AKSIBORNEO – “Kementerian Kesehatan RI mengirim lebih dari 5 juta masker dan juga oksigen konsentrator ke daerah-daerah terdampak asap Karhutla.”
HAL tersebut diungkap Meskes Budi Gunadi Sadikin di Kemenkes RI di Jakarta, Selasa (1 September 2026)
Budi mengatakan masyarakat tetap dapat terpapar polusi udara, baik saat berada di sekolah maupun di rumah. Karena itu, penggunaan masker menjadi salah satu upaya untuk mengurangi paparan partikel berbahaya.
Menurut Budi, masker diperlukan untuk membantu menyaring partikel PM2.5 yang terdapat dalam polusi udara akibat asap karhutla.
“Yang penting harus pakai masker supaya partikel-partikel PM2.5-nya itu yang bahaya bisa tersaring,” ujarnya, dilansir infoindonesia.
Kemenkes juga telah berkoordinasi dengan dinas kesehatan di. Lebih dari 5 juta masker disebut telah didistribusikan untuk membantu melindungi wilayah terdampak masyarakat.
Oksigen Konsentrator Disiapkan Selain Masker,
Pemerintah juga mengirimkan oksigen konsentrator ke wilayah terdampak. Peralatan tersebut disiapkan untuk membantu masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.
Budi menjelaskan bantuan oksigen diberikan bagi masyarakat yang sudah mengalami dampak kesehatan akibat kondisi udara.
“Kalau yang sudah terkontaminasi atau terkena, yaitu kita bantu dengan bantuan oksigen,” katanya.
Anak Diminta Tetap Pakai Masker
Budi secara khusus mengingatkan, anak-anak untuk menggunakan masker ketika berada di tengah kondisi udara yang tercemar asap karhutla.
Menurut dia, penggunaan masker menjadi salah satu langkah pencegahan penting untuk mengurangi paparan polusi udara pada anak.
“Sama, jadi anaknya juga harus pakai masker. Itu pencegahannya yang terbaik,” kata Budi.
Sementara itu, terkait apakah sekolah perlu tetap menjalankan kegiatan belajar mengajar atau diliburkan selama kabut asap, Budi kembali menegaskan, bahwa keputusan tersebut bukan kewenangan Kemenkes. “Kalau sekolah enggak sekolah itu bukan wewenang saya,” pungkasnya.* infoindonesia
