AKSIBORNEO – “Aparatur Sipil Negara (ASN) Dikti Saintek yang berjumlah lebih dari 300 orang itu, benar-benar merasa terzalimi oleh sepakterjang Menteri Satryo.”
DIKETAHUI, unjuk rasa yang terjadi di lembaga tinggi negara bidang pendidikan itu, merupakan pengungkapan fakta arogansi Menteri Satryo Soemantri Brodjonegoro yang baru 4 bulan menjabat Mendikti Saintek.
Ringan tangan dengan main tampar dan marah-marah serta main pecat yang salahsatunya pemecatan tanpa prosedural pegawai senior di Kemendikti, Neni Herlina yang sudah 24 tahun bertugas, merupakan alasan digelarnya unjuk rasa pada Senin (20/1-2025) itu.
Mereka merasa tidak tenang dan was-was menjalankan tugas pekerjaan, bukan mustahil nasib yang sama sewaktu-waktu menimpa diantara mereka juga. Menggelar aksi damai dan membentangkan spandoek antaralain;
– Kami ASN Dibayar Oleh Negara Bekerja untuk Negara Bukan Babu Keluarga
– Institusi Negara Bukan Perusahaan Pribadi Satryo dan Isteri
– Pak Prabowo, Selamatkan Kami dari Menteri Pemarah, Suka Main Tampar, dan Main Pecat
Ketua Paguyuban Pegawai Ditjen Dikti, Suwitno mengatakan, selama ini prosedur mutasi jabatan di Kemendiktisaintek dilakukan secara tidak sesuai prosedur.
“Perubahan kementerian kalau soal pergantian jabatan pimpinan itu hal yang biasa. Tapi dengan cara-cara yang tidak elegan, cara-cara tidak fair, cara-cara juga tidak sesuai prosedur,” ujar Suwitno.
Salah satu puncak dari kekecewaan pegawai Kemendiktisaintek, kata Suwito, adalah pemecatan salah satu pegawai di bagian rumah tangga Kemendiktisaintek (Neni Herlina).
Suwitno mengatakan seharusnya proses pendisiplinan pegawai dilakukan secara prosedural.
“Kalau pegawai melakukan kesalahan, itu kan bisa ditindaklanjuti dengan penjatuhan hukuman disiplin. Tapi harus jelas prosedurnya, ini tidak dilakukan sama sekali,” ungkap Suwitno.
Pembelaan Diri Sekjen Kemendiktisaintek
Sekjen Kemendiktisaintek Togar M. Simatupang mengatakan pihaknya masih membuka ruang dialog ke pegawai yang dipecat.
“Kita apresiasi penyampaian aspirasi suara dari beberapa pegawai. Hal yang terjadi pada banyak pemekaran organisasi, penataaan organisasi, dan dinamika interaksi,” ucap Togar saat dikonfirmasi, Senin (20/1-2025).
“Sebenarnya masih tersedia ruang dialog yang lebih baik dan ini tetap dengan tangan yang terbuka, pemikiran yang terbuka, dan pencapaian resolusi yang terbaik,” tambah Togar.
Togar membantah bahwa pihaknya melakukan pemecatan terhadap Neni Herlina secara singkat.
Dirinya mengatakan ada penjaminan mutu yang harus dilakukan oleh para pegawai Kemendiktisaintek.
“Tidak sejauh itu, dalam penataan ada tingkat layanan dan mutu yang harus dijamin oleh bagian atau individu. Ada perbedaan dan tentu aplikasi penghargaan dan pembinaan,” katanya.
Proses mutasi terhadap Neni, kata Togar, masih terbuka untuk opsi lain. Dirinya meminta semua pihak mengedepankan jalan dialog.
“Sedang proses dan tentu terbuka untuk opsi lain, bukan hitam putih. Tidak baik terlalu reaktif dan tidak ada dialog,” pungkasnya.*
Baca Artikel terkait sebelumnya :
Menteri Arogan Didemo Ratusan Anak Buahnya Sendiri
“Kami ASN Dibayar Oleh Negara Bekerja untuk Negara Bukan Babu Keluarga”
