Banner Event

Sekilas Filosofi Mandi-mandi Pengantin dr.Anaya Salsabila

SALAHSATUNYA adalah adat-istiadat yang merangkai sebelum dan atau sesudah pernikahan.

Pada masyarakat Melayu misalnya, mengenal adat istiadat yang disebut Mandi Pengantin, dilaksanakan pada pagi hari esoknya setelah acara bersanding dan jamuan selesai. Tapi ada juga di daerah tertentu yang melaksanakannya pada sehari sebelum akad nikah.

Adapun makna dari mandi-mandi pengantin sebagai pembersihan diri lahir dan batin, semoga mendapat rahmat dan berkah dari Allah SWT., untuk menuju kehidupan rumah tangga yang bahagia lahir dan batin setelah melewati malam pertama bahagia mereka.

Historisnya, adat istiadat mandi pengantin telah lama dikenal atau berasal mula dari  dalam masyarakat Melayu Lingga.

Pada masa yang lampau, mandi-mandi pengantin menjadi bagian dari adat istiadat perkawinan di istana Kerajaan Lingga-Riau di Daik. Raja Ali Haji di dalam Tuhfat al-Nafis mengisahkan tentang adanya adat istiadat mandi-mandi pengantin dalam pernikahan Sultan Mahmud Muzzafar Syah (1841-1857) dengan Tengku Maimunah anak dari Tengku Besar Muhitam. (Selanjutnya diriwayatkan panjang lebar…, Red.)

Dalam tradisi mandi-mandi pengantin di Lingga, setelah malam bersanding-sanding, keesokan harinya, dilanjutkan dengan acara mandi-mandi. Pada acara ini orang tua pengantin laki-laki dijemput ke rumah pengantin perempuan. Begitu pula dengan tetangga dan orang tua-tua terdekat diajak juga guna menghadiri acara tersebut yang disertai dengan berdoa untuk keselamatan bersama. Doa selamat dipimpin oleh pak imam atau pak lebai yang ditunjuk.

Mandi-mandi biasanya dilakukan dengan seperangkat perlengkapan dan bahan mandi-mandi pengantin yang diperlukan, lazimnya dilakukan di beranda/teras rumah ataupun di bangsal.  

Sebelum acara mandi-mandi dimulai terlebih dahulu diadakanlah doa selamat, karena adat dan kebiasaan orang Melayu selalu mendahulukan ini (doa selamat) sebelum melaksanakan pekerjaan.

Demikianlah juga yang dilakukan oleh keluarga H.Abang Muhammad Nasir –  Hj.Erlinawati, melaksanakan ritual mandi-mandi pengantin untuk puteri sulungnya  Dayang Anaya Salsabila di kediaman mereka di Pontianak, Kamis (7 November 2024) ba’da Ashar.

Lain lubuk lain ikannya, tidak hanya memandikan calon mempelai wanita, tapi sekaligus memandikan pasangannya, calon mempelai laki-laki Muhammad Isnu Fathurrachman dari Makassar.

Di kampung kelahiran kedua orang tua calon mempelai wanita, Kabupaten Kapuas Hulu, menamai gelar acara mandi-mandi pengantin adalah Mandi Berias.

Hanya istilahnya yang berbeda, tapi tujuannya tetap sama, yaitu; Adat berbersendikan Sya’ra, Syara’ bersendikan Kitabullah.

Akad nikah akan dilaksanakan bertempat di kediaman keluarga calon mempelai wanita di Komplek UNTAN, Jalan M.Syafe’i No.35 Pontianak, Sabtu (9 November 2024) pagi. Resepsi di Kubu Resort Jalan Ahmad Yani II, Pontianak, Ahad (10 November 2024).

Adapun mempelai wanita, dr. Dayang Anaya Salsabila adalah puteri sulung dari 4 bersaudara, merupakan anak dari  H.Abang Muhammad Nasir, SH – Bupati Kapuas Hulu 2010-2020, kini Ketua DPW PPP Kalbar dan isteri Hj.Erlinawati anggota DPD RI 2018-2029.

Sedangkan mempelai laki-laki dr. Muhammad Isnu Fathurrachman merupakan putera sulung diantara 3 bersaudara dari H.Iwan Setiawan, SKM, M.Kes – Sekretaris Dinas Kesehatan Bantaeng dan Hj.Nur Imaniah, SS.i, M.Kes, apoteker pada RS Bantaeng, Sulawesi Selatan.

Sebanyak 30 orang rombongan ikut diboyong keluarga Iwan Setiawan dari Sulawesi Selatan, untuk merayakan perayaan pernikahan Salsa dan Isnu di Pontianak, Kalimantan Barat.*   

Comments
Loading...