Banner Event

Faisal Basri Wafat, Luhut Melayat: Meski Sering Beda Pandangan, Saya Hargai Pandangan Beliau

EKONUM dan politikus nasional kelahiran Bandung, 6 November 1959 ini tutup usia di RS Mayapada, Kuningan, Jakarta Selatan, dinihari  pukul 03.50 WIB, Kamis (5/9-2024).

Awal, Menteri Keuangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Chatib Basri lewat akun media sosial X yang menyampaikan kabar wafatnya tokoh ekonomi nasional tersebut .

“Innalillahi wa innailaihi rojiun. Telah meninggal dunia kawan, senior dan guru saya Bang Faisal Basri. Kehilangan besar buat negeri ini,” tulis Chatib Basri lewat akun X @ChatibBasri.

Dalam unggahan itu, Chatib membagikan momen kenangan terakhir bersama sang Ekonom Faisal Basri ketika menjadi pembicara di Universitas Indonesia (UI) pada 16 Agustus lalu.

“Saya banyak sekali belajar dari Bang Faisal, tidak hanya soal ekonomi, ia menjadi teladan soal integritas, soal keteguhan sikap, soal komitmen pada demokrasi, pada keadilan,” ujar Chatib.

Diantara banyak tokoh yang melayat, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan, juga menyambangi rumah duka di kompleks Gudang Peluru, Tebet, Blok A 60, Jakarta Selatan.  

Luhut mengaku selalu menghargai pemikiran dan argumen Faisal Basri meskipun terkadang berbeda pandangan dalam beberapa aspek.

“Pak Faisal sering memberi banyak masukan soal ekonomi Indonesia, termasuk hilirisasi nikel. Meski kami terkadang berbeda pandangan, saya selalu menghargai setiap pemikiran dan argumen yang beliau sampaikan,” kata Luhut.

Meski beberapa kali berbeda pandangan, Luhut menyampaikan penghargaan pribadi kepada Faisal Basri sebagai sosok yang sangat berdedikasi dan penuh integritas.

“Saya selalu menghormati cara Pak Faisal menyampaikan pandangannya. Beliau selalu lugas, tetapi rendah hati, dan siap mendengarkan dengan baik meski pandangan kita berbeda,” kata Luhut di Jakarta, dilasir Antara, Kamis (5/9-2024).

Luhut mengatakan, keberanian dan kejujurannya dalam berargumen menunjukkan karakter kuatnya sebagai seorang intelektual. Faisal Basri tidak pernah menggunakan kritik sebagai alat untuk menjatuhkan, tetapi untuk membangun.  

“Beliau kritis, tetapi selalu dalam semangat memperbaiki. Itulah yang membuat saya sangat menghargai beliau. Kita butuh lebih banyak sosok, seperti Pak Faisal di Indonesia,” kata dia.

Luhut merasa kehilangan , Faisal Basri adalah contoh intelektual yang tetap teguh dengan prinsipnya, meskipun sering berbeda pandangan dengan pemerintah.

“Indonesia kehilangan seorang pemikir besar. Semoga segala pengabdiannya bagi bangsa menjadi amal baik,” kata Luhut.

Jenazah Faisal Basri dimakamkan ba’da Ashar setelah selesai disalatkan di Masjid Az Zahra, Gudang Peluru, Tebet, Jakarta Selatan.*

Comments
Loading...