Banner Event

Prabowo Tetapkan Sejumlah Nama Calon Menteri, Jokowi Panik dan Cemas

DIKETAHUI, Presiden Terpilih Prabowo Subianto telah memanggil sedikitnya 49 tokoh ke kediamannya di Kertanegara, Jakarta Selatan, mulai siang hingga malam, Senin (14 Oktober 2024).

Mulai dari kalangan politisi, akademisi, maupun praktisi, diantaranya wajah-wajah lama yang merupakan menteri di Kabinet Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wapres Ma’ruf Amin. Namun tak terpantau adanya tokoh dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Prabowo memberikan pernyataan kepada awak media di luar kediamannya usai pertemuan dengan para calon pembantunya di kabinet nanti.

Dia mengatakan, semua calon menteri dan kepala lembaga yang dipanggil menyatakan setuju membantu kabinetnya. Pemanggilan hari ini, jelasnya, merupakan ujung dari proses yang panjang. Sebelumnya, Prabowo dan tim telah melakukan pemantauan dan diskusi.

“Alhamdulillah semuanya menyatakan sanggup. Sebenarnya, mereka sudah menyatakan bersedia membantu saya”, kata Prabowo.

Ketua Harian DPP Partai Gerindra, Sufni Dasco mengatakan, Prabowo masih akan memanggil calon menterinya hari ini, Selasa (15/10-2024).

Jokowi Panik dan Cemas

Di luar, aksi pendakwaan terhadap  Fufufafa yangdiyakini Roy Suryo 99,9% pemiliknya adalah Gibran Rakabuming Raka, Wakil Presiden Terpilih, terus berlangsung hingga saat ini.

Sebelumnya, Joko Widodo (Jokowi) – ayah kandung sang Wakil Presiden Terpilih, juga dianggap panik dan cemas jelang berakhirnya masa jabatan sebagai Presiden pada 20 Oktober 2024 mendatang. 

Menurut Direktur Gerakan Perubahan, Muslim Arbi, terdapat berbagai alasan yang membuat Jokowi saat ini panik dan cemas menjelang lengser.

“Panik dan cemas Jokowi saat ini bukan saja karena tidak punya ‘rumah’ seperti Megawati dan SBY, tetapi tekanan dan desakan  masyarakat agar Jokowi diadili atas sejumlah pelanggaran konstitusi dan KKN selama berkuasa semakin keras,” kata Muslim kepada RMOL di Jakarta, Selasa (24/9-24).

Muslim menilai, Jokowi tidak akan ada yang membela seperti Megawati dan SBY yang masih memiliki partai politik (parpol).

“Siapa yang akan bela Jokowi dari tekanan publik? Karena faktor KKN, merusak, demokrasi, konstitusi, moral dan hukum yang dilanggar Jokowi selama ini sehingga rakyat meminta tanggung jawabnya. Mau berlindung ke mana? Jika rumah yang ada saat ini tidak melindunginya,” terangnya.

Apalagi, lanjut dia, Jokowi juga sudah dianggap sebagai Malin Kundang dari PDIP dan Megawati yang telah membesarkannya.

“Susah Jokowi dilindungi. Satu persatu pembelanya malah berbalik menyerangnya. Buzzer-buzzer bayarannya pada lari dan berbalik menyerangnya. Itu kecemasan dan kepanikan yang dirasakan saat ini,” pungkas Muslim.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang tinggal dalam hitungan hari lengser dari jabatannya, masih saja memberikan sorotan publik.

Sikap tidak beradap terlihat saat acara Perayaan HUT ke-79 TNI di lapangan Monas Jakarta Pusat, Sabtu, 5 Oktober 2024.

Sikap tidak beradab Presiden Joko Widodo (Jokowi) terlihat saat acara Perayaan HUT ke-79 TNI di lapangan Monas Jakarta Pusat, Sabtu, 5 Oktober 2024.

Kala itu Jokowi tidak menyalami Wapres Weenam RI Try Sutrisno dan istri. Padahal terlihat keduanya ingin berdiri menerima lambaian tangan Jokowi usai menyalami Jusuf Kalla dan Boediono.

Namun, Jokowi justru melewati dan langsung bersalaman dengan Ny. Sinta Nuriyah Wahid. 

Praktis, sikap Jokowi tersebut menuai kritik di publik. Istana pun sudah mengklarifikasi kejadian tersebut, bahwa Jokowi sudah bersalaman lebih dulu dengan Try Sutrisno di ruang VIP, sementara mantan wapres lainnya belum.

Menanggapi itu, Sekretaris Dewan Pembina Partai Keadilan dan Persatuan (PKP) Rully Soekarta menyayangkan sikap Jokowi tersebut. Menurutnya sikap tersebut sangat tidak pantas di publik.

“Kami tentu sangat menyayangkan dan sangat menyesali, walaupun sudah bersalaman di VVIP tapi itu tidak terlihat di publik. Ini seakan-akan adab ketimuran kita hilang, seharusnya beliau (Jokowi) peka terhadap momen tersebut,” kata Rully kepada RMOL di Jakarta, Selasa, 8 Oktober 2024.

“Kalaupun harus bersalaman berkali-kali, sepuluh kali pun tidak masalah seharusnya. Kami tentu sangat menyesali karena kami (PKP-dulu PKPI), ikut mengusung beliau (Jokowi) selama 10 tahun,” tambahnya menegaskan.

PKP merupakan partai yang didirikan Try Sutrisno bersama mendiang Edi Sudrajat pada tahun 1999. Partai ini terus menjadi peserta Pemilu hingga 2019 dan sempat berganti nama menjadi PKPI.*

Comments
Loading...