Banner Event

Kenapa sih, DPP PPP Gerah Melulu? Suharso Manoarfa Nyatakan Ogah Ikut Forum Eks Petinggi PPP yang Dukung Anies Baswedan

AKSIBORNEO – “Diketahui, sejumlah mantan petinggi PPP (Partai Persatuan Pembangunan) mendirikan Forum Ka’bah Membangun untuk mendukung Anies Baswedan. Namun mantan Ketua Umum partai berlambang Ka’bah ini – Suharso Manoarfa mengaku tak mau ikut dengan forum tersebut.”

SUHARSO menyatakan kalau dirinya tak lagi terlibat dengan urusan politik, makanya dia enggan berkomentar  terkait manufer politik para mantan petinggi partai berlambang Ka’bah itu. 

“Wah, enggak.Saya sudah enggak ikut-ikut kayak gitu”,  kata Suharso mantan Ketum PPP yang Menteri/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) itu di Istana Kepresidenan, Rabu (2/11-2022), terkait terbentuknya Forum Ka’bah Membangun.

Baca juga : Aksi Demo Ratusan Kader PPP, Minta Suharso Monoarfa Hengkang dari Partai Berlambang Ka’bah  

Seperti diketahui, dalam forum Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) di Hotel Swiss Belinn Modern Cikande, Serang, Banten, Minggu (4 September 2022), Suharso Monoarfa resmi diberhentikan dari jabatan Ketua Umum PPP, Senin (5 September 2022) dini hari, digantikan oleh Muhammad Mardiono.

Namun, Suharso mengklaim dirinya masih Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), sehingga tidak mau ikut dengan para mantan yang kini membentuk Forum Ka’bah Membangun yang dibidani oleh Suryadharma Ali Cs, untuk mendukung Anies Rasyid Baswedan di Pilpres 2024.

Benih-benih perpecahan di dalam tubuh DPP PPP, diawali dengan sikap Ketua Umum DPP PPP sebelumnya – Surya Dharma Ali (SDA) yang mengejutkan.

Kala itu SDA tiba-tiba tampil di tengah-tengah kampanye akbar Partai Gerindra jelang Pilpres 2014 silam. Sikap yang menuai controversial internal partai berlambang Ka’bah itu, memunculkan dualisme kubu Romy hasil Muktamar Surabaya dan kubu Djanz Farid hasil Muktamar Jakarta yang mendukung SDA.

Romahurmuziy yang akrab disapa Romy menyebut hasil Muktamar Jakarta merupakan muktamar-muktamaran, muktamar kw-kw-an, apakah itu kw-1, kw-2, kw-3. “Inilah muktamar-muktamaran atau muktamar kawe-kawean,” ujarnya kala itu.

Namun apa mau dikata, dalam geliat politiknya Romy tergelincir di sebuah kasus, bernasib serupa tapi tak sama dengan SDA yang nyangkut di KPK. Sebelumnya, Romy juga dikecam karena dianggap tak beretika – nyelonong ke bilik pribadi seorang kiyai sepuh tanpa permisi.

Dalam kembang-kempisnya DPP PPP yang lalu jatuh ke tangan Djanz Farid sebagai Ketua Umum, berlanjut pada kepemimpinan Suharso Manoarfa yang memang sudah ada tanda-tanda retak mencari belah, tergelincir pula soal ‘amplop kiyai’ atau ‘kiyai amplop.’ Sampai akhirnya Mardiono menjabat Plt Ketum PPP menggantikan Suharso.***

Editor; Effendy Asmara Zola

Comments
Loading...