Banner Event

Unjuk Rasa Guru Tutup MBG! Guru Tak Punya Wadah Mengadu dan Takut Diintimisasi

BARU-baru ini, foto dan video sejumlah sekolah yang mulai menolak MBG berseliweran di banyak akun di media sosial. Pesan utamanya, MBG yang baru dikirim itu sudah tidak layak makan.

Di sejumlah daerah, sekolah dan orang tua murid kompak menolak MBG usai mengalami keracunan massal.

“Ada yang buka suara secara terang-terangan, melaporkan secara anonimitas atau lewat rekan, dan membentuk aksi nyata bawa bekal dari rumah”,dipetik dari BBC. 

Dalam kasus lainnya, para guru ikut buka suara. Mereka melakukan pemungutan suara di sekolah untuk orang tua murid: menghentikan atau melanjutkan MBG.

Pada kesempatan lain, sebagian orang tua juga memulai gerakan bawa bekal dari rumah, agar anak-anak mereka tidak berakhir di rumah sakit.

Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mengumumkan telah mendapat laporan dari 100 guru tentang “betapa merusaknya MBG terhadap pendidikan di Indonesia”.

Program andalan Pemerintahan Prabowo-Gibran dinilai mengganggu kegiatan belajar mengajar.

Laporan ini menandai posisi guru yang tak punya wadah mengadu. Saat buka suara mereka harus menghadapi “intimidasi pihak-pihak yang punya kuasa”, menurut JPPI.

Lembaga yang fokus isu pendidikan itu menilai gelombang penolakan MBG tak lepas dari kasus keracunan yang mencapai 50.000 orang tanpa tanggung jawab hukum. Ironi lainnya, guru dengan gaji minim harus menyaksikan sebagian makanan MBG harus berakhir di tempat sampah.

Dalam satu pekan terakhir, kasus dugaan keracunan MBG di sejumlah daerah telah memunculkan gambaran kemarahan wali murid. Mereka gelisah, pasrah, tapi juga tidak bisa tinggal diam.

Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat

Ratusan siswa dari beberapa sekolah di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, diduga keracunan usai menyantap MBG pada Jumat (11/09-2026).

Insiden itu memicu kemarahan wali murid. Mereka minta MBG dihentikan, atau diubah skemanya.

Inaq Raya misalnya, yang mengantar anaknya hingga ranjang perawatan, meminta kejadian keracunan MBG tak berulang. Cukup anaknya yang terakhir menjadi korban.

“Kalau bisa dihentikan sudah MBG ini. Soalnya di rumah tetap juga saya kasih menu yang bergizi, bukannya baru ada MBG, baru dia [anak] makan ayam, kita orang-orang kampung itu tetap makan ayam,” katanya saat ditemui di Puskesmas tempat anaknya dirawat, Jumat (11/09-2026).

Ia mengusulkan agar skema MBG diubah. Pemerintah cukup memberi uang tunai kepada orang tua murid untuk memproduksi bekal makanan dari rumah.

Wali murid lain yang cucunya keracunan, Mujiadi mengutarakan kecemasan keselamatan anggota keluarganya. Dia mendesak evaluasi menyeluruh pelaksanaan MBG.

“Sebagai wali murid, MBG ini perlu dievaluasi karena dari yang kita lihat dan di media sosial sudah banyak sekali korban dari MBG ini,” katanya.

Pati, Jawa Tengah

Gelombang meminta MBG dihentikan juga disuarakan wali murid SMP Negeri 1 Gembong dan MTS Negeri 3 Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Pada Rabu (09/09-2026), sedikitnya 233 siswa dan 13 guru mengalami keracunan setelah diduga mengonsumsi MBG yang dibuat SPPG Gembong 1 Ngembes.

Nasir, wali murid siswa SMP Negeri 1 Gembong mengeklaim sudah banyak orang tua tidak setuju program MBG.

“Kalau bisa ya ditutuplah,” katanya saat mengetahui keracunan MBG di sekolah cucunya.

“Orang tua itu, semua sebenarnya sudah keberatan.”

Saat insiden terjadi, Nasir mengatakan keluarga kebingungan mencari keberadaan cucunya dirawat karena kabar muntah-muntah. Kata dia, pihak keluarga sempat tidak memperoleh informasi memadai dari sekolah mengenai kondisi siswa, cucunya kelas 7A.

Beberapa narasumber meminta identitasnya dirahasiakan dengan alasan keamanan. Takut diintimidasi !*

Keracunan MBG Serang Ginjal dan Saraf Ingatan! “Dimana Hati Nurani Kalian?”

Hasil Lab Keracunan MBG, Ditemukan 3 Bakteri Berpotensi Membahayakan Anak-anak

Kisah Pilu Siswa Berprestasi Hilang Ingatan Setelah Mengonsumsi MBG

Comments
Loading...