AKSIBORNEO – “Sepekan sudah puasa Ramadhan dijalani. Sebagai wujud kegembiraan, tradisi berbuka puasa dengan kemeriahan jajanan yang biasa disebut ‘takjil’, sudah tentu menyemarakan suasana petang hari menjelang waktu berbuka.”
LAZIM jika di beberapa lokasi pinggir-pinggir jalan bertertentu banyak yang berjualan jajanan berbuka puasa tersebut.
Kerumunan warga selaku pembeli tak terhindarkan di lapak-lapak penjualan jajanan untuk berbuka, peduli setan dengan segala macam aturan selama pandemi covad-covid corona.
Rata-rata jajanan untuk peng-awal berbuka antara Rp.800,- – Rp.1,000/satu kue macam-macam jenis, baik yang manis atau pun yang gorengan.
Dari pengamatan yang terlihat, gorengan adalah ‘takzil’ yang paling diburu warga. Namun menghilangnya pasokan minyak goreng dalam dua bulan terakhir, berdampak cukup signifikan juga bagi jajanan ‘wong cilik’ itu untuk menaikan harga.
Diketahui sepekan jelang hari pertama puasa Ramadhan, penjual jajanan gorengan sudah mematok harga rata-rata Rp.1.200,-/satu kue. Dikuti harga jenis jajanan lainnya, seperti nagasari, kelepon, bakwan, gandasturi, lepat ubi, dan sebagainya. Sementara untuk jenis kue-kue terntu yang semula Rp.1.500,- melonjak menjadi Rp.2.000,- sampai Rp.2.500,-
Tak cuma dampak dari harga minyak goreng yang pada akhir 2020 masih Rp.13,500 – Rp.14,000/liter, kenaikan dan menghilangnya minyak goreng yang ada tapi langka sampai dengan Rp.22,500 – Rp.24,000/liter di pasaran sekarang, juga dipengaruhi oleh olengnya harga BBM pertamax dan pertalit kini.
Sementara itu, olengnya perekonomian di tanah air dewasa ini, aksi unjuk rasa mahasiswa dan masyarakt pun mulai marak, antara lain menuntut rezim pemerintahan yang berkuasa untuk menstabilkan harga-harga.*
