Exclusive:
AKSIBORNEO – “Kabar meninggalnya AKBP (Purn) AKBP Andi Harun, SH yang disampaikan kepada saya hari ini, Selasa (5/11-2024) malam, benar-benar sungguh mengejutkan.”
BETAPA tidak, baru saja sehari sebelumnya, Senin (4/11-2024) pagi, di sebuah cafe kami berbincang masalah hukum dan sedikit terkait perkembangan politik tanah air belakangan ini.
Kemarin pagi itu, dia dalam kondisi fit, sehat wal afiat sampai kami berpisah sekitar pukul 10.30 WIB, karena setengah jam lagi katanya, dia akan ke RS Bayangkara mengurus cucunya yang dirawat di situ.
Malam ini sekira jam 21.30 WIB seorang pengacara memperlihatkan postingan dari grup WA Fak.Hukum Universitas Panca Bhakti UPB), bahwa Andi Harun telah tiada : Assalamualaikum wr WB, sy anak Pak Andi Harun. Sy ingin menginformasikan kabar duka bahwa bapak sy telah meninggal dunia jam 14.30, sy mewakili beliau mohon maaf apabila semasa hidupnya bapak sy pernah menyakiti hati bpak/ibu yang ada di grup ini.
Dalam senda-gurau sehari-hari, almarhum biasa menyebut saya dengan panggilan Abang Senior, maksudnya senior alumni Fak.Hukum UPB.
Kini dia, AKBP (Purn) Andi Harun, SH, dalam usia 66 tahun telah berpulang ke haribaan Illahi rabbi, tanpa cela! Meninggalkan seorang isteri, seorang anak putera dan 3 puteri serta 9 cucu.
Berikut, kilas balik perjuangan seorang anak dari kalangan the have not, hingga berhasil menjadi anggota polisi berpangkat dua melati emas di krah baju seragamnya, yang pernah saya ungkap di media ini tiga bulan lalu, tanpa diedit :
“Siapa pun berhak untuk menjadi kepala daerah pada semua tingkatan, asalkan memenuhi persyaratan yang telah ditentukan oleh undang-undang.”
HAL tersebut karena merupakan hak konstitusi setiap warganegara asli, asalkan memenuhi syarat pendidikan yang telah ditentukan – bukan abal-abal yang berijazah aspal alias asli tapi palsu.
Di Kalimantan Barat (Kalbar), tersebutlah diantaranya seseorang yang ingin berpartisipasi menggunakan hak hukumnya tersebut, yaitu AKBP (Ajun Komisaris Besar Polisi – Purnawirawan) Andi Harun AR, SH siap maju berkontestasi sebagai bacawako (bakal calon walikota) Pontianak 2024-2029.
Ada catatan menarik pada AKBP (Purn) Andi Harun AR, untuk diketahui lika-liku dirinya berprikehidupan yang gigih dan ulet sampai menyandang pangkat dua melati emas di pundaknya, dan meraih gelar SH (Sarjana Hukum).
“Budak asli Pontianak” ini bukanlah dari keluarga the have. Dia menempa kehidupan mulai dari berkayuh sampan menjual kayu bakar, dan loper koran hand set pada masanya yang hanya dua halaman.
Harun yang di masa kecilnya dipanggil dengan nama Sahar adalah anakke-5 dari 9 bersaudara. Initial A.R yang melekat di belakang namanya adalah nama ayahnya, Abdul Rahman (almarhum), dan Sa’diah – ibunya (almarhumah).
Harun lahir di Pontianak pada tahun 1958, mulai sekolah pada tahun 1965 di usia 7 tahun.
Di sekolah, dia nyambi berjualan pisang goreng dan es krim lidi untuk membantu nafkah orangtuanya.
Pulang dari sekolah dia ke hutan di sekitar kampungnya Gang Mempelam – Sungai Jawi, mencari kayu bakar dan daun simpur untuk dijual. Kala itu belum ada kantong kresek pelastik, daun simpur adalah pembungkus.
Tamat SD Harun beruntung dapat masuk STN (Sekolah Teknik Negeri), sederajat SMP.
Subuh dia sudah pergi ke komplek Kantor Walikota, memungut kertas-kertas bekas untuk dijual kepada penjual rempah-rempah di pasar tradisionil yang kala itu dikenal dengan nama pasar pagi atau pasar senggol. Setelah itu, barulah dia berkayuh sampan ke STN di Siantan, sekarang Pontianak Utara.
Dari pencari kertas bekas, Harun ditawari beberapa wartawan di Pontianak untuk menjadi loper (pengantar koran) yang terus ditekuninya. Harun pun mulai mengenal motto hidup: Ihlas, Ulet, Jujur, dan Sabar.
Setelah menempuh pendidikan 3 tahun di STN, 1975 Harun melanjutkan ke SUPM (Sekolah Usaha Perikanan Menengah), dengan harapan setamat dari sana bisa melamar kerja pada Dinas Perikanan.
Namun apa daya, Harun tak dapat menggapai cita-cita jadi PNS. Kelas dua, dia putus sekolah karena tiada biaya yang cukup dari hasilnya sebagai loper dan penjaja koran.
Adalah Abdul Gafur, wartawan/pimred suratkabar mingguan KEMUDI di Pontianak kala itu, terenyuh dan tertarik pada keuletan Harun. Dia ditawari masuk polisi. Kedua orangtua dan saudara-saudaranya setuju dan merestui.
Dengan good will Abdul Gafur, Harun berhasil masuk Sekolah Polisi Negara (SPN) di Pontianak.
Pada 1978 yang mestinya tamat SUPM, justru dia selesai pendidikan SPN (Sekolah Polisi Negara) di Pontianak dengan pangkat Bharada.
Tak puas dengan pendidikan STN yang sederajat SMP, setelah lulus Scaba (Sekolah Calon Bintara), dia masuk KPAA (Kursus Pegawai Administrasi Atas) dua tahun di Pontianak pada 1990.
Selanjutnya dia ikut pendidikan Capa (Calon Perwira) pada 1993, dan berhasil menyandang pangkat Letda.
Sayang, kedua orangtua Harun tak sempat melihat anaknya berpangkat tinggi di kepolisian, karena telah berpulang ke Rahmatullah tatkala sang putera baru lima tahun mengabdi di kepolisian.
Harun yang gigih dan ulet menyempatkan diri kuliah di kelas malam Fak.Hukum Universitas Panca Bhakti (UPB) Pontianak, sementara jenjang pangkat dan berbagai jabatan dilaluinya.
Dia yang menyunting Mardiana S.Pd – guru SMP, berhasil menyelesaikan pendidikan anak-anaknya ke jenjang S-1, seorang putera dan 3 puteri. Telah pula dikaruniai beberapa cucu.
Harun yang dulu sibuk berjaja koran, berikutnya rajin menyimak berbagai berita media, terkait Hukrim (hukum dan kriminal) dan sebagainya.
Lama tak berjumpa dengannya yang dulunya cuma berpangkat sepalet, tersemat kagum ketika pada 2013 berjumpa lagi di kantor khususnya dengan jabatan mentereng, Kepala BNNK (Badan Nasional Narkotika Kota) Pontianak dengan nama dan pangkat AKBP (Ajun Komisaris Besar Polisi) Andi Harun AR, SH.
Andi Harun masih seperti yang dulu, bersahaja apa adanya,rendah hati dan tetap merakyat.
Andi Harun pantang diam, dia tak luput mesti berada di tengah-tengah masyarakat sebagai orang intel.
Untuk itu dia memimpin dan atau membina beberapa organisasi masa hingga sekarang, antara lain KSB (Koperasi Sejahtera Bersama) yang sudah ada sejak 2005, INAKER ( Indonesia Kerja) Kalbar – merupakan gerakan masyarakat sipil yang berorientasi pada terbangunnya kedaulatan poleksosbud bangsa, Persatuan Artis Dangdut Musisi Indonesia (Padmi) Kalbar, Yayasan Forum Perbaikan (Yafpan) Kalbar yang bergerak di bidang sosial – perbaikan semua aspek, Forum Masyarakat Anti Narkoba (Formas) Kota Pontianak, dan Yayasan Rehab Berbasis Masyarakat (RBM) Khatulistiwa Pontianak – anggota solid, korban narkoba sudah banyak berhasil sadar menuju kebaikan.
Tiga tahun berkecimpung memimpin BNN Kota Pontianak, 2013-2016, Andi Harun kembali ke induk kesatuan, bidang intelijen kepolisian di Kalbar ini.
AKBP Andi Harun AR, SH., purna tugas atau pensiun pada 2018 setelah 32 tahun mengabdi di Kepolisian RI.
AKBP (Purn) Andi Harun AR, SH., kemudian duduk di Dewan Pakar PKS (Partai Keadilan Sejahteraan) Prov.Kalimantan Barat. Kini salah satu bacawako (bakal calon walikota) Pontianak 2024-2029 dan mendapat dukungan moral dari banyak kalangan, juga suport dari kawan-kawan sealmamaternya – Universitas Panca Bhakti (UPB) Pontianak.
“Aku sekarang nih Bang, di Dewan Pembina KSS (Keluarga Sulawesi Selatan), baru saja pelantikan pengurus baru di pendopo”, katanya dalam kesempatan kami berjumpa yang ternyata merupakan pertemuan terakhir kami berdua hari itu, Senin (4/11-2024) pagi.
Inalillahi wa ina ilaihi rojiun. Semoga amal ibadahmu semasa hidup mendapat ganjaran dari Allah SWT. Diampuni dan dimaafkanNYA segala dosa dan kehilafanmu. Diberi ketabahan bagi keluarga yang ditinggalkan. Aamiin Allahuma Aamiin.!* (Pontianak, Selasa (5/11-2024), 23,45WIB)
