Banner Event

Hotspot Karhutla di Kalimantan Tembus 1.487 Titik, Kalbar Terbanyak ke 2. Ini Sebarannya

DATA Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terbanyak, yakni 767 titik.

Lebih lanjut InfoIndonesia memberitakan, Kalimantan Barat berada di urutan berikutnya dengan 560 hotspot. Sementara itu, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing tercatat memiliki 74 titik panas.

Adapun Kalimantan Utara menjadi wilayah dengan jumlah hotspot paling sedikit, yakni 3 titik. Total dari lima provinsi tersebut mencapai 1.478 titik, sementara data BNPB mencatat keseluruhan hotspot di Kalimantan sebanyak 1.487 titik.

Kalteng Jadi Wilayah dengan Hotspot Terbanyak

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, data tersebut berasal dari pemantauan terbaru Satelit NOAA-20.

“Berdasarkan data pemantauan terbaru dari Satelit NOAA-20 hingga Kamis (20/8), sebaran hotspot di wilayah Kalimantan sebanyak 1.487 hotspot,” ujar Berton dalam keterangannya, Kamis (20/8). Jika dilihat berdasarkan provinsi, berikut sebaran hotspot yang tercatat:

Kalimantan Tengah menyumbang lebih dari separuh hotspot yang tercatat dari lima provinsi tersebut.

Pemerintah Perkuat Kesiapsiagaan Karhutla

Tingginya jumlah titik panas menjadi perhatian pemerintah di tengah potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan. BNPB menyatakan pemerintah terus memperkuat koordinasi dan kesiapsiagaan lintas sektor untuk mengantisipasi kemungkinan karhutla meluas.

Pemantauan titik panas melalui satelit menjadi salah satu bagian penting dalam mendeteksi potensi kebakaran sejak dini. Data tersebut dapat menjadi dasar bagi pihak terkait untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan penanganan di wilayah yang berisiko. Masyarakat di wilayah yang terdeteksi memiliki banyak hotspot juga diimbau tetap waspada terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama saat kondisi lingkungan mendukung penyebaran api.*infoindonesia

Comments
Loading...