AKSIBORNEO – “Seiring pertumbuhan penduduk kota Pontianak yang terus bertambah, yang hingga kini tercatat sudah menyapai angka 672 ribu, produksi sampah juga ikut mengalami peningkatan.”
HAL itu disampaikan juga oleh Walikota Edi Rusdi Kamtono dalam kesempatan ketika membuka kegiatan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2022, Gang Belibis/Jalan Merdeka Barat, Kelurahan Tengah Kecamatan Pontianak, Ahad (22/2-2022).
Baca artikel terkait :
Edi Kamtono Gagaskan Beri Efek Jera Warga yang Buang Sampah Sembarangan: Viralkan!!
Secara teoritis, kata Edi Kamtono, satu orang setidaknya memproduksi sekitar 2,5 kilogram sampah per hari. Di Kota Pontianak, sampah yang diproduksi oleh masyarakat dari berbagai aktivitas, rata-rata 360 hingga 400 ton yang dihasilkan dalam sehari, 80 persen sampah dikelola di TPAS (Tempat Pembuangan Akhir Sampah) di Batu Layang, Pontianak Utara.
Oleh sebab itu, paparnya, berbagai upaya dilakukan pemerintah. Bahkan mengerahkan bagaimana sampah ini bisa terkelola dengan baik, sehingga tidak menimbulkan permasalahan, seperti kekumuhan atau timbulnya penyakit dan lain sebagainya.
Edi juga menjelaskan, ada bermacam teknik atau metode dalam pengelolaan sampah, Diantaranya Reuse, Reduce dan Recycle (3R), komposting, pengelolaan gas metan dari sampah dan sebagainya.
“Kita memikirkan bagaimana caranya sampah ini, terutama pada generasi muda, bisa mempersepsikan sampah bukan merupakan benda yang tidak berguna, tetapi benda yang bisa dikelola menjadi bermanfaat dan bernilai. Mulai dari rumah tangga hingga di pembuangan akhir,” ungkapnya.
Dia berharap melalui HPSN menjadi momen untuk mengingatkan semua, betapa pentingnya peduli terhadap lingkungan. Banyak cara dan inovasi yang bisa dilakukan untuk menjaga lingkungan. Salah satunya memperbanyak penanaman pohon, mengedukasi masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dan langkah-langkah lainnya.
“Mudah-mudahan dengan momen ini kita bisa berbuat optimal untuk mengerti tentang sampah, dan bagaimana cara kita mengelola sampah serta menjadi role model lingkungan di masyarakat,” tutupnya.
Kerjasama dengan Swedia
Dari dokumentasi AksiBorneo diketahui, Pemkot Pontianak pernah menjalin kerjasama dengan Pemkot Boras (Swedia) dalam hal pengolahan sampah serta air bersih, yang dituangkan dalam Letter of Intent (LOI) pada Oktober 2012.
Sebagai tindak lanjut kerjasama tersebut, digelar launching Clean and Green Equator City (CGEC) di Tugu Khatulistiwa, Pontianak Utara, Senin (3/3-2014).
“Kehadiran rombongan dari Swedia ini dalam rangka kerja sama pengolahan sampah serta air bersih. Jadi sehingga nyaman untuk bermukim,” kata Edi Kamtono yang kala itu masih wakil walikota Pontianak yang menyertai rombongan.
Dijelaskan Edi, bentuk kerja sama ini berupa masukan-masukan dari Pemerintah Kota Boras – Swedia terkait penanganan pengolahan sampah maupun air bersih.
“Kita saling bertukar pikiran dan yang kita harapkan ada bantuan-bantuan dari pemerintah pusat bersinergi dengan Pemkot dalam penerapan Clean and Green Equator City ini,” jelasnya.
Dia menilai selama ini pengolahan sampah belum dikelola secara maksimal, namun dengan adanya kerjasama dengan Pemkot Boras – Swedia ini diharapkan memberikan masukan-masukan berharga terkait pengolahan sampah secara efektif.
“Yang kita harapkan dari Swedia bisa berupa teknologi, transfer ilmu dan pendanaan juga,” tutur Edi.
Salah satu cara pengolahan sampah, yakni bagaimana mengolah sampah tersebut menjadi sesuatu yang bermanfaat, misalnya penerapan sistem reuse, reduce, dan recycle (3R) menjadi salah satu solusi pengelolaan sampah, di samping mengolah sampah menjadi kompos atau memanfaatkan sampah menjadi sumber Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTS).
“Kita berupaya sampah itu menjadi energi, kompos dan sebagainya. Jadi tidak seratus persen dibakar atau dibuang tetapi kita manfaatkan sampah itu,” ungkap Edy Kamtono..
Wakil Walikota Boras, Swedia – Tom Andersson mengatakan, kunjungannya sebagai bentuk kerja sama dalam memberikan pemahaman terkait bagaimana masyarakat mengubah pola pikirnya tentang sampah.
“Kita mencoba memberikan masukan-masukan terkait pengolahan sampah yang baik, bagaimana menjadikan sampah organik ke bio gas untuk energi listrik dan bahan bakar kendaraan,” pungkas Tom.*AB
