Kawal Pilkada

Sudut Pandang by,
Effendy Asmara Zola
“Ada tiga ‘petarung’ pada Pilgub Kalbar 2024, incumben Sutarmidji – Didi Haryono, Ria Norsan – Krisantus Kurniawan, dan Muda Mahendrawan – Jakius Sinyor”.
DIANTARA ketiganya, yang ramai jadi perbincangan adalah pasangan incumben Sutarmidji vs mantan wakil incumben, Ria Norsan.
Mantan Bupati Kubu Raya – Muda Mahendrawan yang didukung 6 partai non parlemen; PKB. Ummat, PBB, Gelora, Partai Buruh, dan Partai Kebangkitan Nusantara, minim dari pemberitaan dan perbincangan. Muda yang berpasangan dengan Jakius Sinyor – mantan Kadis PUPR Prov.Kalbar, dianggap sebagai pemecah suara belaka.
Sutarmidji dan Ria Norsan punya cerita panjang yang disebut pecah kongsi, akibat perseteruan keduanya sejak awal berkuasa di priode pertama (2018-2023), sehingga tampil masing-masing untuk merebut kursi orang nomor 1 Kalimantan Barat.
Ria Norsan, kader senior Partai Golkar lantas menjadi kader dadakan PDI-P, dipecat Golkar karenanya, karena partai berlambang pohon beringin ini sejak awal konsen mendukung incumben Sutarmidji. ‘Tidak ada dua matahari di Golkar’, ujar Maman Abdurahman – Ketua DPD Partai Golkar Kalbar tempohari yang kini Menteri UMKM Kabinet Merah Putih.
Sejatinya setali tiga uang saja dengan incumben Sutarmidji yang telah 23 tahun dibesarkan oleh Partai Persatuan Pembangunan (PPP), jadi kutu loncat ke Partai NasDem. Padahal ketika pemilihan dan juga pengukuhan pengurus baru partai berlambang kabah ini (2021-2026), Sutarmidji masih hadir dalam kapasitas sebagai Gubernur Kalbar sekaligus kader senior PPP, Sabtu (28 Agustus 2021). ‘Jangan sekadar bernafsu menjadi ketua’, ujarnya tersirat kala itu.
Ria Norsan disingkirkan Golkar, Sutarmidji dicuekin PPP, sami mawon. Lantas PPP Kalbar bersama partai non parlemen lainnya, HANURA kemudian memberikan dukungan ke Ria Norsan. HANURA sendiri awalnya mendampingi Muda Mahendrawan, dimana Ketua DPD HANURA Kalbar – Suryanto Tanjung merupakan wakil cagub Muda.
Mengikuti perjalanan tahapan kampanye pilkada serentak 2024 ini, incumben Sutarmidji yang didampingi Kapolda Kalbar (2017-2020), Irjen.Pol.(purn) Didi Haryono, dan didukung 8 parpol; NasDem, Golkar Gerindra, Demokrat, PAN, PKS, PSI, serta Perindo, memang pantas kerja keras.
Mantan wakil sang incomben, Ria Norsan memang cuma didukung satu partai besar, yakni PDI-Perjuangan, tapi punya kuasa dengan 13 kursi dari 65 kursi DPRD Prov.Kalbar plus PPP dan HANURA Kalbar itu.
Norsan diketahui dan dikenal hanya di Kota Pontianak, Kab. Kubu Raya, Kab. Mempawah, dan Kab. Landak. Sedangkan di 10 kabpaten lainnya, dia hanya terdengar namanya.
Beda dengan incumben Sutarmidji yang cukup dikenal di semua 14 kabupaten kota, ya namanya juga gubernur.
Namun demikian, Ria Norsan mempunyai kekuatan besar yang bisa mendukungnya terutama suara dari 5 kabupaten di timur Kalbar, yakni Kab. Kapuas Hulu, Melawi, Sintang, Sekadau, dan Sanggau, serta beberapa kabupaten lainnya.
Kekuatan besar itu ada pada Lasarus – Ketua PDI Perjuangan Kalbar yang cukup dikenal, dan telah pula tiga kali menorehkan angka signifikan lolos menjadi anggota DPR-RI dan menjadi Ketua Komisi V.
Kekuatan besar itu ditambah dengan nama besar Abang Muhammad Nasir – mantan Bupati Kapuas Hulu dua priode (2010-2020), dan Ketua DPW PPP Kalbar sekarang. Bang Lay – nama populer panggilan Abang Muhammad Nasir punya pengaruh yang bukan kaleng-kaleng untuk Kalimantan Barat.
Krisantus Kurniawan – pasangan Ria Norsan, tentu tak ketinggalan memainkan perannya. Putera Kabupaten Sintang ini, baru saja melepas kursi DPR-RI yang diunggulinya lagi.
Tak heran jika dari dikalangan politisi terdengar anekdot, incumben Sutarmdji sebenarnya bukan vs Ria Norsan, tapi Sutarmidji vs Lasarus.
Namun, kekuatan bisa menanjak – bukan mustahil pula melorot pada detik-detik akhir pertarungan karena faktor X.
Apa yang terjadi sekarang, jelang detik-detik penyoblosan 27 November 2024 hingga penghitungan suara? Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, incumben Sutarmidji vs Ria Norsan, tentu sedang dalam suasana hati yang berdebar-debar. Berdoa sajalah!* (Pontianak, 2411’24)
Baca juga: “Jangan Mengharap Burung Terbang, Punai di Tangan Dilepaskan”
