Banner Event

Ustadz Andi Irham: Jangan Bermain-main dengan Gibah, Puasa Langsung Batal. Mau Tahu Seberapa Besar Dosanya?

AKSIBORNEO – “Puasa itu sendiri memiliki arti menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa, baik dalam perbuatan maupun dalam ucapan.”

DEMIKIAN disampaikan oleh Ustadz Andi Irham, dipetik dari bagian tausiyah Subuh Ramadhan 1444H di Masjid Darul Muttaqien, Pontianak Barat, Rabu (29 Maret 2023).

“Jadi puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi menahan diri  dari perkataan atau ucapan, dari mulai terbitnya fajar shadiq sampai terbenamnya mata hari”, terangnya.

Maka hati-hati di bulan puasa ini, ujarnya, tidak cukup kita hanya menjaga lapar dan haus. Di bulan puasa ini ada anggota-anggota tubuh yang mesti kita jaga, terutama lisan kita  dari memfitnah, dari mengadu domba dari bergibah, dari membicarakan sesuatu yang kita tidak tahu asal usulnya itu dari mana.

Maka itu bisa membatalkan puasa itu sendiri. Maka tegas sabda Nabi Muhammad SAW, Kam min Shaimin laisa lahu min shiyami illal ju’u wal ‘athosy, betapa orang berpuasa tapi dia dari puasanya itu tidak mendapatkan apa-apa  kecuali rasa lapar dan haus.

Mengapa banyak orang yang berpuasa tetapi hanya mendapatkan menahan lapar dan haus,  karena tidak dapat menjaga mulutnya dari gibah, gosip.

Maka jangan main-main dengan gibah, sepele kelihatannya, nyaman kalau dibicarakan, namun ternyata bergibah itu mudaratnya sangat besar . Jangankan ini di bulan puasa, di luar bulan puasa saja bergibah itu haram. Dosanya hampir-hampir setara mendekati dosa syirik, menyekutukan Allah SWT.

Karena nanti di akhirat  ada seseorang yang menghadap Allah ; dia bawa pahala salatnya, dia bawa pahala zakatnya, dia bawa pahala puasanya, dia bawa pahala infaq dan sedekahnya, berbuat baiknya, dibawanya di hadapan Allah SWT , tapi hanya sekadar dia bawa kemudian dia berikan kepada orang yang ketika di dunia dia bicarakan keburukannya.

Kendati apa yang dia katakan benar adanya, tapi itu adalah gibah adanya alias gosip. Tak ada manfaatnya.

Jadi tak ada pahala baginya, hanya meninggalkan dosa yang melekat pada dirinya, karena sudah banyak dosanya, karena pahalanya sudah diberikan kepada orang yang dia ceritakan keburukannya. Maka dia akan dimasukan Allah ke dalam neraka jahannamnya Allah SWT, karena gibah telah menjadi aktifitas kehidupan sehari-hari yang terbawa kebiasaannya itu ke dalam bulan puasa Ramadhan.

“Contohnya simple”, imbuh Andi Irham. Dulu, Nabi Rasulullah SAW pernah kedatangan tamu yang bertubuh tinggi besar, sampai-sampai kepala orang tersebut hampir membentur bendulan pintu rumah Rasulullah.

Ketika Aisyah berkomentar, betapa tingginya si tamu sampai-sampai kepalanya hampir terbentur bendulan pintu, Rasulullah menegur Aisyah.

“Jangan kau ucapkan lagi perkataan seperti itu, karena akan dapat melukai hati orang. Sebab, kalau orang itu mendengarnya, akan membuat tersingung dan menimbulkan sakit hatinya”, kata Rasulullah mengingatkan.

“Jadi, bergibah yang sebenarnya saja tidak dibenarkan, karena akan membuat orang merasa dianggap tidak normal. Apalagi menyeritakan suatu hal yang tak jelas asal usulnya atas seseorang”, pungkas Ustadz Andi Irham, SPd.I.***

Comments
Loading...