Banner Event

‘Mandi-mandi’ Pengantin dan Filosofinya

ADA beberapa macam ritual ‘mandi-mandi’ lainnya yang dikenal, misal ‘Mandi Balimau’ di Sumatera Barat   atau “Mandi Bersama’ berdasarkan syariat dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan dan sebagainya.

Semua dengan spesifik filosofinya masing-masing yang umumnya dilakukan pada sore atau malam hari di luar rumah atau di teras rumah.

Ada pula ritual ‘mandi-mandi’ pasca berhitan anak, “mandi mandi” pada pasca Sultan yang baru dinobatkan untuk meneruskan dan menjaga marwah kerajaan atau kesultanannya dan macam-macam adat mandi-mandi lainnya.

Mandi-mandi umumnya dilakukan pasca prosesi atau setelah selesai acara resmi, misal pasca pernikahan atau pasca penobatan seorang Sultan.

Semua itu merupakan identitas masyarakat Melayu yang kental bernuansa Islami. Ia merupakan ritual yang mengharap berkah dari Allah SWT  dan berkaitan erat dengan doa  selamat dalam menjalankan anugrah yang diterima.

Dalam hal ‘mandi-mandi’ pengantin misalnya,  kita akan melaksanakan “mandi-mandi” berkaitan dengan anugrah perjodohan yang telah selamat kita jalani prosesinya, untuk membentuk mahligai rumah tangga bahagia; sakinah – mawadah – warahmah. Pelaksanaannya dikemas dalam tatacara tertentu tanpa menyalahi Syariat. 

Ritual ‘mandi-mandi’ setelah prosesi akad nikah dan dipersandingkannya kedua mempelai, filosofinya untuk membersihkan jiwa dan raga sebagai penangkal, setelah pernikahan – guna  membentengi diri dari berbagai halangan atau rintangan yang mungkin saja terjadi baik terang maupun gelap.

Seyogyanya budaya “mandi-mandi” tersebut dilaksanakan secara turun temurun untuk melestarian adat budaya Melayu, karena Melayu takan hilang ditelan zaman.

Dalam ritual adat budaya ‘mandi-mandi’ umumnya, didukung seperangkat perlengkapan, antara lain; tempat duduk khusus bagi yang bersangkutan, wadah untuk menampung air berisi bunga 7 rupa, gayung, mayang pinang, pelita atau lilin yang diletakan di meja tempat perangkat disediakan, telur ayam 3 atau 2 butir,  dua butir kelapa muda, jarum-benang dan sebagainya sesuai kebutuhan sebagai pelengkap.

Prosesinya biasanya dilakukan oleh para tetua keluarga dekat yang berhajat bergiliran,  dipandu oleh seorang ahli di bidang ritual ‘mandi-mandi’. Usai prosesi ‘mandi-mandi’ ditutup dengan pembacaan Doa Selamat dan Doa Tolak Bala.*

Comments
Loading...