.  

Hal tersebut bisa terjadi, menurut USU, karena antara Bupati Sambas – Sasono  dan wakilnya – Fahrur  Rofi tidak cocok, tidak klop dalam menjalankan roda pemerintahan, tidak klop mengatasi masalah yang ada. Sama persis seperti yang terjadi di pemerintahan Kabupaten Kubu Raya.

Lebih dari itu, lanjut USU, sama persis seperti disharmoni antara Gubernur Kalbar – Sutarmidji dengan wakilnya, Ria Norsan.

“Saya tidak tahu, apakah ketidakcocokan antara kepala daerah itu karena soal pembagian proyek atau lainnya. Pastinya yang jadi galau, sedih, ya kita juga, masyarakat”, kata USU.

Oleh karena itu USU berharap, terutama kepada Gubernur Kalbar untuk menyudahi ketidakharmonisan dengan wakilnya.

“Sudahlah, Pak Sutarmidji dan Pak Ria Norsan, mulai di bulan suci Ramadhan ini, baikanlah kembali demi kelancaran menjalankan roda pemerintahan di provinsi ini”, harap USU.

“Sedih kita melihatnya….”, ujarnya.***

Comments
Loading...