Sudut Pandang; Effendy Asmara Zola
Cerita pun viral dan bergulir berkepanjangan, Gus Miftah menuai kecaman, dibuli netizen karena dinilai hinakan wong cilik. Prabowo pun memberi teguran ke Gus Miftah.
GUS MIFTAH ngenyek seorang pria karena dianggap menjajakan teh-es di tempat yang tidak tepat, “goblok” teriak sang pendakwah. Mirisnya para pendamping yang duduk di sampingnya ikut menertawakan si ‘goblok’, sementara massa jemaah tabligh berteriak “borong, borong”, minta Gus Miftah memborong minuman mineral dan teh-es yang dijunjung si penjual tak dihiraukan.
Padahal saat tabligh akbar, Magelang Bersholawat Bersama Gus Miftah Habiburrohman, Gus Yusuf Chudlori, Habib Zaidan Bin Yahya di Magelang, Jawa Tengah, Rabu (20/11-2024) itu, sedang sesi berintegrasi dengan para jemaah. Sementara si bapak penjual teh-es melihat peluang mengais rezeki halalnya di tengah kerumunan orang ramai, hanya Rp5.000,-/gelas.
Ustadz Abdul Somad (UAS) dan artis penyanyi Niken Salendri, pernah juga dihadapkan pada hal yang sama, jauh sebelum sikap yang dipertontonkan oleh Gus Miftah, sang pendakwah – tokoh agama sekaligus pemilik Pondok Pesantren Ora Aji di DI Yogyakarta itu.
Pada video lawas yang viral kembali karenanya, peristiwanya lebih satu tahun silam, di alun-alun Sirkuit Reka Vida Bekasi, UAS berceramah di hadapan lk 20ribu jemaah dengan tema Jangan Ada Dusta di Antara Kita, Ahad (4/6-2023).
Di sela dakwahnya, UAS melihat ada seorang emak-emak penjual minuman di tengah kerumunan jemaah. UAS memanggil si perempuan penjual minuman ke dekat dirinya di panggung.
“Bolehkah berdagang saat tabligh akbar? Boleh! Kakak jualan es? Boleh! Mainkan terus. Berapa harga esnya satu? 5.000?” UAS pun memberi si emak-emak uang bergambar Bung Karno-Bang Hatta, Rp.100 ribu. Si emak-emak pun nampak senang 20 gelas teh-es jualannya diborong, dan dia mengucapkan terimakasih.
Muncul pula video yang memperlihatkan ketika artis penyanyi Niken Salindri tampil di sebuah panggung keramaian.
Di sela mendendangkan beberapa lagu, Niken melihat ada seorang penjaja teh es menjunjung jualannya di tengah kerumunan penonton. Niken memanggil penjual minuman itu, dan menanyakan berapa harga semua teh es yang dijualnya. Niken lalu berbalik ke belakang mengambil uang dari dalam tasnya Rp.100 ribu, menyuruh membagikan kepada para penonton.
Berbanding terbalik dengan adab yang dipertontonkan oleh Gus Miftah belakangan. Kata-kata “goblok” dan seterusnya yang merupakan merendahkan orang lain, pantas disematkan kepada Gus Miftah dengan pribahasa mulutmu harimaumu.
Dalam kapasitas selaku tokoh agama, Gus Miftah sejatinya mesti memahami ‘tupoksi’nya yang berstatus pendakwah.
“Yā ayyuhallażīna āmanụ lā yaskhar qaumum ming qaumin ‘asā ay yakụnụ khairam min-hum wa lā nisā`um min nisā`in ‘asā ay yakunna khairam min-hunn, wa lā talmizū anfusakum wa lā tanābazụ bil-alqāb, bi`sa lismul-fusụqu ba’dal-īmān, wa mal lam yatub fa ulā`ika humuẓ-ẓālimụn,” (Qur’an; ayat 11 Al-Hujarat) yang artinya;
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
Ya, barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Bertobatlah Gus, jangan sombong dan jangan berlebihan alias lebai memandang rendah orang lain.
Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) Hasan Nasbi menyayangkan pernyataan sang pendakwah – Gus Miftah yang merendahkan Sunhaji si penjual teh-es.
Presiden Prabowo pun menegur langsung, karena Gus Miftah (43) bukan hanya seorang mubaligh dan pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman DIY, ia juga merupakan Utusan Khusus Presiden (UKP) Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan.
“Kami dari Kantor Komunikasi Kepresidenan ikut menyayangkan kejadian yang kurang baik yang terjadi belakangan ini, dan itu melibatkan utusan khusus Presiden Republik Indonesia,” kata Hasan dalam video yang dibagikan ke wartawan, Rabu (4/12-2024).

Sunhaji mengaku tersinggung dan sempat merahasiakan kejadian miris itu pada keluarganya, “baru saja masuk ke area tabligh sudah mendapat kayak gitu” (goblok). Dia pun tak menyangka videonya viral, karena dia sendiri tak punya ponsel. Barulah kemudian peristiwa miris yang disimpannya bocor ke isteri dan anak-anaknya. Akhirnya Gus Miftah minta maaf, namun Sunhaji seperti tertekan.
Presiden Prabowo menegur Gus Miftah dirasa tak cukup, desakan makin kencang, “copot Gus Miftah dari jabatan UKP”.
Sutradara dan pemeran Indonesia, Joko Anwar dalam cuitan di akun Xpribadinya yang penulis lihat hari ini, Kamis (5/12-2024) menyatakan prihatin dan geram.
“Indonesia ini miskin keteladanan. Banyak pemimpin, pengayom pendidik, yang seharusnya memberikan contoh baik, malahan merendahkan manusia lain. Dan ini bukan saja dibela, dinormalisasi oleh para pendukungnya. Tapi dirayakan (Masih jijik mual banget tiap liat Bapak itu ketawa.”
Dalam cuitan sebelumnya, Joko Anwar mendesak Gus Miftah dipecat dari UKP (Utusan Khusus Presiden), kalau tidak, nilai kemanusiaan makin nyungsep.
“Wa lā tuṣa’ir khaddaka lin-nāsi wa lā tamsyi fil-arḍi maraḥā(n), innallāha lā yuḥibbu kulla mukhtālin fakhūr (in)”, (Qur’an; ayat 18 Lukman) .
Artinya: “Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.”
Berdasarkan hadis HR Ahmad, bahwa Rasulullah SAW mengatakan; sebaik-baiknya manusia ialah menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain, “Khoirunnas anfa’uhum linnas” * (Pontianak 0512’24, 23.00WIB)
Penulis Pimred AKSIBORNEO/Aktivis ’66 Kalbar Wadan Yon “Sutoyo”
