Banner Event

“Jangan Mengharap Burung Terbang, Punai di Tangan Dilepaskan”

Kawal Pilkada

KPU RI telah menetapkan 204.807.222 DPT (daftar pemilih tetap) untuk  416 kabupaten dan 98 kota yang terdapat pada 38 provinsi.

Dalam kesempatan ini, mari kita melihat khusus hanya pada DPT Kalimantan Barat sebanyak 3.958.561, dan khusus kota Pontianak sebagai ibukota provinsi yang punya 489.208 DPT.

Belasan nama awalnya meluncur menyatakan siap maju sebagai kandidat calon walikota Pontianak. Akan tetapi pada akhirnya tinggal Mulyadi yang mendaftar sebagai bacalon dan bawacalon taysennya.

Belasan nama lainnya sadar diri, bakal ke ‘parit’ jika berani melawan incomben Edi Rusdi Kamtono – Bahasan yang telah berkuasa di 2018 – 2023.

Tak terlihat adanya belang pada peta politik kekuasaan sang incumben selama menjadi orang nomor satu Kota Pontianak. Begitu pula pada pasangannya – Bahasan yang mengawali karir politiknya sebagai anggota DPRD I Kalbar – sebelum menjadi wakil walikota di priode pertama.

Sedangkan Edi Kamtono diketahui awalnya adalah birokrat – Kepala Dinas PU Kota Pontianak – sebelum ‘dijemput’ Walikota Sutarmidji untuk priode keduanya 2013 – 2018 sebagai wakil walikota menggantikan Paryadi wakil terdahulu yang KO karena nyalon sendiri.

Berikutnya, Sutarmidji melenggang jadi orang nomor 1 Kalbar untuk masa jabatan 2018 – 2023, dan kini mengadu keberuntungan lagi untuk memimpin Kalbar 2024 –  2029 bersama dengan pasangan barunya – setelah berseteru tajam dengan wakilnya Ria Norsan yang maju juga nyalon.

Sementara itu Edi Kamtono yang sudah masuk menjadi kader Gerindra, sukses bersama Bahasan menduduki kursi orang nomor 1 Kota Pontianak 2018 – 2023.

Kini incumben dengan nomor urut 1 menghadapi Mulyadi yang tersisa dari belasan nama  barisan sadar diri yang tak mau kalut bergelut melawan incumben yang diprediksi bakal menang lagi. Pada Pilwako sebelumnya, Edi Kamtono – Bahasan menang telak 63,3% dari 2 pasang pesaing kala itu.

Lalu, bagaimana dengan Mulyadi? Berpasangan dengan Nyonya Harti Hatijah asal Kota Singkawang, Mulyadi coba peruntungan sebagaimana abang kandungnya, Sutarmidji – incumben Gubernur Kalbar.

Mulyadi adalah mantan Sekda Pemkot Pontianak priode lalu, dan sebelumnya Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak.

Dia kurang dikenal, hanya diketahui, merupakan adik kandung Sutarmidji, incumben Gubernur Kalbar sekarang.

Mulyadi pernah membuat kesal AKBP (Purn) Andi Harun, SH exs Ka.BNN Kota Pontianak – yang dibuat yakin bakal jadi wakilnya di Pilwako 2024 ini. Andi Harun meninggal dunia pada  Selasa (5/11-2024).

Mulyadi juga sempat membuat jengkel PPP – Partai Persatuan Pembangunan, khususnya Ustadz Miftahul Ulum. Padahal Mulyadi sudah dibawa ke DPP PPP – Partai Persatuan Pembangunan di Jakarta. Kepada Sekjen PPP, dia meyakinkan minta  didampingi Ustadz Miftah untuk menjadi wakilnya. Ustadz Miftah – panggilan akrabnya, adalah alumnus Dalwa, saat ini Sekretaris PPP DPW Kalbar.

Tapi Mulyadi mendua, pulang-pulang membawa nama Nyonya Singkawang – Harti Hatijah untuk menjadi wakilnya. Ujung-ujungnya, PPP Kota Pontianak menarik dukungan atas dirinya, beralih mendukung incumben Edi Kamtono bersama sejumlah partai pendukung lainnya.

Harti Hatijah merupakan Wakil Bendaharawan Umum DPP Partai Demokrat. Harti Hartidjah yang disebut-sebut mengawali karir sebagai advokat, pernah menjadi Caleg DPRD DKI Jakarta pada Pemilu 2014, tapi gagal.

Pada pemilihan umum (Pemilu) 2024, Harti maju sebagai calon legislatif (Caleg) DPR-RI Dapil I Kalbar – yang meliputi Kota kelahirannya Singkawang, Ka.Kubu Raya, Kab.Sambas, Kab.Mempawah, Kab.Ketapang, Kab.Bengkayang, Kab.Landak, dan Kab.Kayong Utara. Lagi-lagi gagal.

Dua kali nyalon legislatif Harti Hatijah gigit jari, kini coba mengadu peruntungan menerima ‘pinangan’ Mulyadi untuk taysen di Pilwako Pontianak 2024 dengan nomor urut 2.

Timbul pertanyaan, Harti Hatijah sebenarnya penduduk mana? DKI Jakarta apa Singkawang? Pastinya, kata sumber yang dekat dengan kalangan Dukcapil Pontianak, Harti Hartijah bukan pemegang KTP kota Pontianak. Setakat ini, Harti hanya diketahui sebagai Nyonya Singkawang.

Maka kalau dia pemegang KTP DKI, Pilkada 2004 ini – dia mesti ikut Pilkada DKI, kalau pemegang KTP Singkawang, dia harus ikut nyoblos di Pilwako Singkawang. Artinya tidak dalam partisipasi pemilihan Walikota/Wakil Walikota Pontianak. Yach, bagaimana warga mesti memilih dirinya, sedangkan dia sendiri tidak memilih dirinya.

Suara publik menyebut Mulyadi gegabah, salah pilih pasangan, sehingga maju kena mundur kena. Maka pada konteks heat to heat Pilwako Kota Pontianak 2024 kini, berlakukah pribahasa Jangan Mengharap Burung yang Terbang, Punai di Tangan Dilepaskan.

Punai dimaksud diartikan bagi yang sudah diketahui pasti kinerja dan dedikasinya untuk Pontianak lebih Berseri, incumben Ir.H.Edy Rusdi Kamtono.,MS.i – H.Bahasan, SH.*(pontianak,24/11-2024)

Pilwako Pontianak, Incumben Edi Kamtono Diprediksi Menang Telak Sampai 70%

Edi Kamtono Masih Diharapkan Memimpin Kota Pontianak

Edi Kamtono – Bahasan untuk Pontianak Sejahtera dan Bahagia

Kilas Balik Pidato Edi Kamtono Terkait Hari Jadi Kota Pontianak

Facebook Edi Kamtono dan Sultan Melvin Diretas Penipu

Comments
Loading...