Banner Event

Banjir Durian di Pontianak Harga Anjlok, Volume Sampah Meningkat

DUA bulan sebelumnya, antara Oktober – November 2024. Ibukota Provinsi Kalimantan Barat ini ‘dihujani’ mangga berbagai jenis dari Jawa Barat, seperti Harum Manis, Indramayu, dan lainnya.  Harganya pun anjlok rata-rata Rp.8.000,- – Rp.10.000,-  yang biasanya menyapai Rp.25.000,-/kg – Rp.30.000,-/kg

Kini Kota Pontianak dibanjiri buah durian asal Balaikarangan, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Mulai merebak pada Desember tahun lalu, dijual orang di sejumlah titik di sepanjang jalan dalam kota hingga ke kabupaten terdekat dengan Pontianak, Kabupaten Kubu Raya.

Penghujung tahun 2024, boleh disebut merupakan panen raya durian asal Desa Balai Karangan yang terkenal dengan duriannya itu. Harga pun anjlok berjenjang dari Rp.5.000,-/buah – Rp.20.000,-/buah setelah jatuh ke tangan pengepul atau pedagang buah. Di hari-hari biasa, antara Rp.10.000,- – Rp .40.000,-/buah.

Menariknya, para penjual buah juga membuka lapak di kawasan Pal V (Km5) pinggiran Kota Pontianak, sepanjang Jalan Husin Hamzah. Padahal Pal V ini merupakan kawasan kebun durian yang buahnya dikenal sebagai Durian Pal V.

Namun saat ini, durian Pal V belum lagi pemetikan yang diperkirakan akhir bulan ini baru panen.

Durian Pal V dapat mengalahkan durian Balaikarangan, baik ukuran, manisnya, maupun daging buahnya yang kenyal pada biji yang kecil. Hingga tak heran harga perbuah bisa menyapai Rp.30.000,- – Rp.50.000,-/buah.

Seiring banjir buah durian, kota ini dibanjiri pula dengan rambutan yang dihargai antara Rp.3.000,-/ikat – Rp.10.000,-/tiga ikat, per-ikat sekitar 15 buah/tangkai. Kebun rambutan sendiri banyak dimiliki para pekebun atau tanaman warga kota dipinggir-pinggir kota Pontianak.

Bersamaan pula dengan panen  langsat atau duku yang perkebunannya banyak di Desa Punggur Kabupaten Kubu Raya, masih dalam bilangan pinggiran Kota Pontianak.

Langsat, harganya normal-normal saja yang biasa dijual Rp.20.000,-/3kg. Mirisnya, para pekebun atau pemilik kebun langsat banyak yang jadi korban tengkulak buah. Mereka sudah membayar sewa kontrak kebun langsat untuk beberapa tahun dan memetik hasil buah kontrakan mereka.

Tragisnya kebun-kebun durian, langsat, dan rambutan di Pontianak dan sekitarnya kian lama kian menghilang atau berkurang, karena tanah kebun mereka dijual kepada pengembang perumahan yang berkembang terus seiring pertambahan populasi penduduk.

Banjir buah di ibukota Provinsi Kalimantan Barat ini tak luput merupakan penambahan peningkatan volume sampah musiman.

Banyak penggemar buah durian yang makan di tempat atau membeli isinya. Pulang membawa durian tanpa kulit, dimasukan kedalam wadah yang disediakan tiap pembeli. Fakta ini dapat dilihat adanya penumpukan kulit durian di sekitar lapak penjualan durian.

Namun patut juga diacungkan jempol, warga kota ini sadar untuk hal menjaga kebersihan, sehingga tidak membuang sampah sembarangan. Tumpukan sampah kulit buah-buahan dan sampah rumah tangga dibuang ke tempat pembuangan sampah sementara (TPS) yang ada di dalam kota.

Dari catatan yang ada pada Redaksi volume sampah di kota ini menyapai 406,76 ton/hari pada tahun 2023, dan meningkat pada 2024 di angka 411,96 ton/hari. Kondisi ini seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya kegiatan usaha masyarakat.*

Reporter : Lailani Layla

Editor : EAZ

*Pemkot Pontianak Keluarkan Surat Edaran Larangan Penggunaan Kantong Plastik

*Tindak Lanjut SE Walikota Pontianak 2024, Idul Adha Tanpa Sampah Plastik

*Diskusi Daun Simpur Tali Bundung  

Comments
Loading...