AKSIBORNEO – “Sudah sekitar antara 7-8 tahun terakhir ini santapan nasi ayam geprek populer dan favorit di seluruh pelosok tanah air, mengapa?”
BILA ada pertanyaan seperti itu, mengapa? Jawabannya sederhana saja, murah meriah, terjangkau isi kocek wong cilik dibandingkan harga makan di restoran.
Apa sih yang dimaksud dengan geprek itu. Geprek menurut bahasa daerah Jawa sehari-hari artinya hancur – dihancurkan, dilumatkan – ditekan-tekan, digeprek.
Adapun ayam geprek adalah ayam goreng yang dilapisi tepung yang digarami sedikit. Si ayam goreng kemudian dihancurkan, dihancurkan dalam arti kata dilumatkan atau dilembutkan dengan cara ditekan-tekan di ulekan.
Ayam goreng tersebut digeprek bersama cabe rawit yang sudah diulek lebih dahulu. Lezatnya tergantung bagaimana penjual mengolah cabe rawitnya menjadi sambal.
Entah di mana rahasianya, bisa jadi karena cabe rawitnya yang diulek dengan tomat goreng, sehingga menjadi sambal tomat.
Namun, tak semua sambal tomat rasanya sama pada setiap penjual ayam geprek. Sebab, ada konsumen yang mau membeli atau makan ayam geprek di tempat tertentu saja, tak mau di tempat lain.
“Rasanya beda, kalau yang di sini sambalnya enak”, kata seorang emak-emak kepada AksiBorneo di sebuah lapak gerobak dorong di Pontianak, Kalimantan Barat.
Harga santapan kering, tanpa kuah ini pun tak menggigit dompet, cukup dengan uang Rp10,000.- sudah bisa bikin kenyang.
Lalu, dimana untungnya si penjual ayam geprek plus nasinya dengan harga semurah itu?
Ternyata dari sekilo atau sekor ayam potong yang dibeli si pedagang ayam geprek dengan harga sekarang Rp.30,000.-/kilo, bisa menghasilkan 14 sampai 16 potong ayam untuk digoreng dan digeprek.
Nah, jika dari per-ekor ayam rata-rata bisa 15 potong saja, berarti menghasilkan 15 porsi nasi ayam gemprek atau senilai Rp.150,000.-, plus 1 kg beras bisa untuk nasi 10 porsi dari harga beras yang pulen saat ini Rp.16,000.-/kg atau Rp.1,600,-/porsi plus sepotong ayam geprek Rp.1.500,- sama dengan modal menjadi Rp.3.100,-/porsi.
Kalau dihitung secara matematik anak sekolah tingkat SD, besar juga keuntungannya, Rp.10,000,-/porsi dikurang modal Rp.3,100.-/porsi sama dengan untung atau laba Rp.6,900,-/porsi.
Namun, tidak demikian kenyataannya. Karena masih ada modal lain yang belum dihitung, yaitu harga minyak goreng, cabe dan tomat, garam dan bumbu penyedap, gas dan dua pembantu bila perlu. Belum lagi sewa tempat, dan atau bikin sendiri meja kursi, serta kantong plastik dan kotak plastik – dimana rata-rata pembeli untuk dibawa pulang. Masih ada lagi, yaitu air leding untuk cuci piring atau gelas.
Hitung-hitung dapat meraih keuntungan sekitar Rp.4,000,-/porsi. “Itu kalau harga cabe rawit tidak sedang main gila. Tapi kalau harga cabe rawit atau tomat tengah melambung, ya buntunglah”, kata seorang penjual nasi ayam geprek gerobakan.
Menurut cerita seorang penjual nasi ayam geprek yang laris di Kota Pontianak, dari jam 10.00 pagi sampai sore pernah terjual 600 porsi atau mengantongi keuntungan bersih Rp.2,400,000.- Tapi itu mujur-mujuran, artinya bukan setiap hari begitu.
“Kalau bisa segitu tiap harinya, wah kaya saya”, ceritanya sambil tertawa.
Menurutnya, biasanya antara 150 – 300 porsi saja. Beberapa kali juga apes, hanya puluhan porsi, apalagi kalau musim hujan lebat.
Dia pernah hancur pada waktu pandemi covid-19 yang lalu, selama dua tahun, karena pembeli tidak boleh makan di tempat, mesti take out alias bungkus dan pulang. Terjual antara 4 sampai 6 porsi atau tak sampai seekor potongan ayam.
“Terpaksa selama itu tutup total. Ya, pasrah saja”, cerita pria beranak dua ini yang kini mulai bangkit lagi.
Asal Mula Nasi Ayam Geprek
Dipetik dari WIKIPEDIA Sebagian sumber menyebut bahwa hidangan ayam geprek bermula di Kota Yogyakarta, hasil kreasi Ruminah atau dikenal sebagai Bu Rum.
Pada 2003, Bu Rum awalnya menjual lotek, soto, dan ayam goreng tepung di warung makannya. Ia kemudian diminta oleh seorang mahasiswa asal Kudus untuk menambahkan sambal ulek di atas ayam goreng tepungnya dan melumatkannya menggunakan ulekan.
Hidangan ayam goreng tepung yang dilumat bercampur sambal ini awalnya sempat pula disebut sebagai ayam ulek atau ayam gejrot.
Hidangan ayam geprek menjadi populer di Indonesia sekitar tahun 2017. Banyak restoran lain di seluruh Indonesia yang turut menyajikan hidangan ini.Beberapa gerai yang menjual ayam geprek juga menyediakan variasi baru, seperti menambahkan keju mozzarella dan kol goreng.***
Laporan : Lailani (ela)
Editor: Effendy Asmara Zola
