Sudut Pandang, by; Effendy Asmara Zola
“Pagi ini, beberapa hari setelah hari raya Idul Adha. Berempat kami semeja ngopi bareng di sebuah warkop, bahasa kerennya duduk bersama teman satu table. Cuma kopi pancung, berdiskusi ala kami orang kampung.”
ADALAH Mat Celup diantara kami yang kali ini memulai diskusi dengan mengangkat tema ‘Diskusi Daun Simpur Tali Bundung’.
Setelah menyelupkan roti tambi ke dalam kopinya dan kemudian lenyap di balik mulutnya yang lantis, Mat Celup mulai angkat bicara.
Dia mengapresiasi Surat Edaran Pemkot Pontianak Nomor 30 tahun 2024, tentang Pelaksanaan Hari Raya Idul Adha Tanpa Sampah Plastik.
Pemkot Pontianak mengimbau kepada para panitia Qurban Idul Adha tahun ini,1445 Hijriah, untuk dapat mengurangi atau tidak menggunakan kantong plastik pada kegiatan Hari Raya Idul Adha.
Alternatifnya, supaya mengganti dengan bahan-bahan yang mudah terurai (organik), seperti daun pisang atau daun jati, anyaman bambu (besek), atau wadah bahan organik lainnya yang mudah terurai, non plastik.
“Benar juga sih Brow, pelarangan pengunaan kantong kresek plastik, apa pun jenis dan apa pun warnanya, sebagai pembungkus daging kurban, sangat berisiko bagi kesehatan secara berproses di tubuh. Antara lain menempelnya racun microplastik pada serat-serat daging. Apalagi jika daging di dalam bungkusan plastik tersebut dimasukan ke dalam kulkas. Bahaya, Brow”, cetus Mat Celup, tentu dalam bahasa Melayu yang kental.
Menurut Mat Celup, sejak lebih-kurang tiga puluh tahun silam hingga sekarang kantong kresek atau segala jenis kantong-mengantong plastik meraja lela. Pemerintah daerah di kota ini dan juga yang di tingkat provinsi, tak sedikit pun pernah berpikir untuk kembali pada kearifan lokal masa silam.
Meski pun dia mengaku tak tahu pasti berapa besar volume sampah di kota ini. Namun secara kasat mata, volume sampah terus melonjak seiring melonjaknya harga beras, gula, dan kebutuhan pokok sehari-hari lainnya.
Secara kasat mata, katanya dalam bahasa Melayu Pontianak yang kental itu, sampah makin banyak belonggok di sana-sini seiring populasi penduduk. Rata-ra sampah dihimpun berbungkus kantong kresek plastik, dibuang ke tempat-tempat pembuangan sampah awal di pinggir-pinggir jalan umum, sebelum diangkut ke tempat pembuangan akhir sampah oleh petugas yang bersangkutan.
Soal kantong atau makanan-minuman instan yang terbuat dari bahan plastik itulah yang menarik perhatian kami.
Pemerintah kota, kata Mat Celup, selama ini hanya mengekpose dapat menekan angka volume sampah, sambil minta perhatian masyarakat untuk berpartisipasi pada pemerintah untuk mengatasi masalah sampah. Tidak membuang sampah sembarangan, ke parit misalnya.
Tapi pemerintah tak pernah sekali pun berpartisipasi minta pendapat warganya lewat forum diskusi umpamanya, bagaimana menghalau atau setidaknya mengurangi sampah plastik dari permukaan bumi kota Pontianak ini.
“Bagaimana caranya?”, kami pun bernostalgia ke masa muda.
Dulu, emak-emak atau nenek-nenek kita kalau belanja apa pun juga dari yang kering sampai yang basah, selalu berbungkus daun simpur (Dillenia suffruticosa) yang dikuatkan dengan ikatan tali bundung (Cyperus malaccensis) atau lidi nipah. Kalaupun ada kantong, disebutlah kantong selongsong yang terbuat dari kertas tebal untuk makanan kering.
Sekarang ini, ketupat pun dibuat berbungkus plastik. Banyak yang sudah meninggalkan kearifan lokal dengan anyaman daun kelapa, sehingga generasi sekarang banyak yang tidak pandai menganyam daun kelapa untuk membuat sarung ketupat. Sarung ketupat hanya nampak semarak menjelang Idul Fitri atau Idul Adha.
Nah, Surat Edaran kalau cuma habis-habis di ucapkan atau dibacakan tanpa disosialisasikan, tanpa pemahaman lebih lanjut ke masyarakat, percuma.
Surat Edaran diedarkan, tapi terbatas tak sampai ke RT/RW. Contohnya, saat pembagian daging hewan kurban beberapa hari yang lalu, banyak panitia kurban yang membagikan daging dalam bungkusan kantong plastik yang diketahui antara lain menyerap racun microplastik itu.
Kesimpulan diskusi kopi pancong kami pagi ini, Surat Edaran jadi tak ada nilainya, tanpa tindak lanjut pemahaman berkesinambungan sampai ke tengah-tengah masyarakat. Sama halnya kala imbauan untuk warga menanam cabe rawit di halaman rumah atau pot-pot saat harga cabe rawit melambung. Habis-habis dengan imbauan pada upacara hari tani, melambung ke telinga kanan – keluar lewat telinga kiri pejabat terkait baik tingkat kecamatan maupun kelurahan, tak sampai ke bawah-bawah.
“Same gak bual !” (Minal Aidin wal Fa Idin. Selamat hari raya Idul Adha, mohon maaf lahir dan batin).
