AKSIBORNEO – “Pijat bayi atas permintaan orangtua atau ibu dari bayinya, bukanlah merupakan kegiatan baru, hingga sekarang masih tetap digandrungi.”
TEMPO doeloe, pijat bayi dilakukan oleh perempuan yang biasa disebut sebagai dukun beranak. Jadi dukun beranak, tak hanya melakukan pengurutan atau pijat pada ibu pra dan atau pasca melahirkan, tapi juga pada bayi yang beberapa waktu setelah lepas plasentanya.
Pada masa lalu dan juga masih ada hingga sekarang, dukun beranak digambarkan, sebagai seorang perempuan separo baya penyirih (makan sirih).
Seiring berjalannya waktu, keterampilan mak dukun tersebut seakan telah diambilalih oleh profesional berpendidikan khusus dari sekolah kebidanan.
“Ndak ape-ape, bagos gak ade generasi peneros, Kalok perlu kamek nambah ilmu agik dari mereke tu”, kata Mak Piah (54) seorang dukun beranak di Sungai Jawi, Pontianak Barat, dalam bahasa Melayu yang kental saat ditemui AksiBorneo, Ahad (8/12-’24).
Mak Piah tak merasa tersaingi, bahkan berterimakasih ada generasi penerusnya sebagai dukun beranak (bidan) terdidik. Bahkan kalau bisa, kata Mak Piah, dukun beranak diajari keterampilan lagi.
“Maklomlah, anak dare sekarang, banyak yang ndak maok jadi dukon beranak. Gengsi katenye”, imbuh Mak piah.
Salah seorang wanita muda terpantau oleh AksiBorneo sedang memijat-mijat atau mengurut sosok bayi berumur 1,5 bulan disebuah rumah.
Nampak terampil dengan kelembutan memijat bayi, Eka – demikian dia menyebut nama panggilannya, mengaku keterampilannya tersebut diperolehnya sebagai alumnus Sekolah Kebidanan di Pontianak.
Menurut Bidan Eka, pijat bayi biasanya dilakukan pada balita, juga pada yang ada sudah berusia di atas balita, antara usia 10 – 12 tahun.
“Usia bayi 14 hari sudah boleh diurut”, ujarnya. Namun yang perlu diketahui, imbuhnya, bayi harus dalam kondisi sehat, tidak dalam kondisi demam tinggi.
“Ada juga bayi yang rewel, ini juga kendala. Terpaksa stop pijat”, tuturnya.
“Pijat bayi sebaiknya dilakukan rutin, satu bulan sekali misalnya”, ujar Eka.
Bidan Eka mengaku telah sekitar 5 tahun menjalani profesi untuk kesehatan bayi tersebut, sejak sedang ramai-ramainya Covid-19.
Selama itu dia sudah bergabung dengan belasan teman-teman seprofesinya dalam tim di grup Bidan Sahabat Pontianak/Ins.
Sekilas Manfaat Pijat Bayi
Dipetik dari alodokter.com, bahwa pijat bayi bukan cuma sekedar tren, pijat bayi memberikan beragam manfaat.
Pemijatan bayi harus dilakukan dengan lembut dan hati-hati. Berbeda dengan orang dewasa yang otot dan kulitnya tahan terhadap tekanan keras saat dipijat, bayi akan mudah merasa kesakitan dan cedera bila dipijat terlalu keras. Hal ini karena otot dan kulitnya masih tipis dan sensitif.
Bahwa pijat bayi bermanfaat untuk merangsang hormon pertumbuhan bayi. Sentuhan fisik pada bayi dapat meningkatkan daya tahan tubuh.
Pijatan lembut pada bayi dapat membantu bayi lebih rileks, sehingga menurunkan stres dan tekanan yang menunjang produksi imun tubuh. Mengurangi kembung dan kolik (sakit perut). Merangsang fungsi pencernaan serta pembuangan, karena pijat bayi dapat membantu meredakan gejala kembung dan memperlancar udara di perut.
Tidak hanya melalui pijatan, bayi juga dapat merasakan manfaat pijat bayi saat ia bersentuhan langsung atau mendapatkan kontak kulit dengan orang yang memijatnya. Sentuhan fisik ini dapat membuat bayi merasa senang dan nyaman.*
