Hikmah Jumat
AKSIBORNEO – “Khotbah Jumat pekan lalu, 19 Juli 2024, di masjid ‘Darul Muttaqien’ Kecamatan Pontianak Barat, Kota Pontianak, khatib H. Anas Al Hifni mengajak untuk menghayati amalan hati.”
DR.H.ANAS Al-Hifni, MS.E., M.SI, mengatakan, sebaik-baiknya amalan adalah amalan hati. Olehkarena itu, laksanakanlah amalan hati agar terjaga kita tidak bersikap atau berbicara kasar dalam melakukan sesuatu hal atau membicarakan sesuatu. Jangan bersikap atau berbicara yang dapat membuat orang marah atau emosi, tapi bersikaplah sebaliknya penuh kelembutan dan bermusyawarah.
Dalam sebuah riwayat dikisahkan, papar Ustadz Anas, suatu ketika di Madinah, Rasulullah SAW bermusyawarah dengan dua sahabatnya, Sayidina Umar dan Sayidina Abu Bakar.
Nabi Muhammad Rasulullah SAW merasa perlu bertukar pikiran dengan kedua sahabatnya, tentang tawanan perang mereka yang banyak. “Bagaimana aku harus memperlakukan para tawanan perang ini?” tanya Nabi.
Sayidina Abu Bakar memberikan jawaban; “Ya Rasul, kita tidak usah bimbang, kembalikan saja mereka ke Mekah, kita kembalikan saja ke keluarganya”. Tapi Sayidina Umar menyampaikan pendapat yang berbeda.
“Ya Rasul jangan kau kembalikan mereka ke Mekah, tapi datangkan keluarganya ke Madinah, kemudian bunuh mereka dengan cara keluarga mereka sendiri yang membunuhnya”, kata Sayidina Umar.
Pendapat kedua sahabat tersebut, itu yang kemudian menjadi salah satu sebab turunnya ayat; Fabimaa rahmatimminallahi lintalahum walau kunta fadhdhan gholidhalqolbi lan ghfadhdhuu min haulika fa’afu ‘anhum wastaghfirlahum wa syaawirhum fil amri. Faidzaa ‘azamta fatawakkal’alallah. Innallaha yuhibbul mutawakkiliiin.
(Artinya, Red.: Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan memohonkan ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakalah kepada Allah. Sungguh Allah menyintai orang yang betawakal.) (Ali Imran ayat 159,..Red.)
Dalam ayat ini Allah SWT memberikan jawaban yang luar biasa bagaimana cara Rasulullah untuk memperlakukan para tawanan perang dengan sikap yang lembut dan bermusyawarah tanpa menimbulkan resiko.
Kalau memperlakukan tawanan perang saja harus sedemikian rupa dengan kelembutan hati, baimana kita seharusnya memperlakukan saudara kita memperlakukan anak kita, memperlakukan isteri kita, memperlakukan tetangga kita, memperlakukan guru kita, memperlakukan orang yang lebih tua, memperlakukan orang yang lebih muda dan seterusnya.
Dalam ayat ini Allah menggambarkan fabimaa rahmatimminallahi lintalahum, maka dengan karena apa rahmat Allah lintalahum engkau Muhammad memiliki kelembutan hati. Kelembutan hati kepada siapa, lahum kepada mereka yang ditawan.
“Bermakna Nabi Muhammad Rasulullah SAW, walaupun mereka berstatus tawanan, Nabi Muhammad tetap memiliki kelembutan hati. Karena amalan yang paling berat dalam hidup ini adalah amalan hati,” kata Ustadz Anas.
“Kita mungkin banyak salat tahajud, banyak bersedekah, berkali-kali umrah, berkali-kali haji, berkali-kali macam-macam ibadah yang luar biasa, tapi hatinya selalu dengki, hatinya selalu iri, hatinya selalu hasut, maka semua itu tidak ada nilainya di sisi Allah; yauma la yanfa’u maluw wa la banun ‘yaitu pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna untuk menebus semua dosa-dosa yang ada’, tutur Ustadz Anas. ( Asy-Syu’ara ayat 88; Red.)
Pada hari kiamat, kata Ustadz Anas, tidak ada yang bermanfaat, apa yang banyak tidak ada gunanya, anak yang hebat tidak ada gunanya, kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat, hati yang bersih, hati yang beriman, hati yang tidak punya rasa hasut kepada siapa pun, sehingga kelembutan hati harus diminta kepada Allah.
“Salah satu bentuk kelembutan hati adalah memperbanyak berzikir, memperbanyak ingat kepada Allah SWT”, ujarnya.
Kalau Nabi Muhammad bersifat hatinya keras, kasar, maka mereka (tawanan perang) akan berpaling, akan pergi, tidak mungkin mereka akan menurut kepada Nabi Muhammad SAW.
Kalau kita hidup bertetangga punya sifat kasar, tidak mungkin punya tetangga yang baik.
Maka pada saat itu, Nabi Muhammad mengembalikan tawanan perang dengan memaafkan mereka kepada keluarga mereka.
“Bahkan banyak diantara mereka (para tawanan perang) bersama keluarga mereka yang lantas masuk memeluk agama Islam karena kelembutan hati Nabi Muhammad SAW.”, ujar Ustadz H.Anas Al-Hifni.
Demikian dipetik dari khotbah ustadz muda DR.H.Anas Al-Hifni, M.SE, M.Si tanpa teks berdurasi 8,31 menit tersebut.
Ustadz Anas Al-Hifni mengatakan, hati yang tidak hanya kasar tapi juga keras hati maka hidup orang itu akan terasing, “sungguh mereka (keluargamu, tetanggamu, temanmu) akan berpaling darimu, dari sekitarmu.” Hidupmu tidak akan bernilai di sisi Allah SWT.( Asy-Syu’ara ayat 88; Red).***
