AKSIBORNEO – “Luapan emosi Fitriani Boru Sijabat nyaris tak terbendung dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang mempertemukan orangtua korban keracunan di Berastagi dengan pemerintah dan pelaksana program Makan Bergizi Gratis (MBG) di DPRD Karo, Senin (7/9-26)”
KASUS ini merupakan kelanjutan dari tragedi keracunan massal yang menimpa ratusan pelajar di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang terjadi pada Kamis, 13 Agustus 2026 lalu. Hingga kini korban keracunan MBG masih menjalani pengobatan karena kondisinya makin parah.
Jika pada pertengahan Agustus video seorang ibu (Fitriani Boru Sijabat) yang histeris dan memarahi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono di Rumah Sakit Evarina sempat viral karena menuntut jenis racun apa yang masuk ke tubuh anaknya.
Fakta medis terbaru pada awal September 2026 justru menunjukkan kondisi para korban yang semakin parah setelah sempat diperbolehkan pulang.
Fakta Medis Terbaru Kasus Keracunan di Karo Berdasarkan hasil pemeriksaan klinis mendalam yang dirilis pada 5–6 September 2026, penderitaan para siswa korban keracunan MBG di Berastagi ternyata belum selesai dan memicu komplikasi organ dalam yang sangat serius. Mereka adalah :
Agnesia Paruliana br Silitonga, berdasarkan hasil pemeriksaan di RS Evarina, dokter mendiagnosis siswi tersebut mengalami gangguan ginjal (kerusakan ginjal) akibat efek lanjutan keracunan. Sehingga ia disarankan untuk segera dirujuk ke dokter spesialis ginjal di Medan.
Feby br Purba. Setelah dirujuk ke RSUP H. Adam Malik Medan, tim dokter menemukan adanya paparan racun jamur yang menyerang saraf kepala (gangguan memori/ingatan). Ia diwajibkan menjalani kontrol rutin selama 6 bulan hingga 1 tahun.
Karissa Zefania br Aritonang. Mengalami komplikasi gangguan jantung yang memburuk secara signifikan pasca-insiden keracunan tersebut.
Pemerintah Tak Bertanggung Jawab, Hanya Pengobatan Darurat Petama
Kemarahan para orang tua kembali meluap pada minggu pertama September 2026 saat mereka mendatangi Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD Kabupaten Karo.
“Anak sayalah yang kenal ginjalnya. Dimana hati nurani kalian. Ini Anakku sekarang lemah di rumah. Ini tentang nyawa pak. Anak saya sudah tiga kali bolak balik ke rumah sakit,” kata Fitriani meluapkan emosinya pada pemerintah dan Kepala SPPG, Polres Karo yang hadir dalam RDP tersebut.
Selain karena syok melihat fungsi organ vital seperti ginjal dan saraf anak mereka rusak, para orangtua kini terlantar menghadapi kendala biaya pengobatan lanjutan.
Bantuan pengobatan gratis dari pemerintah dikabarkan hanya menanggung perawatan darurat pertama saat awal keracunan terjadi, sementara pengobatan intensif jangka panjang untuk pemulihan ginjal dan saraf kini harus ditanggung sendiri oleh keluarga korban yang kurang mampu.
Sebagai informasi tambahan, investigasi awal dari pihak BGN dan kepolisian menduga kuat bahwa biang keladi keracunan massal ini bersumber dari menu ikan yang tidak disimpan di mesin pendingin (freezer) lebih dari 12 jam di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wilayah tersebut.
Sementara Kepala SPPG Berastagi dilaporkan telah dicopot dari jabatannya namun bukan menjadi tersangka.*infoindonesia
