AKSIBORNEO – “Setakat ini kualitas udara di kota Pontianak, masih dalam kategori berbahaya akibat Karhutla yang nyaris tak terkendali.”
SUDAH lebih hampir dua bulan kota Pontianak dan 14 kabupaten/kota yang ada, mengepung dengan kabut asap tebal yang menekan jarak pandang lalu-lintas darat, laut, dan udara.
Hingga Ahad, 13/9-2026, jarak pandang cuma antara 300 – 500 meter yang berbahaya bagi penerbangan keberangkatan maupun kedatangan dari dan ke bandara “Supadio” Kubu Raya, Pontianak.
Jarak pandang hampir tak berbatas di atas Sungai Kapuas dan Landak yang mengering. Angkutan pasir yang menggunakan tongkang ditarik ponton, terkendala oleh kondisi sungai di pehuluan yang terpantau bagaikan lapangan sepak bola.
Di sektor pengerjaan bangunan, kondisi perekonomian masyarakat terasa menekan baik untuk proyek-proyek swasta maupun pemerintah.
Pasir lokal yang tersisa hasil keruk dari sungai di Kabupaten Kubu Raya, yang tadinya Rp.350.000,- – Rp.450.000,- per/pikap, melonjak menjadi Rp.450.000 – Rp.550.000.-/pikap. Belum lagi kendala yang dihadapi perusahaan pertambangan dan atau perkebunan yang tergantung transportasi sungai.
Tak luput anak-anak usia sekolah semua tingkatan baik sekolah negeri maupun swasta, dikhawatirkan terpapar dampak kabut asap Karhutla yang sudah hampir 2 bulan menjadi momok gangguan kesehatan.
Kabut asap yang bermuatan partikel berbahaya, tak hanya menggerayangi jalanan dan ruang-ruang terbuka lainnya, tapi juga menerobos masuk ke rumah-rumah melalui pentilasi atau pintu-jendela yang kelupaan ditutup.
Gangguan kesehatan akibat terisap kabut asap dapat dirasakan sendiri, adanya gejala utama Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) meliputi batuk, pilek, serta sakit tenggorokan.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak Saptiko, bahwa kasus ISPA saat ini mencapai 300 kasus per hari. Kondisi ini berkaitan dengan cuaca dan tingginya paparan asap. Angka ini menunjukan lonjakan 10% dari cuaca normal sebelumnya 200 kasus.
Walikota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, mengkhawatirkan anak-anak terpapar ganguan pernapasan, mengambil langkah cepat sejak awal kabut asap menebal.
Para siswa semua tingkatan mulai TK/SD hingga SLTA negeri maupun swasta diliburkan, dengan catatan harus tetap belajar di rumah dengan sitem daring.
Libur yang dimulai pada tanggal 10 hingga 17 Agustus 2026 dan masuk kembali pada tanggal 18 Agustus, ternyata alam masih tak bersahabat. Sehingga diliburkan lagi mulai 24 hingga 29 Agustus.
Kondisi udara yang mengkhawatirkan sementara upaya pemadaman Karhutla terus dilakukan, baik oleh pemerintah sendiri maupun bantuan dari 10 negara sahabat, libur solah diperpanjang lagi pekan per/pekan selama 3 pekan.
Total sudah 5 pekan kegiatan belajar dan mengajar dilakukan dengan sistem daring hingga saat ini, Selasa 15 Sepember hingga sampai dengan waktu yang akan ditentukan lagi nantinya tergantung kondisi udara. Namun, hujan deras sekitar 15 menit antara pukul 18.15 – 18.30 WIB, Ahad (13/9-2026), tak berpengaruh meredakan kabut asap. Hingga pagi sampai siang hari ini, Selasa (15/9-2026), kota Pontianak masih dikepung kabut asap tebal kiriman dari beberapa titik api Karhutla yang belum padam di Kalimantan.*
