AKSIBORNEO – “Tak mau pusing dengan urusan ngantre sampai puluhan tahun untuk melaksakan Rukun Islam yang ke-5, tak sedikit calon jamaah haji Indonesia menempuh jalan pintas non reguler.”
DENGAN prinsip lebih cepat lebih bagus, jalan pintas itu ditempuh lewat jalur ONH plus atau ONH Furoda, kendati diketahui ongkos naik haji (ONH) yang dipatok perusahaan travel jauh di atas ONH reguler. Bahkan ONH Furoda hampir dua kali lipat di atas ONH Plus.
Namun diperkirakan ribuan calon jamaah haji (CJH) harus menelan pil pahit ketika sudah menjadi jamaah calon haji (JCH) Furona.
Contoh kasus yang terjadi adalah tragedi 46 calon haji furoda dari Indonesia dipulangkan karena ditolak Pemerintah Arab Saudi, akibat menggunakan visa tidak resmi.
Mereka yang 46 calon haji itu sudah mengenakan pakaian ihram. Namun, mereka berangkat ke Arab Saudi tidak melalui Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK), travel yang biasa memberangkatkan jemaah haji khusus.
Selengkapnya Baca Artikel terkait : Tragis, 46 Jamaah Calon Haji Indonesia Sudah Berpakaian Ikhram Diusir Arab Saudi Dideportasi di Bangkok
Diperkirakan, ribuan calon haji Indonesia gigit jari batal ke tanah suci, termasuk asal Kalimantan Barat yang terbuai iklan atau promosi lewat media sosial. Bahkan diketahui ada yang jatuh sakit karena lemah mental, pilu dan malu karena sudah selamatan sebelumnya.
Sementara itu adalah Darson Liputo (66), asal kota Pontianak (Kalimantan Barat), salah seorang korban perusahaan travel yang gagal memberangkatkannya ke tanah suci. Tapi dia bukan salah satu diantara 46 orang yang nyaris terlantar di Makkah Almukaramah via Travel Alfatih Bandung, Jawa Barat.
Darson nampak tegar dengan senyumnya yang khas ketika ba’da magrib, Sabtu (9 Juni 2022), dimintai berkisah oleh beberapa jamaah sebuah masjid tak jauh dari rumahnya di bilangan Jalan Tabrani Ahmad, Pontianak Barat.
Menurutnya, dirinya telah mengeluarkan biaya Rp295 juta via travel HMB (Haji Mabrur Barokah) Makasar Cabang Pontianak yang bekerjasama dengan travel lain, Aluna Amanah.
Dalam minggu keempat Juni lalu, dari Bandara Supadio Kubu Raya, Pontianak, Darson dan rombongan setujuan sekitar 30 orang diberangkatkan HMB ke Bandara Sukarno-Hatta, Cengkareng.
Namun, setelah beberapa waktu menunggu, bukannya kabar menggembirakan yang diberikan pihak travel, tapi informasinya harus menunggu visa yang masih diurus. Rombongan diinapkan di hotel.
“Saya dan beberapa lainnya diinapkan di sebuah hotel di Jalan Gajah Mada, Jakarta,” kata Darson.
Menurut Darson, delapan hari terkatung-katung di Jakarta, dengan biaya menginap Rp.1juta/hari, makan Rp.100ribu/hari, ditambah transportasi Rp200ribu.hari, tanpa kejelasan soal visa yang entah-berantah. Dia pun memutuskan untuk pulang ke Pontianak.
Dalam pengamatan Darson, korban seperti dirinya atau yang 46 orang di tolak otoritas Arab Saudi, diperkirakan tak cuma puluhan atau ratusan, boleh jadi ada ribuan orang yang gigit jari. Darson beralasan, karena ketika berada di Bandara Cengkareng, jamaah calon haji Indonesia penuh sesak tak terkira sepertinya gelisah semua.
Ditanya bagaimana dengan nasib Rp.295 juta yang telah dikeluarkan. Menurut pria ramah ini, pihak travel berjanji akan mengembalikan bulan depan.
“Insyaallah nanti saya akan umroh saja dulu,” ujarnya.
Ketika AB,com mengatakan ingin memotret dirinya sebagai ilustrasi kisah pilunya, pria asal Makasar yang sudah puluhan tahun menjadi warga kota Pontianak ini tidak keberatan.
“Ndak apa-apa, biar buat pembelajaran bagi orang lain yang mau ibadah haji atau umroh, supaya berhati-hati menentukan pilihan travel yang benar-benar jelas terdaftar di Kemenag,” katanya.
“Nanti pagi, Insyaallah saya salat Ieduladha di sini,” tutup jamaah tetap Masjid Darul Muttakien ini, karena azan Isya telah berkumandang.***
