Renungan
SALAHSATU tujuan hidup manusia di dunia ingin memiliki jabatan dan harta untuk bisa memenuhi keperluan sandang, pangan, papan dan hidup yang terhormat.
Namun jangan menjadikan keduanya sebagai sesuatu yang sangat dicintai sehingga lupa daratan karena akan dapat mendatangkan petaka.
Ketika seseorang terjun dalam dunia kerja maka akan timbul kecintaan dalam dirinya untuk memperoleh kedudukan jabatan, namun untuk mencapainya terkadang dilakukan dengan cara yang melanggar syariat.
”Apa yang ia lakukan hanya untuk menarik perhatian dan simpati orang lain. Segala perkataan dan perbuatannya hanya untuk meninggikan kedudukannya, padahal sesungguhnya merupakan benih dari kemunafikan dan dasar dari segala perbuatan yang buruk (fasad)” kata Imam Al Ghazali dalam kitabnya “Intisari Kitab Ihya Ulumuddin”.
Seseorang yang lupa daratan sangat menyintai dan mengagungkan jabatannya, akan menggampangkan beribadah kepada Allah.
Ada kalanya kalau ia beribadah lebih condong untuk mendapatkan pujian (riya) dari orang lain atau bawahannya, dan tak segan melakukan perbuatan tidak terpuji hanya untuk melampiaskan hawa nafsunya.
Menurut Imam Al Ghazali cinta kepada jabatan dapat menjadi penyebab kehancuran nilai seseorang, karena nafsu cinta dengan jabatannya telah menutupi cahaya hatinya.
Allah berfirman:”Tetapi kamu (orang-orang) kafir memilih kehidupan duniawi. Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” (QS Al A’la:16-17).
Allah juga berfirman:”Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) menyintai kehidupan dunia dan meninggalkan (kehidupan) akhirat. (QS Al Qiyamah: 20-21).
Menurut Imam Al Ghazali terapi untuk meredam nafsu jabatan, dengan merasa puas atas jabatannya yang memberikan kehormatan dan menanamkan dalam dirinya sifat qonaah dan menghilangkan rasa ketamakan.*HunTer
Wallahu a’lambishshawab.
(H Nuchasin M Soleh)
Baca juga : Guru Besar USK: Tak Perlu Orang Jenius untuk Mengetahui Penyebab Suara Anies Rendah
Desak Hak Angket, HRS: Jangan Banyak Omong Nanti Nguap Masuk Angin
